
Di rumah Bunda
"Nila," panggil Bunda dari depan pintu kamar Alby.
"Iya, Bun," balas Nila dari dalam.
"Ayo, makan malam bersama," ucap Bunda setelah pintu terbuka terlihat menantunya yang sudah rapi menunggu kedatangan suaminya.
"Nila nunggu Mas Alby saja, Bun," balas Nila.
"Nanti lapar, kamu makan bareng Bunda saja sebentar lagi Alby juga pulang," ucap Bunda.
"Baik, Bun," balas Nila mengikuti ucapan mertuanya.
Mereka pun berjalan bersama menuruni anak tangga menuju dapur.
"Selamat malam, Mba," sapa Revan.
"Malam juga, Revan," balas Nila.
"Bun, Yah, Revan keluar dulu ya," ucap Revan.
"Mau kemana sih, Van?" tanya Bunda.
"Mau nongkrong bareng temen," jawab Revan.
"Nongkrong apa ngapel?" goda Bunda.
"Bunda tahu aja. Revan pamit ya, Bun," ucap Revan kemudian menyalami Ayah dan Bundanya terlebih dahulu sebelum keluar rumah.
"Anak kalau udah pulang pasti nggak pernah ketinggalan ketemu cintanya," ujar Bunda.
"Biarkan saja, Bun namanya juga anak muda," balas Ayah.
__ADS_1
"Memangnya siapa, Bun cintanya Revan?" tanya Nila yang penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan Azmia," jawab Bunda.
"Azmia mantan istri Mas Alby?" tanya Nila memastikan tentang ucapan Bunda.
"Iya, dia itu cintanya Revan sejak SMA," jawab Bunda.
Nila semakin memutar otak mendengar jawaban Bunda. Satu orang yang sama di cintai dua laki-laki Kakak beradik. Nila merasa bingung karena dia belum tahu kisah yang sesungguhnya terjadi pada Azmia, Alby dan Revan.
***
Di cafe lovely.
"Rud, tolong pesanan saya bawa ke atas," ucap Azmia lewat sambungan telpon. Tadi sebelum Ali dan Mamanya ke cafe. Azmia lebih dulu menyiapkan makanan dari hasil masakannya sendiri spesial untuk makan malam bersama Ali dan Mamanya.
"Di sini suasananya sangat bagus ya, Nak," ucap Mama Iren melihat suasana malam dalam balkon itu sangat indah.
"Panggil saja Mama," ujar Mama Iren meminta Azmia agar memanggilnya dengan sebutan Mama sama seperti Ali.
"Baik, Tan, eh, Ma," balas Azmia dengan sedikit canggung.
"Kamu tinggal di mana, Nak?" tanya Mama Iren.
"Mia tinggal di sini, Ma di cafe," jawab Azmia.
"Lho, memangnya kenapa nggak pulang ke rumah?" Mama Iren mulai penasaran tentang Azmia.
"Ke rumah siapa, Ma. Mia nggak boleh kembali ke rumah lagi," balas Azmia.
"Kenapa apa terjadi sesuatu?"
"Ceritanya panjang, Ma," jawab Azmia. Dia jadi teringat kembali kejadian bersama keluarga pranata yang sekarang entah apa kabarnya mereka. Azmia sudah lama sekali tak berkunjung ke rumah Pranata karena setiap ke sana di tolak oleh Mama Sonia.
__ADS_1
"Jangan bersedih, jika kamu butuh sesuatu kamu bisa hubungi Mama atau main ke rumah Mama, rumah kami terbuka lebar untuk mu, Sayang," ucap Mama Iren sambil mengelus lembut kepala Azmia.
"Terima kasih, Ma," balas Azmia. Ada rasa kenyamanan saat Mama Iren mengelus lembut kepalanya.
Sejak tadi Ali hanya berdiam melihat Mamanya dan Azmia mengobrol.
"Permisi, Mba Mia," ucap Rudi saat tiba di balkon bersama Nita membawakan pesanan Azmia.
"Iya, Rud," balas Azmia. "Sini biar saya bantu," ucap Azmia kemudian berdiri dari duduknya membantu Rudi dan Nita menyajikan makanan serta minuman di atas meja.
"Terima kasih ya, Rud, Nit," ucap Azmia setelah semua makanan tersaji di meja.
"Sama-sama, Mba. Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Rudi.
Azmia mengangguk.
"Mas Ali dan Mama harus nyobain masakan Mia," ucap Azmia.
"Ini kamu yang masak, sayang?" tanya Mama Iren.
"Iya, Ma. Spesial untuk Mama dan Mas Ali," jawab Azmia dengan tersenyum manis.
"Luar biasa, sudah cantik, mandiri, pinter, paket komplit," ucap Mama Iren sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Mama bisa saja," balas Azmia.
"Azmia memang paket komplit, Ma. Sungguh laki-laki yang kurang bersyukur sudah menyia-nyiakan wanita seperti dia," ujar Ali.
"Siapa lelaki itu?" tanya Mama Iren.
"Mas." Azmia menatap ke arah Ali seakan berkata agar Ali tidak membahas tentang masa lalunya.
Ali yang mengerti dengan tatapan Azmia dia pun langsung diam. "Mari makan, Ma!" Ali mengalihkan pembicaraan mempersilakan agar Mamanya segera makan.
__ADS_1