Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 168 Drakor riweh


__ADS_3

"Mas, kapan kita menikah bukankah Mas Alby sudah berpisah dengan Azmia?" tanya Rania sambil bergelayut manja di lengan Alby.


Kini mereka berdua telah berada di taman kota.


"Nanti. Sekarang kamu mau beli apa?" tanya Alby mengalihkan pembicaraan.


"Mau telur gulung saja," jawab Rania.


"Ok." Mereka berdua menghampiri tukang telur gulung. "Pak beli lima tusuk ya, sama sosisnya lima," ucap Alby.


"Siap, Mas."


Setelah mendapatkan telur gulung dan sosis mereka berdua duduk di salah satu bangku yang berada di area taman kota.


"Sampai kapan aku harus nunggu kamu, Mas?" Rania mulai membuka suara melanjutkan obrolannya lagi.


"Bisa nggak kalau kita jangan bahas tentang itu terus. Memangnya tidak ada topik lain apa untuk di bahas," ucap Alby.


"Mau bahas apa tentang kamu sama Azmia, kenapa kalian bercerai? kenapa Azmia menceraikan kamu? apa aku harus bertanya kenapa kamu tidak mempertahankan Azmia? Kamu memang tak pernah menganggap aku ada Mas, semenjak kehadiran Azmia hubungan kita tak seperti dulu lagi." Rania berkata dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Jangan menyalakan Azmia semua itu salah kamu. Aku bercerai juga karena kamu apa kamu kurang puas membuat dia menderita, membuat dia sengsara, membuat dia sakit hati. Azmia rela mengorbankan perasaannya demi kamu, mengorbankan masa depannya, cintanya hanya demi kamu, tapi kamu seakan tak pernah puas menyakitinya. Hingga dia pun rela bercerai demi kebahagiaan kamu. Harusnya kamu berterima kasih bisa memiliki saudara yang begitu menyayangi dan peduli padamu. Aku tak tahu hatimu itu terbuat dari apa sehingga menutup setiap kebaikan orang lain," jelas Alby dengan tegas setiap katanya.


"Kenapa Mas Alby jadi menyalahkan Nia?" Rania mulai menangis. Entah beneran atau hanya air mata buaya.


"Aku tidak menyalahkan kamu, tapi semua itu benar adanya, jangan berpikir aku tidak mengetahui semuanya. Kamu salah Rania jika kamu mau bermain-main dengan ku kamu salah orang," jawab Alby.

__ADS_1


"Maksud Mas Alby apa? Rania tak mengerti," ujar Rania.


"Apa kamu ingin membongkar semuanya. Mungkin memang inilah saat yang tepat untuk memberi tahu tentang kebusukan kamu," jelas Alby.


Rania terdiam tak menjawab. Dia menenangkan hati dan pikirannya agar tidak terpancing emosi.


***


Di cafe lovely


Setelah mengadakan rapat semua makan bareng menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Azmia, Karina, Angga, Devan dan Ali. Mereka berlima duduk dalam satu meja.


"Cafe ini milik lu, Ga?" tanya Ali.


"Cafe ini keren banget. Siapa yang desain, Ga?" tanya Ali.


"Si Azmia. Semua dia yang ngurus pokoknya sesuai keinginan dia saja," jawab Angga.


"Wih ... seleranya tinggi juga ya," ujar Ali.


"Begitulah, tapi dia lebih kesederhanaan sih nggak yang terlalu mencolok banget," balas Angga.


"Ngomongin apaan sih?" Devan yang baru datang antri mengambil makanan di ikuti Azmia dan Karina dari belakang.

__ADS_1


"Kepo lu, Dev," jawab Angga.


"Memangnya ada apaan, Bang?" tanya Azmia.


"Nggak apa-apa. Duduk sini!" Angga menggeser kursi di sampingnya menyuruh Azmia duduk di sebelahnya.


"Terima kasih," ucap Azmia dengan tersenyum kecil.


"Sama-sama."


"Si Melia nggak datang, Mi?" tanya Devan.


"Enggak, Kak. Tiba-tiba ada orang tua Kak Derry datang ke rumah mereka jadi nggak enak kalau di tinggal," jelas Azmia.


"Oh, seperti itu."


"Ini siapa masak enak banget lho," ucap Alif setelah memasukkan sesendok makanan favoritnya, tapi kini dai rasakan sangat berbeda lebih enak dari biasanya.


"Azmia, Pak," sahut Karina.


"Duh calon istri idaman," celetuk Alif.


"Woi ... ngajakin berantem lu ya," ujar Devan.


"Tenang, Pak Devan kan masih ada Karina masih sigle juga kok," ucap Karina.

__ADS_1


"Sudah-sudah mari di habiskan makanannya." Azmia menenangkan keadaan.


__ADS_2