
Pukul sembilan malam Azmia terbangun dari tidurnya. Dia beranjak dari kasur mencari keberadaan suaminya, tapi ternyata kamar kosong hanya dia seorang. Azmia bergegas bangun lalu keluar kamar menuju lantai bawah.
'Kok sepi,' batin Azmia.
"Non Mia ingin makan malam biar Mbok siapkan," ucap Mbok Asih saat melihat Azmia berjalan menuju dapur.
"Mbok, Kak Revan kemana ya kok sepi?" tanya Azmia.
"Oh, tadi Aden pamit katanya keluar sebentar," jawab Mbok Asih.
"Memangnya Non Mia kemana saat Aden pergi?" tanya Mbok Asih.
"Mia tidur di kamar," jawab Azmia.
'Sampai segitu marahnya Kak Revan hingga pergi saja nggak pamitan sama Mia,' batin Azmia. Dia jadi merasa marah dengan dirinya sendiri karena bercanda tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Non, kok bengong aja, mau makan nggak?" Mbok Asih bertanya kembali karena Azmia diam mematung.
"Enggak, Mbok. Mia hanya ingin ambil minum saja," jawab Azmia kemudian dia mengambil gelas untuk minum. Selesai minum Azmia kembali ke dalam kamar lagi.
Sesampainya di kamar Azmia kembali merebahkan tubuhnya di atas kabur. 'Kak Revan kemana ya kok tumben pergi nggak pamit aku. Apa Kak Revan benar-benar marah ya sama aku,' batin Azmia. Dia terus saja menyalahkan dirinya.
Azmia mencoba untuk menelpon, tapi malah operator yang menjawab nomor telepon yang anda tuju sedang di luar jangkauan.
Waktu terus berputar kini jam menunjukkan pukul dua belas malam, tapi Revan tak kunjung pulang dan tidak memberi kabar.
***
Di tempat lain.
"Van, lu nggak pulang?" tanya Kabin.
"Gue nggak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini," jawab Revan.
"Nanti Azmia nyariin, Lu," ujar Kabin.
"Tadi gue udah bilang ke Mbok Asih," balas Revan.
"Azmia pasti khawatir kalau, Lu nggak pulang," ucap Kabin.
"Sudahlah, gue capek. Lu lanjutin ya gue tidur dulu nanti gantian," balas Revan. Dia langsung merebahkan tubuhnya dia atas kasur tak butuh waktu lama ia pun terlelap.
'Gue kasih tau Azmia nggak ya, kasih tau aja kali ya takut Azmia khawatir,' batin Kabin. Kemudian dia mengambil ponselnya mengirim pesan pada Azmia memberi kabar jika Revan kini bersamanya.
__ADS_1
***
Di tempat lain
Mendengar suara ponselnya bunyi Azmia segera mengambilnya kemudian membuka pesan yang masuk.
"Alhamdulillah," lirih Azmia saat melihat pesan dari Kabin. Kini dia merasa lega setelah mendapat pesan dari Kabin.
*
*
*
Pagi hari selesai sholat subuh Azmia segera bersiap untuk mengantarkan sarapan dan baju Revan.
"Mbok, Mia pergi dulu ya," ucap Azmia pamit pada Mbok Asih.
"Iya, Non," balas Mbok Asih.
"Assalamualaikum," ucap Azmia sebelum keluar rumah.
"Wa'alaikumussalam," balas Mbok Asih.
Satu jam perjalanan kini Azmia tiba di kantor Revan. Azmia segara masuk ke dalam kantor menuju ruangan Revan.
"Assalamualaikum, Kak," ucap Azmia di depan pintu ruangan Revan, tapi tak ada jawaban. Azmia langsung membuka pintu melangkah masuk ke dalam.
"Kamu siapa, kenapa ada di ruangan direktur?" tanya Azmia pada wanita yang tengah duduk di sofa ruangan Revan.
"Seperti yang Anda lihat," jawab wanita tersebut.
"Di mana Pak Revan?" tanya Azmia.
"Ada di dalam ruang pribadinya," jawabnya dengan enteng.
Azmia membuka pintu ruang pribadi Revan. "Astaghfirullah," ucap Azmia saat melihat dua orang laki-laki dia atas ranjang ___. Makanan yang dia bawa Azmia terjatuh seketika.
Mendengar ada Revan dan Kabin perlahan membuka matanya.
"Mia nggak nyangka," ucap Azmia kemudian membalikkan badannya berjalan keluar ruangan Revan dengan hati yang begitu hancur. Azmia berlari kecil menuju keluar kantor.
"Aaaa," keluh Azmia karena hampir saja jatuh terpeleset karena berlari.
__ADS_1
"Kalau jalan hati-hati," ucap seseorang di hadapan Azmia. Seseorang yang menahan tubuh Azmia agar tidak terjatuh.
"Maaf," ucap Azmia dengan perlahan memperbaiki posisinya.
"Mas Alby," ujar Azmia saat melihat seseorang yang berada di depannya.
"Kamu menangis?" tanya Alby saat melihat wajah Azmia memerah matanya juga merah terlihat jelas jika Azmia menangis.
Azmia menggeleng. Kemudian segera melanjutkan langkahnya, tapi dengan cepat Alby menahan tangan Azmia.
"Jangan berbohong. Lihat aku dan bilang jika kamu tidak menangis," ucap Alby tanpa sadar tangannya memegang pergelangan tangan Azmia.
Azmia menggeleng, kemudian dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Alby.
Kemudian Azmia melanjutkan langkahnya menuju mobil.
"Ay, tunggu!" teriak Revan dari arah belakang. Akan tetapi Azmia tidak memperdulikannya dia tetap berjalan keluar kantor.
"Stop!" Revan berdiri tepat di depan mobil Azmia.
Seketika Azmia langsung menghentikan laju mobilnya. Revan bergegas masuk ke dalam mobil.
"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan," ucap Revan sambil menggenggam tangan Azmia.
Azmia hanya terdiam tak membalas ucapan Revan.
"Percaya sama aku." Revan menciumi tangan istrinya berusaha menyakinkan istrinya.
"Kakak kalau marah sama Mia lebih baik bilang jangan seperti ini," ucap Azmia dengan suara sedikit bergetar.
"Kakak nggak marah sama kamu dan yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan," balas Revan.
"Semua sudah terlihat jelas, Kak. Jika semua itu benar maka Mia tidak akan pernah memaafkan Kakak," ujar Azmia dengan tegas.
"Aku bersumpah tidak pernah sekalipun menyentuh wanita lain selain kamu. Semalam tuh Kabin kasih kabar jika dokumen untuk meeting nanti siang hilang dan di laptopnya juga nggak ada, maka dari itu aku segera ke kantor bersama kabin memeriksa kamera cctv serta membuat ulang untuk presentasi. Tepat pukul dua belas malam aku tertidur. Jadi aku nggak tau sejak kapan ada wanita di ruangan ku, karena yang aku tahu semalam hanya aku dan Kabin yang berada di kantor." Revan menjelaskan tentang yang terjadi di dalam ruangannya.
"Lalu kenapa baju Kakak terbuka seperti itu?" tanya Azmia. Karena tadi saat Azmia membuka pintu ruangan Revan. Revan dan Kabin sedang tertidur pulas, tapi dengan baju terbuka, jaket berantakan di bawah lalu ada bekas lipstik di kemeja Revan.
"Kakak nggak tahu," jawab Revan. Dia juga bingung kenapa kemeja yang dia pakai bisa terbuka kancingnya.
"Percaya sama Kakak, Kakak mohon," ucap Revan dengan wajah yang melas.
Azmia hanya diam tak menjawab, tapi bukan berarti dia tidak percaya pada Revan. Akan tetapi dia menahan diri agar tidak emosi.
__ADS_1