
Pertemuan Delis & Azmia.
Delisa mengajak Azmia ketemuan di restoran MyZ.
"Assalamualaikum, Mba maaf ya jadi menunggu," ucap Azmia saat tiba di restoran.
"Wa'alaikumussalam, nggak apa, Mi. Saya juga baru tiba," balas Delisa.
"Silakan!" Delisa mempersilakan Azmia duduk.
"Terima kasih." Azmia duduk berhadapan dengan Delisa.
"Mba Delisa sendirian?" tanya Azmia karena dia tak melihat sosok Ardiaz.
"Iya," jawab Delisa.
"Kamu ingin pesan apa, Mi?" Delis menawarkan makan dan minuman pada Azmia. Ia pun memberikan daftar menu pada Azmia.
"Cake sama es jeruk aja, Mba," jawab Azmia.
"Ok."
Delisa memanggil karyawan cafe untuk memesan makanan dan minuman.
__ADS_1
"Ngomong - ngomong ada apa ya, Mba ngajak Mia ketemuan berdua, apa Mia punya salah? bilang saja, Mba kalau Mia punya salah," ucap Azmia membuka obrolan.
"Ist ... Kamu ini nyerocos aja. Kamu nggak ada salah kok. Aku hanya ingin ngobrol saja. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," balas Delisa.
"Apa tuh, Mba?" tanya Azmia mulai penasaran.
"Jadi begini, Mi. Aku sama Ardiaz kan di kota Y mempunyai usaha cafe, tapi cafe kita tuh sepi. Apa ada yang salah ya, Mi?" tanya Delisa.
"Untuk memulai usaha memang sulit mencari pelanggan, Mba kuncinya hanya satu sabar dan coba Mba Delisa koreksi lagi apa ada sesuatu yang salah dalam cafe, Mba Delis, mungkin dari lokasi, Desai atau menu," ujar Azmia.
"Kalau dari lokasi menurut saya strategis, Mi, tapi kalau desain cafe entahlah karena aku kurang paham juga dengan dunia bisnis itu. Menurut kamu menu makan yang cocok itu apa aja ya, Mi?" tanya Delis.
"Tergantung lokasi dan selera sih, Mba, kalau menurut Mia nih coba Mba Delis bikin menu yang belum ada di sana dengan nama agak unik gitu supaya menarik perhatian pengunjung. Lalu coba Mba Delis ubah cara penataan tempat, terus tambah atau ubah desain di cafe. Mia juga dulu gitu, Mba. Entah berapa kali Mia ganti cat dan desain. Mia juga tambahin menu makanan dan live musik agar pengunjung tidak bosan jika berada di cafe," jelas Azmia. Untuk memulai bisnis itu memang kita harus banyak belajar dan berani mencoba sesuatu yang baru untuk menarik pelanggan.
"Kita sama-sama belajar, Mba. Mia juga masih belajar untuk memajukan cafe," balas Azmia.
"Kamu mah sudah sukses, Mi," ucap Delisa.
"Amin," balas Azmia.
"Mi, boleh tanya sesuatu nggak?"
"Apa, Mba?" Azmia balik bertanya.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu nggak mau menerima Ardiaz. Dia itu cinta banget sama kamu," ucap Delisa memberikan diri mencari jawaban dari Azmia.
"Mia di jodohkan Mama dan Papa, Mba," balas Azmia singkat.
"Jika kamu juga cinta kenapa nggak kalian perjuangin cinta itu?" Delisa yang gemas dengan kisah cinta suaminya.
"Cinta seseorang itu bisa berubah, tapi cinta orang tua terhadap anak itu akan abadi. Maka Azmia lebih memilih menerima perjodohan dari pada berjuang untuk cinta yang tak pasti," jawab Azmia.
"Kamu benar sih, tapi kan kita tak pernah tahu hati dan ketulusan seseorang," ucap Delisa.
"Mba Delis benar, tapi perjuangan Kak Revan lah yang layak untuk Mia perjuangkan juga. Laki-laki yang selalu setia meskipun Mia pernah menabur luka di hatinya, tapi tak sedikitpun dia berpaling dari Mia. Itulah ketulusan cinta yang sesungguhnya," balas Azmia.
"Aku kagum padamu, Mi. Aku sempat berpikir bagaimana caranya aku bisa sepertimu yang di bisa meluluhkan hati Ardiaz, sedangkan aku sejak SMA mencintainya tak sedikitpun di lirik olehnya," ucap Delisa.
Azmia diam, dia jadi merasa bingung harus berkata apa, dia takut salah mengucap.
"Yang terpenting kan sekarang harapan Mba Delisa terwujud bisa memiliki Kak Ardiaz seutuhnya, selamanya," balas Azmia setelah diam sejenak.
"Iya, tapi aku merasa Ardiaz masih menyimpan rasa terhadap kamu, Mi," ujar Delisa. Terkadang feeling seorang istri itu benar.
"Hanya perasaan, Mba Delis aja. Mia yakin Kak Diaz pasti menyimpan rasa juga terhadap, Mba Delis, tapi mungkin Mba Delis belum menyadarinya." Azmia meyakinkan Delisa jika Ardiaz pasti mencinta Delisa, sebagaimana saat Ardiaz mencintainya bahkan mungkin bisa lebih karena Delisa adalah istrinya.
"Semoga saja seperti itu, Mi."
__ADS_1
Cinta memang tidak bisa kita paksa, tapi bisa kita ubah dengan seiring berjalannya waktu.