
Pagi hari setelah selesai sarapan Alby, Bunda, Revan dan Azmia berkumpul di ruang keluarga.
"Mas, apa boleh kita memindahkan perlengkapan baby ke rumah kita?" tanya Revan dengan hati-hati.
Alby mengangguk sebagai jawaban.
"Kapan kita bisa membawa semua perlengkapan bayi ke rumah?"
"Terserah." Alby hanya menjawab dengan singkat.
"Lebih baik nanti saja setelah tujuh hari, Van. Kalian baru pulang ke rumah untuk saat ini kalian di sini saja dulu dan bawa perlengkapan baby seadanya saja." Kini Bunda ikut bicara.
"Mia setuju dengan Bunda," balas Azmia.
"Baiklah, kalau begitu ayo, kita berangkat sekarang nanti perlengkapan baby yang ada di rumah Alby biar Pak Joko saja yang ngambil," ucap Bunda.
"Iya, Bun," balas Revan.
"Ayo!" Bunda sudah berdiri lebih dulu kemudian di ikuti Azmia serta yang lainnya.
"Kita bawa mobil Revan saja ya," ucap Revan.
"Iya," balas yang lain.
Mereka berjalan keluar rumah menuju garasi tempat mobil Revan parkir.
*
*
*
Satu jam perjalanan kini mereka tiba di rumah sakit.
Mereka langsung menuju ruang baby.
"Pagi, Suster," sapa Bunda Rita pada salah satu suster jaga.
"Pagi juga, Bu," balas Suster tersebut.
"Bagaimana keadaan cucu saya, Sus?" tanya Bunda.
"Alhamdulillah, si cantik sehat, Bu," jawab Suster.
"Apa kita sudah bisa bawa pulang sekarang?" tanya Bunda Rita yang sudah tak sabar ingin menggendong cucu pertamanya.
"Tunggu dokter anak datang dulu ya, Bu."
"Baik, Sus."
Alby, Azmia, Bunda dan Revan duduk di kursi tunggu. Menunggu kedatangan dokter yang akan memeriksa peri cantik.
__ADS_1
Tak berselang lama Dokter anak datang langsung masuk ruangan memeriksa para bayi.
"Bayi Nyonya Nila," panggil suster.
"Iya, Sus." Mendengar panggilan dari suster Bunda Rita langsung berdiri dari duduknya berjalan menghampiri suster.
"Ibu silakan masuk untuk menemui dokter," ujar Suster.
Bunda mengangguk kemudian mengikuti langkah suster dari belakang.
"Bagaimana, Dok. Apa cucu saya bisa di bawa pulang sekarang?" tanya Bunda Rita.
"Iya, Bu," jawab dokter.
Setelah berbincang-bincang dengan Dokter Anak. Bunda Rita menggendong cucunya membawanya keluar dari ruangan.
"Selamat pagi, Papa, Bunda dan Ayah Revan," ucap Bunda dengan nada seperti anak kecil.
Azmia, Alby dan Revan langsung menoleh ke arah Bunda. Mereka bertiga langsung berdiri saat melihat Bunda menggendong baby cantik.
"Masya'Allah cantiknya putri Papa," ucap Alby dengan tersenyum kecil memandangi putrinya terlelap tidur.
"Biar, Al yang gendong, Bun." Alby mengambil alih putrinya dari tangan Bunda.
Alby menciumi wajah putrinya. Antara kebahagiaan dan kesedihan kini dia rasakan.
Azmia yang melihat pemandangan di depannya sesekali dia menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Dia merasa sedih melihat pemandangan di depannya. Baby yang baru lahir tanpa melihat sosok ibunya.
Bunda juga tak jauh beda dengan Azmia. Bunda menangis melihat Putranya dan kesedihan itu semakin sesak saat melihat cucunya yang lahir tanpa sosok ibu di sampingannya, tanpa pelukan ibu yang melahirkannya.
"Ayo, kita pulang sekarang!" Setelah semua terdiam beberapa saat. Bunda mengajak semua untuk pulang ke rumah.
"Iya, Bun." Mereka berjalan keluar rumah sakit menuju parkiran.
*
*
*
Di rumah semua orang sudah menunggu kedatangan peri cantik pelengkap keluarga Wisnu.
"Apa tempat tidur untuk peri cantik sudah siap, Mba?" tanya Ayah Wisnu.
"Sudah, Tuan," jawab Mba Lasmi.
Setelah Pak Joko pulang Mba Lasmi langsung merapikan tempat tidur, perlengkapan baby dan semua kebutuhan baby sudah siap tinggal menunggu baby cantik datang.
*
*
__ADS_1
*
Setelah menunggu beberapa jam kini yang di tunggu-tunggu tiba.
"Assalamualaikum," ucap Bunda Rita sambil masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam," balas Ayah Wisnu yang sudah berjaga di ruang tamu menantikan kepulangan cucunya.
"Mana cucu saya?" tanya Ayah Wisnu pada istri tercinta.
"Ada tuh di belakang," jawab Bunda Rita.
"Assalamualaikum," ucap Azmi, Revan dan Alby.
"Wa'alaikumussalam," balas Ayah.
"Selamat datang cucu kakek," ucap Ayah Wisnu saat melihat kedatangan cucunya. Kemudian Ayah Wisnu mengambil cucunya dari tangan Alby.
"Cucu kakek cantik sekali," ucap Ayah Wisnu sambil menciumi cucunya.
"Siapa namanya, Al?" tanya Ayah Wisnu.
"Terserah Azmia saja, Yah," jawab Alby.
"Lha kok Mia." Azmia yang bingung dengan ucapan Kakak iparnya.
"Karena kamu yang akan mengurusnya maka Kamu saja yang memberikan namanya untuknya," jelas Alby.
"Bolehkah?" tanya Azmia. Dia merasa tidak enak hati karena yang lebih berhak memberikan nama adalah Alby.
"Iya Mas, serahkan padamu."
"Baiklah kalau begitu kita beri nama, Alnia Vazia Bakhri, gimana?" tanya Azmia meminta pendapat pada semuanya.
"Apa tidak masalah jika ada nama Bakhri nya?" tanya Alby karena itu putrinya bukan putri kandung Azmia.
"Tidak apa, Mas," jawab Azmia.
"Baiklah kalau begitu."
"Nama yang cantik, Sayang," ucap Bunda.
"Alhamdulillah kalau semua setuju," balas Azmia.
"Azmia, Revan. Mas titipkan Nia pada kalian sesuai permintaan almarhum Nila. Semoga kalian berdua bisa memberikan kasih sayang untuk Nia," ujar Alby.
"Revsn dan Azmia pasti akan menjaga Nia dengan baik dan kapanpun Mas kangen dengan Nia pintu rumah kita terbuka lebar untuk Mas Alby," balas Revan.
"Terima kasih."
Revan mengangguk kemudian mereka berdua berpelukan.
__ADS_1