
Pagi hari
Setelah melaksanakan shalat subuh Azmia keluar kamar menuruni anak tangga menuju dapur. Ternyata di dapur sudah ada Mbok Asih yang sibuk mempersiapkan sarapan. Azmia berjalan dengan perlahan supaya Mbok Asih tidak mengetahui kedatangan dirinya.
"Assalamualaikum," ucap Azmia saat tiba di dapur.
"Wa'alaikumussalam," jawab Mbok Asih. "Apa ini mimpi." Mbok Asih menepuk-nepuk pipinya saat melihat sosok Azmia tersenyum manis di depannya.
"Mbok nggak mimpi kok, ini beneran Mia," ucap Azmia sambil memegang pergelangan tangan Mbok Asih.
"Ya Allah, Non Mia. Mbok kangen sekali dengan Non. Bagaimana kabar Non Mia?" tanya Mbok Asih.
"Alhamdulillah, Mia baik seperti yang Mbok lihat sekarang," jawab Azmia.
"Mbok, masak apa?" tanya Azmia.
"Mbok hanya masak nasi goreng, Non. Semenjak Non Mia pergi Den Alby jarang sekali pulang ke rumah ini," ucap Mbok Asih.
"Kemana dia pergi?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Biasanya di rumah Den Daffa, kadang juga di rumah Bunda," jawab Mbok Asih.
"Non Mia sekarang tinggal dimana?" tanya Mbok Asih.
"Mia tinggal di tempat kerja, Mbok. Jadi Bos Mia itu menyediakan tempat tinggal bagi karyawan yang ingin tinggal di cafe," ucap Azmia.
"Oh ... begitu. Kenapa, Non Mia harus kerja lebih baik teh disini kan ada Aden yang membiayai kebutuhan Non Mia," balas Mbok Asih.
"Mia lebih suka berdiri sendiri dari pada menadahkan tangan," ujar Azmia dengan tersenyum kecil.
"Si Mbok bangga sama Non Mia," balas Mbok Asih.
"Hari ini biar Mia yang masak Mbok. Si Mbok bisa kerjakan yang lain," ucap Azmia. Seperti kebiasaannya dulu setiap pagi dia meringankan beban Mbok Asih dengan mengambil alih tugas memasak.
Satu jam bertempur dengan peralatan dapur kini menu sarapan buatan Azmia sudah di siapkan di meja makan.
Selesai menyiapkan sarapan Azmia kembali ke kamar memanggil Alby.
"Mas, sarapan sudah siap," ucap Azmia. Saat masuk ke dalam kamar melihat Alby yang duduk di sofa sambil menatap layar laptopnya.
__ADS_1
"Iya, nanti saja. Duduklah!" Alby menyuruh Azmia agar duduk di sampingnya.
Azmia pun duduk di samping suaminya.
"Kenapa, semua ini tidak pernah kamu gunakan, bukankah Mas sudah pernah bilang kebutuhan mu Mas yang nanggung, tapi pas Mas cek ATM ini tak berkurang sepeserpun," ucap Alby sambil memperlihatkan ATM yang ia berikan pada Azmia saat mereka masih bersama.
Azmia sengaja meninggalkan ATM tersebut saat dia pergi karena dia tidak ingin mengambil apapun yang bukan hak dia.
"Mia tidak butuh apapun, Mas. Kebutuhan rumah sudah Mas penuhi," balas Azmia. Kalau kebutuhan dapur memang setiap hari Alby selalu memberikan uang pada Mbok Asih buat belanja. Jika kebutuhan seperti sabun biasanya sebulan sekali itupun Alby yang membayar langsung saat Azmia dan Alby belanja ke supermarket.
"Namun, itu hak kamu Mia. Kamu kan istriku, Mas bekerja pagi hingga sore, pagi hingga malam untuk kamu, untuk mencukupi mencukupi kebutuhan rumah tangga kita. Meskipun kita akan berpisah, Mas ingin kita berpisah dengan kebaikan. Kita bertemu dengan baik, pisah pun harus baik. Mas kembalikan ATM padamu karena ini adalah hak kamu, bawalah! jika kamu menolak maka Mas akan mempersulit perpisahan kita," ujar Alby. Dia hanya ingin Azmia menerima pemberiannya, menerima haknya.
"Baiklah. Terima kasih atas semuanya, Mas," balas Azmia.
"Semoga perpisahan ini menjadi awal kehidupan kita yang lebih baik di masa yang akan datang. Mas senang bisa mengenalmu dan Mas juga sudah rela untuk melepas mu," ucap Alby sambil memegang tangan Azmia kemudian Alby memberikan kotak kecil untuk Azmia.
"Ini apa, Mas?" tanya Azmia saat melihat kotak kecil berwarna hitam berada di tangannya.
"Itu kenang-kenangan buat kamu karena selama pernikahan Mas tidak pernah membelikan sesuatu untukmu. Jangan di buka sekarang, buka saja nanti saat kamu sudah berada di rumah," jawab Alby dengan tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Azmia.
Alby mengangguk kemudian mereka bersiap untuk menuju kantor pengadilan agama.