
Semakin malam suasana di cafe semakin ramai, pengunjung memenuhi tempat yang telah di sediakan.
Pengunjung kebanyakan para pemuda pemudi yang sengaja datang untuk melihat penampilan Famer, ada pula pasangan kekasih yang sedang menikmati malam minggu, ada juga pengunjung yang hanya ingin nongkrong sambil cari angin.
Bukan hanya Famer yang bernyanyi, tapi ada beberapa pengunjung juga yang menyumbang lagu. Azmia sangat senang melihat antusias pengunjung yang begitu wow.
"Nis, ide kamu bagus juga mendatangkan mereka disini," ucap Devan.
"Iya, Kak alhamdulilah," balas Azmia (Nisa).
"Mi, di meja nomor lima ada Mas Alby," bisik Karina di telinga Azmia. Karina tak sengaja melihat Alby saat matanya berkelana jadi cctv di dalam ruangan.
Mendengar ucapan Karina. Azmia langsung menoleh ke arah meja nomor tiga di mana Alby duduk tanpa sengaja tatapan mereka saling bertemu. Beberapa saat kemudian Azmia mengakhiri pandangannya, dia langsung menatap ke arah lain. "Astaghfirullah. Aku harus bersikap biasa saja semoga Mas Alby tidak curiga," batin Azmia.
**
'Tatapan itu. Siapa kamu sebenarnya, Nisa? Kenapa aku merasa kamu adalah orang yang begitu dekat dengan ku,' batin Alby.
__ADS_1
Entah Feeling atau memang ikatan batin yang kuat di antara mereka sehingga meskipun jarak mereka jauh, tapi hati mereka tetap saling berhubungan.
**
Pukul sepuluh malam situasi cafe sudah mulai sedikit pengunjung. Famer juga sudah selesai menyanyi.
Setelah turun dari panggung Fakhri dan para sahabatnya langsung menghampiri meja Azmia karena mereka lihat ada dosennya di sana. Famer langsung menyapa Devan terlebih dahulu sebelum mereka makan malam.
Azmia sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk Famer di meja nomor dua.
**
Sedangkan Alby dan Daffa sudah pulang terlebih dahulu sebelum Famer selesai nyanyi.
"Lu, kenapa sih dari tadi bengong terus?" tanya Daffa. Kini mereka berdua sudah berada di rumah sedang duduk bersantai di sofa kamar sambil bermain ponsel masing-masing.
"Entahlah perasaan gue ada yang mengganjal saat melihat Nisa," jawab Alby dengan jujur karena memang itulah kenyataannya.
__ADS_1
"Perasaan lu aja kali, Al," ucap Daffa.
"Enggak, Daf pokoknya gue merasa ada sesuatu gitu, tapi nggak tau apa. Apalagi saat tadi gue bertatap dengannya, tatapan itu sama persis seperti Azmia," jelas Alby.
"Lu naksir sama dia?" tanya Daffa dengan mata melotot.
"Bukan begitu, Bambang." Alby menjitak jidat Daffa.
"Sakit, Al," keluh Daffa.
"Lagian lu. Gue bukan suka sama dia, tapi tadi saat pandangan kita saling bertemu gue merasa dia tuh orang yang sangat dekat sekali dengan gue, mata itu sangat-sangat mirip Azmia." Alby menceritakan semua yang ada di pikirannya.
"Mungkin karena lu lagi kepikiran Azmia aja kali, Al," ujar Daffa yang tak mau ambil pusing. Dia fokus pada ponselnya yang masih menyala karena sedang mabar dengan temannya.
"Entahlah, tapi gue akan cari tahu tentang Nisa besok gue akan datang ke kampus Nisa dan gue akan menemui salah satu sahabat Azmia," balas Alby dengan tegas karena kini rasa penasaran semakin besar. Dia harus bisa mencari kebenaran tentang siapa sebenarnya Nisa wanita berkacamata yang bisa membuat kepala pusing tujuh keliling karena penasaran.
"Terserah lu saja. Inget jangan deket-deket sama cewek lain lagi, ada Rania di samping lu." Daffa mengingatkan Alby agar tidak jatuh hati pada sosok Nisa.
__ADS_1