
"Bukankah dia hanya seorang pelayan di cafe ini?" tanya seseorang yang duduk di meja paling ujung. Seorang misterius karena dia menggunakan masker lengkap dengan kaca mata sehingga tak terlihat wajahnya, hanya suara yang terdengar.
"Sudahlah jangan ngaku-ngaku sebagai Bos, cuma babu aja belagak sok-sokan ngaku Bos. Kalau babu, ya babu aja," sambung wanita misterius kedua.
Ucapan kedua wanita itu membuat geram Revan dan Ali. Mereka berdua berdiri dari duduknya ingin menghampiri orang misterius tersebut, tapi di tahan oleh Mama Iren dan Papa Ari.
Tanpa ucapan dan kata Angga langsung berdiri dari duduknya melangkah menuju panggung.
"Apa yang kalian lihat memang benar. Azmia sering melayani pembeli, tapi bukan berarti dia pelayan. Jika kalian tidak tahu-menahu tentang dia jangan pernah menjatuhkannya. Rio." Angga memanggil seseorang mengisyaratkan sesuatu pada orang tersebut. Selang beberapa detik kemudian terlihat layar menyala memperlihatkan foto-foto Azmia dan Angga.
"Kalian lihat, inilah foto awal mula kami membangun cafe cinta. Kenapa di beri nama cafe cinta karena cafe itu adalah hadiah pemberian Mami dan Papi sebagai rasa kasih sayang beliau pada Putrinya. Peri kecil yang selalu melengkapi dalam keluarga kami," ucap Angga.
Azmia jadi terharu dengan Angga yang selalu melindunginya.
Kemudian di sambung oleh Azmia. "Meskipun Mami dan Papi bukanlah orang tua kandung saya, tapi kasih sayang beliau sepanjang masa, terima kasih Mami dan Papi berkat kalian Mia bisa seperti sekarang, maafkan Mia karena belum bisa membalas kebaikan kalian.
Ucapan kalian berdua memang tidak ada yang salah. Pertama Saya memang karyawan, pelayan, babu di cafe cinta dan cafe lovely apa ada yang salah? Saya melakukan semua itu karena saya suka dengan pekerjaan itu dan saya juga ingin membaur bersama para karyawan yang lain agar tak ada jarak di antara kami, karena di mata Allah semua manusia itu sama tak ada yang beda, tak ada perbedaan antara bos dan karyawan.
__ADS_1
Kedua, Saya tidak mengaku-ngaku sebagai Bos jika memang saya bukan pemiliknya. Selama ini saya menutup identitas saya karena ada alasan tertentu yang tidak bisa saya jelaskan di sini dan jika kalian menginginkan bukti pemilik cafe ini maka saya akan memperlihatkan semuanya.
Pras." Azmia memberikan isyarat pada Pras.
dalam hitungan detik terlihat di layar foto surat kepemilikan tanah atas nama Azmia terpapar jelas.
"Inilah buktinya surat yang di buat langsung oleh Papi. Lalu Azmia menggeser layar slide ke dua bukti surat kepemilikan cafe lovely. Cafe lovely ini saya bangun sebagai rasa terima kasihnya saya pada seseorang yang selalu memandang saya sebelah mata. Inilah bukti bahwa saya mampu berdiri dengan keahlian saya. Sebagai wanita saya selalu berprinsip bahwa saya harus bisa menghasilkan uang sendiri tanpa meminta pada orang lain. Setiap kesuksesan itu memang harus melalui perjuangan yang panjang, yakinlah bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia jika kita selalu Istiqomah menjalankannya dan yakin bahwa Allah selalu bersama mu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih semuanya yang sudah berkenan hadir meluangkan waktu untuk berkumpul bersama saya di sini, dan satu lagi terimakasih untuk kedua sahabat ku Melia dan Karina berkat mereka juga saya bisa berdiri hingga saat ini. Sahabat yang selalu ada dalam suka maupun duka, seseorang yang selalu berada di samping ku saat aku terpuruk, mereka juga yang sudah membantuku hingga berada di titik sekarang. Terima kasih semua. Wa'alaikumussalam wr wb." Setelah memberikan sambutan Azmia turun dari panggung langsung di sambut orang-orang tersayang. Mama Iren, Papa Ari, Bunda Rita, Ayah Wisnu, Mami, Papi, Angga, Ali dan suami tercinta serta sahabat tersayang. Mereka semua merentangkan tangannya ingin memeluk Azmia.
**
Di meja lain
Meskipun keluarga Pranata menampung Azmia, tapi kasih sayang dan perhatian Azmia dapatkan dari keluarga Angga.
"Apa yang ada di pikiran kalian sekarang setelah melihat drama tadi? Apa kalian masih ingin mencari masalah dengan Azmia, apa kalian masih berani menghinanya lagi, apa kalian masih berani mencacinya," ucap Papa Prabu dengan tegas, tapi dengan nada yang pelan.
"Papa ini bicara apa sih." Mama Sonia yang merasa kesal dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa, Ma. Sekarang Mama sudah puas atau Mama malu, karena perempuan yang sudah Mama perlakukan secara tidak adil, Mama anggap pelayan, kampungan, tapi setelah kita lihat sekarang dia lebih berkelas dari pada kita," ucap Papa Prabu.
"Mama, Papa ngapain sih jadi berdebat gini. Sudahlah tidak perlu di bahas lagi." Rania meminta ke dua orang tuanya agar terdiam tak berdebat lagi.
**
Setelah mendapatkan ucapan dan pelukan sayang dari orang tua, sahabat, sanak saudara. Azmia berjalan menghampiri meja keluarga Pranata.
"Ma, Pa, terima kasih ya sudah berkenan hadir," ucap Azmia sambil mengulurkan tangan menyalami kedua orang tua angkatnya.
"Papa bangga padamu, Nak. Ternyata selama ini kamu diam-diam menyimpan setuju kekaguman," ucap Papa Prabu.
"Terima kasih, Pa," balas Azmia.
"Jadi selama ini kamu membohongi kami pantas saja setiap hari pulang hingga larut, tiap libur sekolah nggak pernah di rumah ternyata kamu bekerja dengan Angga. Kamu, keterlaluan Azmia, kamu sudah mempermalukan kami sebagai orang tua yang telah membesarkan mu, bahkan kamu tidak ada rasa terima kasihnya pada kami," cibir Mama Sonia.
"Maafkan Mia, Ma jika selama ini belum bisa menjadi anak yang baik untuk Mama dan Papa. Bahkan selama ini Mia memang nggak pernah ada baiknya di mata Mama. Pengorbanan yang Mia lakukan juga tak ada artinya dimata Mama. Selama ini pun Mama nggak pernah menganggap Mia ada. Ma, Mia sayang sama Mama, Papa, Kak Rania, tapi kenapa kalian selalu membenci Mia. Apa salah Mia, Ma, Pa, Kak?" Azmia mengungkapkan isi hatinya yang selama ini selalu dia pendam karena dia masih menghormati keluarga Pranata.
__ADS_1
"Karena, lu sudah mengambil kasih sayang Mama dan Papa makanya gue benci sama Lu," balas Rania.
"Rania jaga ucapan kamu," tegur Papa Prabu.