
"Mama kenapa sih dari semalam ngelamun aja,?" tanya Papa Irwan.
"Mama sedang mikir kira-kira Azmia cemburu nggak ya, Pa lihat Ardiaz dengan Delis?"
"Memangnya kapan Azmia datang ke sini?" tanya Papa Irwan karena saat dia tiba di rumah sakit tak ada sosok Azmia di dalam ruangan.
"Semalam saat Papa pulang ke rumah mengambil pakaian," jawab Mama Irana.
"Oh, terus Delis kapan datangnya?" tanya Papa Irwan.
"Saat Azmia tiba di sini tak berselang lama Delis datang dengan membawa makanan kesukaan Ardiaz," jelas Mama Irana.
"Azmia nggak akan cemburu, Ma. Lagi pula Papa harap sekarang kita tidak perlu berharap padanya lagi. Mama kan tahu Azmia itu bukan wanita sembarangan, dunia kita bagaikan langit dan bumi kita sadar diri saja, Ma," ucap Papa Irwan mengingatkan pada istrinya.
Sekarang semua menjadi terbalik. Makanya jangan pernah menyombongkan sesuatu yang kalian miliki, karena sesungguhnya semua itu bukanlah milik kalian itu semua hanyalah titipan ketika Allah memintanya kembali maka dengan sekejap mata apa yang kalian miliki bisa hilang dalam seketika tanpa hitungan jam.
"Iya sih, Pa, tapikan kita nggak pernah tahu jodoh. Mama kasihan pada Ar karena sering sekali mengigau memanggil nama Azmia," balas Mama Irana.
"Iya, tapi alangkah baiknya sekarang Mama lebih mendekatkan Ardiaz sama Delis supaya mereka bisa kembali seperti dulu lagi," ucap Papa Irwan.
POV
__ADS_1
Delis -- wanita cantik, berkulit putih, seorang perawat di salah satu rumah sakit ternama di kota X, sahabat Ardiaz sejak SMA, Delis sangat mencintai Ardiaz, tapi Ardiaz masih belum bisa membuka hatinya untuk Delis.
Dulu Ardiaz dan Delis sangatlah dekat, tapi setelah Delis mengungkapkan perasaannya Ardiaz mulai menjaga jarak, karena Ardiaz tak bisa membalas perasaan Delis.
"Namun, Papa kan tahu Ar tidak cinta sama Delis," balas Mama Irana.
"Ma, cinta itu bisa hadir dengan seiring berjalannya waktu jika mereka sering bareng tidak menutup kemungkinan cinta itu pasti bisa hadir dalam diri Ar." Papa Irwan menyakinkan istrinya.
"Baiklah, nanti akan Mama coba." Mama Irana akan melakukan saran suaminya. Meski dalam hatinya berat karena Mama Irana berharap Azmialah yang akan menjadi menantunya.
***
Di kampus
Azmia dan Karina memilih cafe depan kampus sebagai tempat nongkrong mereka ngobrol santai sambil minum es.
"Mi," panggil Karina.
"Iya," balas Azmia.
"Aku mau nikah," ucap Karina.
__ADS_1
"Kapan? kenapa terburu-buru?" tanya Azmia.
"Tanggalnya sih belum di tentukan hanya saja aku minta secepatnya," jawab Karina.
"Kamu yang minta mempercepat pernikahan?" tanya Azmia yang tak percaya jika Karin yang ngebet pengen cepet nikah.
"Iya, aku bosen Mi di rumah sendiri, di cafe juga sepi nggak ada kamu, ya udah aku bilang aja ke Kak Daffa untuk memajukan tanggal pernikahan," jawab Karina dengan santainya tanpa ada keraguan di hatinya.
"Kamu ini, Rin nikah udah kayak orang ngajak main. Memangnya kamu sudah yakin, siap lahir batin?" tanya Azmia memastikan karena kan dia yang sudah berpengalaman dalam rumah tangga jadi dia hanya nggak mau sahabatnya mengalami hal yang sama dengan dirinya.
"Insya'Allah, Mi. Lagi pula kan nggak bagus juga pacaran lama-lama," balas Karina.
"Iya sih. Ya mudah-mudahan Allah memberikan kelancaran dalam proses pernikahan kalian," ucap Azmia.
"Amin," balas Karina.
"Kita nikahnya bareng yuk, Mi." Karina mengajak Azmia agar mereka menggelar acara pernikahan di hari yang sama.
"Kamu nih ngeledek, pacar saja nggak punya ngajakin nikah bareng," ujar Azmia.
"Hahaha, kamu kan tinggal pilih mau yang mana," balas Karina.
__ADS_1
"Memangnya baju tinggal dipilih-pilih. Dahlah bahas yang lain saja," ucap Azmia. Dia lagi nggak mau bahas masalah asmara dirinya yang belum jelas karena author belum ngasih petunjuk yang pasti, hehe.