
Setelah kepergian Daffa. Nina mengantarkan surat tersebut ke ruangan Azmia.
"Assalamualaikum," ucap Nina di depan pintu ruangan Azmia.
"Wa'alaikumussalam, masuk Nin," balas Azmia masih dengan posisi rebahan di atas sofa.
Setelah mendengar jawaban dari Azmia. Nina mulai membuka pintu melangkah masuk ke dalam. "Maaf, Mba ganggu," ucap Nina saat melihat Azmia masih rebahan di atas kasur dengan mode orang baru bangun tidur.
"Enggak apa, Nin. Ada apa?" tanya Azmia.
"Nina ingin memberikan ini." Nina memperlihatkan amplop yang dia pegang.
"Itu dari siapa, Nin?" tanya Azmia.
"Duh, Nina lupa. Orangnya tinggi, masih muda, berpakaian rapi seperti orang kantoran gitu, Mba." Nina menjelaskan sosok Daffa.
"Ya sudah taruh saja di atas meja, Nin," ucap Azmia.
"Baik, Mba." Sesuai dengan perintah Azmia Nina menaruh amplop tersebut di atas meja kerja Azmia. "Nina, kembali kerja lagi ya, Mba," ujar Nina setelah menaruh amplop tersebut.
"Iya, Nin. Terima kasih ya," ucap Azmia.
"Sama-sama, Mba," balas Nina kemudian berjalan keluar ruangan Azmia menuju lantai satu.
'Karina kemana ya, kok nggak ada suaranya dari tadi nggak bangunin aku pula. Ternyata aku tidur cukup lama ya," batin Azmia saat melihat jam dinding.
"Karina kemana sih," lirih Azmia kemudian dia bangun dari tidurnya bergegas menuju kamar mandi.
"Astaghfirullah, pantas saja nggak ada suaranya ternyata dia ikutan merem," ucap Azmia saat melihat Karina tidur di kamar pribadinya.
Azmia melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, membersihkan diri.
Mendengar suara gemericik air membangunkan anak perawan yang sedang mimpi indah. "Siapa sih yang di kamar mandi," lirihnya sambil mengucek-ucek matanya agar melek dengan sempurna.
Tak lama kemudian Azmia keluar dari kamar mandi. "Sudah bangun?" tanya Azmia saat melihat Karina sudah bermain handphone.
__ADS_1
"Hehehe." Karina hanya membalasnya dengan cengengesan.
"Bukannya bangunin orang yang ketiduran, ini malah ikutan tidur," ujar Azmia.
"Tadi ingin aku bangunin, tapi aku nggak tega lihat kamu sepertinya sangat lelah sekali jadi ya udah aku biarin saja kamu istirahat," jelas Karina.
"Iya deh, mandi sana!" Azmia menyuruh Karina agar segera mandi karena sudah sore.
"Siap, Bu Bos!" balas Karina dengan tersenyum.
Setelah rapi Azmia keluar dari ruang pribadinya berjalan menuju meja kerjanya.
"Ini amplop dari siapa ya kalau dari cerita Nina ini sih __." Azmia menjeda ucapannya kemudian dengan cepat membuka amplop tersebut. 'Ternyata dugaanku benar,' batin Azmia saat melihat isi amplop putih tersebut.
'Ya Allah semoga ini adalah yang terbaik buat kami berdua. Semoga Engkau tidak marah dengan keputusan hamba ya Robb. Hamba terpaksa melakukan semua ini demi kebahagiaan keluarga hamba.
Semoga kamu bahagia ya Mas, maafkan Mia harus mengambil keputusan ini.
Perpisahan memang bukan jalan terbaik, tapi demi kebaikan bersama aku harus terpaksa mengambil jalan ini, karena hanya perceraian solusi finalnya,' batin Azmia sambil memandangi surat tersebut tiba-tiba air matanya jatuh, hatinya terasa sesak. Dia tak mengira kehidupannya begitu menyedihkan, pernikahan yang tak di inginkan, kini perpisahan juga karena paksaan.
Karina keluar kamar setelah mandi dan rapi dia begitu terkejut melihat Azmia menangis sambil memegangi selembar kertas. Karina dengan cepat langsing menghampiri Azmia. "Mi, kamu kenapa?" tanya Karina panik tiba-tiba Azmia menangis padahal tadi dia lihat biasa-biasa saja.
Azmia langsung memeluk Karina yang berdiri tepat di sampingnya. Azmia memeluk erat perut Karina. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Karina lagi sambil mengelus lembut punggung Azmia.
Azmia hanya diam tak menjawab.
"Cerita sama aku, kenapa, ada apa?" Karina mulai bingung karena Azmia tak membetik' jawaban apapun sudah beberapa kali dia bertanya, tapi Azmia tak menjawab sepatah kata pun Azmia hanya membalasnya dengan suara tangisan.
"Cup sudah jangan nangis terus nanti cantiknya ilang kan tadi sudah mandi," ucap Karina menggoda Azmia.
Bukan mendapatkan jawaban Azmia memukul pelan punggung Karina. Dia lagi serius nangis malah di nercandain seperti anak kecil.
Azmia melepaskan pelukannya dengan muka cemberut.
"Dih, dia ngambek. Jangan ngambek gitu, Mi. Aku nggak punya balon," goda Karina.
__ADS_1
"Karina." Azmia yang kesel akhirnya mengeluarkan suara.
"Apa sih, Mia," jawab Karina dengan santainya.
Setelah Azmia melepaskan pelukannya Karina duduk di kursi yang berhadapan dengan Azmia.
"Sebenarnya ada apa sih, Mi. Kenapa kamu tiba-tiba nangis begitu? bikin aku panik saja," ujar Karina. "Oh, iya ini surat apa, Mi?" tanya Karina sambil menunjuk ke selembar kertas yang ada di meja.
Sebelum menjawab pertanyaan Karina Azmia lebih dulu menghela nafasnya. "I _ n _ i adalah surat pengajuan perceraian," jawab Azmia dengan nada sedikit bergetar dia tak menyangka pernikahannya harus kandas di happy anniversary ke satu tahun.
"Apa? cerai?" Karina begitu terkejut saat mendengar jawaban Azmia.
"Iya, tapi kamu jangan bilang ke siapapun ya, Rin. Abang dan Kak Devan belum tahu semua ini. Aku nggak mau mereka khawatir padaku," ucap Azmia.
"Iya, Mi tenang saja," balas Karina sambil memegang erat tangan Azmia seakan memberi kekuatan pada sahabatnya.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini?" tanya Karina karena dia benar-benar syok mendengar kata perceraian yang di ucapkan Azmia.
"Insya'Allah aku yakin, Rin. Semua sudah aku pikirkan matang-matang dan inilah pilihan akhir yang harus aku tempuh demi kebaikan bersama," jawab Azmia. Sakit memang mengingat bagaimana dia harus berjuang membina rumah tangga yang tak di inginkan, berusaha menjadi istri yang terbaik, tapi pada akhirnya dia harus semua perjuangannya sia-sia karena di ujung perpisahan.
Namun, dari semua itu Azmia tetap bersyukur karena dirinya belum tersentuh oleh Alby meski pernikahan mereka sudah satu tahun lebih.
"Apa tidak ada solusi lain selain perceraian?" tanya Karina.
"Ada, tapi aku tak mau berbagi suami dengan orang lain lebih baik aku mengalah dari pada harus menjadi madu," jelas Azmia. Istri satu saja kadang Alby masih yang ini itu apalagi istri dua, jika dari materi menang cukup, tapi kan kebahagiaan seseorang tidak bisa di ukur dengan materi.
Jika di luar sana masih ada cinta yang menunggu kenapa harus jadi madu.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, Mi. Aku hanya bisa berdoa semoga kedepannya kamu bisa bahagia dengan yang lain. Bersama laki-laki yang mencintai dan menyayangimu dengan setulus hati," ucap Karina. Sebagai sahabat dia hanya bisa membantu doa dan menjadi pendamping terbaik.
"Amin," balas Azmia kemudian menghapus air matanya yang mengalir di pipinya.
"Semangat untuk maju ke depan dan kehidupan baru." Karina berkata sambil mengangkat tangannya 💪 memberikan semangat pada Azmia agar tak larut dalam kesedihan.
Azmia mengangguk dan tersenyum kecil.
__ADS_1