
Setelah kepulangan Kabin dan Beni. Revan mengajak Azmia duduk di gazebo samping rumah.
"Lama tak jumpa, gimana kabar mu?" tanya Revan membuka suara.
"Seperti yang Kakak lihat," jawab Azmia.
"Bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Revan lagi.
"Alhamdulillah lancar," jawab Azmia. "Kakak sendiri gimana?" Azmia bertanya balik.
"Lancar juga," balas Revan.
"Mi apa kamu sudah memilik ___," ucapan Revan terpotong karena ada seseorang yang datang.
"Sayang, kamu lagi ngapain di situ?" tanya Bunda Sofi yang baru sampai di rumah langsung mencari keberadaan menantunya.
Bunda Sofi belum melihat seseorang yang berhadapan dengan Azmia karena membelakanginya. Bunda pikir Azmia bersama Alby.
"Bunda kapan pulang?" Azmia berdiri dari duduknya kemudian menyalami Bunda Sofi.
"Barusan," jawab Bunda Sofi kemudian mendekat ke arah laki-laki yang tadi berada di samping Azmia.
"Revan," ucap Bunda Sofi dengan mata berbinar.
__ADS_1
Revan tersenyum lebar kemudian memeluk Bunda Sofi. "Dasar anak nakal kapan kamu pulang? kenapa tidak memberi tahu Bunda?" Bunda memukul pelan lengan Revan.
"Biar surprise, Bun," balas Revan.
"Apa kalian saling kenal?" Bunda Sofi menatap kearah Azmia dan Revan secara bergantian. Kini Bunda Sofi sudah duduk bergabung dengan ke dua remaja tersebut.
"Iya, Bun. Mia adalah Adik kelas Revan, tapi bukan hanya sekedar adik kelas dulu Azmia ini sekertaris OSIS, Bun," jelas Revan.
Azmia jadi merasa tidak nyaman jika Revan membahas masa lalu.
"Oh, pantas kalian terlihat begitu dekat. Apa dulu Revan nakal saat sekolah?" tanya Bunda Sofi pada Azmia.
"Tidak nakal, Bun, tapi menyebalkan," jawab Azmia.
"Benarkah, apa dia suka mengganggu mu sayang?" tanya Bunda sambil menatap kearah Azmia.
"Tidak, tapi Kak Revan mengganggu hati para siswi, Bun. Hampir semua siswi SMA menaruh hati padanya," jawab Azmia.
"Benarkah, segitu populer nya Revan? padahal dia anak nakal. Apa yang di liat para siswi dari nya," ucap Bunda seakan tidak berpihak kepada Revan
"Bunda, Revan itu tampan, pintar, ketua OSIS pula wajar dong banyak yang suka," balas Revan dengan tersenyum manis.
"Bunda tidak percaya itu." Bunda Sofi paling suka menggoda Revan membuatnya ngambek.
__ADS_1
"Terserah, Bunda tanya saja sama Azmia kalau tidak percaya." Revan menatap kearah Azmia dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ih, kok jadi Mia. Mia tidak kenal Kak Revan." Azmia memalingkan wajahnya ke arah Bunda Sofi.
"Benarkah, apa kamu juga melupakan saat ki ___." Revan menghentikan ucapannya hampir saja keceplosan. Azmia juga sudah dah Dig dug takut Bunda Sofi salah paham.
"Kalian." Bunda Sofi menatap kearah Azmia dan Revan dengan seksama seakan mencari sesuatu yang tersembunyi di antara mereka berdua.
"Apa, Bun. Kita tidak apa-apa." Bukan Azmia yang menjawab, tapi Revan.
"Bun, nanti Revan boleh ya ajak Azmia ke kafe nongkrong bareng sama alumni OSIS yang lain." Revan sengaja mengalihkan pembicaraannya supaya Bunda tidak curiga.
"Bunda tidak bisa kasih jawaban, biar Azmia sendiri yang menjawab," ucap Bunda Sofi.
"Gimana, Mia apa kamu mau?" tanya Revan.
Azmia mengangguk. Sudah lama dia tidak berjumpa dengan para sahabatnya, ini juga kesempatan dirinya untuk keluar rumah dari pada nunggu suaminya yang terus pergi meninggalkan dia.
"Baiklah, Bunda kasih izin, tapi ingat tidak boleh lama-lama," tugas Bunda.
"Siap Bunda," balasnya kompak.
****
__ADS_1
Terima kasih semua sudah meluangkan waktu untuk baca cerita saya.