
Azmia duduk di atas ranjang menangis tersedu-sedu. Bukankah aku wanita kuat kenapa hanya seperti ini aku menangis, kenapa diriku sekarang begitu cengeng. Ya Allah aku yakin di balik semua ini pasti kamu siapkan kebahagiaan untukku, maafkan Mia ya Allah karena menangis karena kehidupan dunia," batin Azmia.
***
Dikamar Alby.
Alby duduk di kursi balkon kamar memejamkan matanya sambil memijat pelan pelipisnya yang terasa sakit, kepala rasanya ingin pecah karena banyaknya pikiran. Bunda marah terhadap, sekarang istrinya juga tak ingin bertemu dengannya. Segitu besarnya kesalahan yang dia perbuat hingga dua wanita yang dia cintai menjauh darinya.
'Andai saja aku menolak perjodohan, pernikahan itu, mungkin semua ini tak akan terjadi. Maafkan aku, Mia karena selalu ingkar janji, belum bisa menjadi imam yang pantas bersanding denganmu, tapi aku tidak bisa berpisah darimu,' batin Alby.
***
Pagi hari.
Setelah menyiapkan sarapan untuk Alby. Azmia memilih untuk segera berangkat kuliah agar tidak bertemu dengan suaminya, dia ingin memberikan pelajaran untuk Alby agar tidak terus-menerus mempermainkan dirinya.
Namun, sebelum berangkat ke kampus Azmia lebih dulu mampir ke cafe karena masih terlalu pagi.
"Mba Mia, kok tumben pagi-pagi ke cafe?" tanya Nina karena ini masih jam enam pagi, cafe aja belum buka, para karyawan belum pada datang, sedangkan karyawan yang menginap belum pada mandi.
__ADS_1
"Iya, Nin. Laptop saya ketinggalan jadi kesini dulu sebelum berangkat kuliah," jawab Azmia. Alasan yang masuk akal karena tidak mungkin dia berkata sejujurnya.
"Oh ... Mba Mia sudah sarapan belum? Kita sarapan bareng yuk!" ajak Nina. Jadi para karyawan yang menginap di cafe itu bebas buat bikin makanan sendiri. Azmia membebaskan mereka masak di saat jam makan siang, malam, ataupun sarapan bagi yang menginap, yang terpenting waktunya kerja mereka kerja tidak malas-malasan.
"Memangnya siapa yang masak, Nin?" tanya Azmia.
"Biasa, Mba. Si Romi yang masak," jawab Nina.
"Sarapan siap," teriak Romi dari dapur agar pada sahabatnya segera turun ke lantai satu melaksanakan sarapan bareng.
"Sarapan, ayo, cepet!" Karyawan yang menginap langsung bergegas menuju dapur mereka tidak sadar jika ada Azmia di cafe.
"Lho, Mba Mia," ucap Romi saat melihat Azmia masuk ke dalam dapur.
"Hanya nasi goreng telur ceplok, Mba. Mari sarapan bareng, Mba!" Romi mempersilakan Azmia agar duduk di meja makan.
"Wah ... sepertinya enak, Rom," ucap Azmia saat melihat Romi membawa nampan berisi beberapa piring nasi goreng. Romi sudah menyiapkan nasi goreng di piring agar temannya bisa langsung makan.
"Eh ... jam kita tidak matikan?" tanya salah satu karyawan.
__ADS_1
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Kok, Mba Mia sudah di cafe," jawabnya.
"Ayo sini!" Azmia memanggil karyawan yang masih berdiri di depan pintu dapur.
"Iya, Mba." Mereka berjalan masuk ke dapur duduk di kursi bergabung dengan Azmia dan yang lainnya.
"Ayo, silakan." Azmia menyuruh semua untuk makan. Mereka pun mengangguk kemudian sarapan bersama.
"Nanti kalau ada waktu Saya akan masakin buat kalian," ucap Azmia di sela-sela makannya.
"Wah, pasti sangat enak masakan, Mba Mia."
"Pasti dong, masakan Romi lewat, hehehe. Bercanda Rom," ujar Azmia dengan tersenyum ramah. Makan bersama satu meja makan seperti bos rasa teman karena tak ada jarak di antara mereka. Azmia juga enjoy kumpul bersama para karyawannya, tidak ada kata gengsi baginya.
***
Maaf ya hari ini hanya bisa update satu bab author lagi kurang sehat.
__ADS_1
Terima kasih buat kalian pembaca setia Peran pengganti Kakakku semoga sehat selalu.
lope lope buat kalian semua 🥰❤️❤️❤️❤️❤️