
Setelah selesai kerja bakti merapikan hingga kini kamar terlihat rapi, bersih dari kenangan, Alby dan Daffa mulai bersiap untuk segera berangkat ke kediaman Bakhri, karena keluarga sudah menunggunya.
"Al, gue tanya, tapi lu harus jawab jujur," ucap Daffa. Kini mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju kediaman Bakhri.
"Tergantung pertanyaan, lu dulu," balas Alby.
"Perasaan, Lu gimana saat melihat Azmia bersanding dengan Adik lu sendiri di depan mata, Lu. Jawab jujur," ucap Daffa menekankan agar Alby menjawab sesuai dengan isi hatinya.
"Kalau gue bilang bahagia pasti, lu akan bilang gue bohong, tapi memang itulah kenyataannya. Gue senang kok Revan bisa bersama Azmia lagi. Sekarang gue tahu bagaimana perasaan Revan saat Azmia bersama gue. Setelah gue merasakan itu, gue salut sama adik gue. Allah memang tak pernah salah memilihkan pasangan untuk hambanya," balas Alby.
"Adik lu emang luar biasa sesakit apapun dia, tapi dia masih tetap bertahan dengan cintanya, meskipun dia tahu saat itu Azmia sah menjadi bini lu ( Kakaknya sendiri)." Daffa mengingatkan bagaimana perjuangan Revan. Revan sempat kecewa, tapi dia tetap berusaha untuk tegar dan belajar menerima kenyataan, dari buah kesabarannya Allah kembalikan apa yang memang seharusnya dia miliki.
"Iya," balas Alby singkat. Dia sudah tak bisa berkata apapun lagi. Jika boleh jujur rasa sakit pasti ada dalam hatinya saat melihat wanita yang pernah mengisi hatinya kini hidup bersama laki-laki lain.
*
*
*
Di kediaman Bakhri
__ADS_1
Semua orang sibuk mempersiapkan untuk acara nanti malam party keluarga besar.
"Dek," panggil Revan. Kini mereka berdua berada di kamar Azmia.
"Iya," balas Azmia.
"Apa keluarga Pranata sudah mengetahui jika kamu sudah menemukan keluarga kandung mu?" tanya Revan.
"Sepertinya belum," jawab Azmia.
"Memangnya saat konferensi pers mereka tidak melihat?" tanya Revan, karena hampir semua orang di kota mereka tinggal pasti tahu tentang pewaris keluarga Bakhri.
"Pasti akan banyak pertanyaan dalam benak mereka tentang kamu," ucap Revan.
"Itu sudah pasti dan Mia sudah siap menjawab pertanyaan mereka," balas Azmia dengan santainya. Setiap orang yang baru menemui kita setelah sekian purna pasti mereka memiliki banyak pertanyaan saat bertemu kembali.
"Istriku memang pintar." Revan berkata sambil mencubit pipi Azmia.
"Sakit," keluh Azmia sambil mengelus pipinya.
"Gemes banget, dulu kan kalau gemes nggak bisa nyubit sekarang mau di cubit, mau di cium juga bisa," ucap Revan kemudian dia mendekat ke arah Azmia mencium pipi istrinya.
__ADS_1
"Sayang, di bawah ada Mami dan Papi kamu," ucap Mama Iren di depan pintu kamar Azmia.
"Iya, Ma," balas Azmia. Dia bergegas turun dari ranjang merapikan pakaiannya sebelum membuka pintu.
"Ada Abang juga nggak, Ma?" tanya Azmia setelah pintu ia buka.
"Ada, lagi ngobrol tuh sama Kakak kamu," jawab Mama Iren.
"Ok, Ma sebentar lagi Mia turun," ucap Azmia.
"Baiklah kalau begitu Mama kembali ke bawah dulu," pamit Mama Iren.
"iya, Ma," balas Azmia. Setelah Mama Iren pergi Azmia menutup kembali pintu kamarnya berjalan menghampiri Revan yang masih anteng duduk di atas ranjang.
"Kita ke bawah yuk, Kak!" ajak Azmia.
Revan mengangguk sebagai jawaban.
"Nanti kita lanjut lagi ya," ucap Revan sambil berjalan mengikuti langkah istrinya keluar kamar.
"Hem.m.m." Azmia hanya membalas dengan deheman.
__ADS_1