
"Al, lu nggak ke kantor Revan lagi untuk memastikan atau berdiskusi gitu?" tanya Daffa.
"Hem.m.m boleh juga sih," jawab Alby.
"Yaudah ayolah mumpung hari ini lagi nggak ada jadwal pertemuan," ucap Daffa.
"Ok." Alby menutup layar laptopnya kemudian memakai kembali jasnya sebelum keluar kantor.
"Bawa mobil gue aja," ujar Alby sambil melempar kunci mobil ke arah Daffa.
"Siap." Daffa menangkapnya dengan sigap.
"Revan nggak kasih tahu, Lu gitu tentang perkembangan kasusnya?" tanya Daffa.
"Dia bilang belum menemukan titik terang karena jejaknya hilang," jawab Alby.
Saking asyiknya mengobrol tanpa mereka sadari kini Alby dan Daffa sudah tiba di kantor Revan.
"Revan ada, Mba?" tanya Alby pada resepsionis.
"Ada, Pak," jawab Resepsionis.
Alby dan Daffa langsung berjalan menuju ruangan Revan.
*** "Mey, sebenarnya ada apaan sih ini kok seperti terjadi sesuatu ya, tadi Bu Mia, lalu orang Bu Mia, sekarang Pak Alby," ucap Resepsionis yang merasa ada yang tidak beres.
"Iya, tapi biarkanlah itu urusan mereka. Kita sebagai karyawan yang masih ingin bekerja disini lebih baik diem dan lihatin saja apa yang terjadi," balas Mey.
"Iya, sih." ***
Saat tiba di ruangan Revan. Alby dan Daffa di buat terkejut dengan pemandangan yang ada di dalam ruangan.
"Ada apa ini?" tanya Alby.
__ADS_1
"Mas," ucap Azmia dan Revan bersamaan.
"Ada apa, Dek?" tanya Alby pada Azmia.
"Kebetulan sekali, Mas Alby dan Kak Daffa datang. Silakan!" Azmia mempersilakan Alby dan Daffa duduk di kursi.
Alby dan mengangguk kemudian duduk di kursi yang tadi di tempati Kabin. Sedangkan Kabin memilih berdiri mengamati para terdakwa yang sedang diinterogasi.
*** "Ada apa?" tanya Alby masih penasaran.
"Lihat aja dulu," jawab Revan. ****
"Nah, begitu kan bagus. Dari pada berbelit-belit malah bikin kalian akan mendekap hotel gratis berpagar besok," ujar Azmia.
'Memangnya ada ya, hotel berpagar besi?' batin Kabin.
"Maafkan saya sebelumnya karena tidak berkata lebih awal pada Bu Mia karena saya takut," jelas Bu Wila.
Bu Wila mengangguk.
"Bu Wila tenang saja. Jika ada yang berani melukai Bu Wila maka saya sendiri yang akan turun tangan," ujar Azmia meyakinkan Bu Wila jika dia akan melindungi Bu Wila andai Bu Wila mau jujur padanya.
Bu Wila mulai menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkan dengan perlahan.
"Hem.m.m ... Sebenarnya saya sama Pak Daru itu di suruh Bu Ella untuk menjebak Pak Revan karena beliau menaruh hati terhadap Pak Revan. Bu Ella bertemu Pak Revan saat kunjungan di kantor tempat Bu Ella kerja. Beberapa hari setelah kejadian itu Bu Ella menghubungi saya menyuruh saya untuk melakukan hal yang fatal itu. Bu Ella mengancam saya jika saya tidak mau mengikuti perintahnya maka dia akan menghancurkan saya dan keluarga. Akhirnya saya menyutujui dan melakukan hal yang merugikan kantor dan keluarga Bu Mia maafkan saya, Bu." Bu Wila menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Azmia.
"Kenapa Mba Ella sampai melakukan itu?" tanya Azmia.
"Mba Ella patah hati, Bu karena Pak Revan tidak meresponnya bahkan saat beberapa kali ketemu Pak Revan cenderung jutek nggak membalas sapaannya." Kini Pak Daru yang angkat bicara.
"Berarti semua ini sudah kalian rencanakan secara matang-matang ya, hebat sekali kalian." Azmia berkata sambil bertepuk tangan.
"Apa sebenarnya hubungan kalian dengan Mba Ella?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Saya dan Pak Daru adalah teman, dulu kami pernah kerja dalam satu perusahaan," jawab Bu Wila.
"Oh, begitu," ucap Azmia.
"Memangnya, Mba Ella nggak laku ingin mengambil suami saya? Oh, iya pelakor itu kan nggak pernah mikir, laki-laki itu berstatus suami orang atau bukan, karena yang ada di pikirannya cinta itu harus dia miliki, tapi sepertinya saat ini Anda kurang beruntung karena Anda salah target," ucap Azmia dengan tersenyum kecil.
'Si*l nih wanita awas saja nanti,' batin Ella.
"Saat ini saya memang kurang beruntung, tapi Anda nggak pernah tahu hari esok," balas Ella.
"Wow ... Keren. Ternyata Anda belum menyerah ya untuk mendapatkan cinta suami saya. Ingat, Mba Ella jangan terlalu terobsesi dengan hayalan Anda, saya hanya takut jika tidak terwujud Anda bisa di bawa ke RSJ sangat di sayangkan jika itu terjadi," ujar Azmia.
'Kur**g ajar sekali dia mengatai gue gil*,' batin Ella.
"Gue pastikan suatu saat nanti suami Anda akan jatuh dalam pelukan gue," tegas Ella.
"Mimpi. Sudahlah dari pada saya lelah, buang-buang waktu juga ngomong sama kamu lebih baik langsung saja kamu pertanggung jawabkan perbuatan mu di kantor polisi," ucap Azmia.
"Oh, iya lupa dengar baik-baik ya, Mba Ella mulai hari ini Anda di pecat dari PT E."
"Anda siapa memecat gue?" Ella berkata sambil tertawa.
"Enggak perlu saya kasih tahu, nanti juga kamu akan tahu sendiri," jawab Azmia dengan santainya.
"Ray, bawa mereka!" ucap Azmia dengan nada sedikit tinggi membuat yang berada di dalam ruangan bingung Azmia memanggil siapa karena di dalam tak ada yang namanya Ray.
"Siap, Non." Empat orang berpakaian serba hitam masuk menghampiri Azmia.
Alby, Revan, Daffa dan Kabin semakin di buat tercengang dengan kehadiran empat orang yang baru saja masuk.
'Gi*a nih Azmia bikin gue makin takjup aja, ternyata di balik kelembutannya tersimpan sesuatu yang membuat orang terkagum-kagum padanya,' batin Kabin.
'Gue baru tahu Azmia yang gue kenal lembut menyimpan sesuatu yang luar biasa. Ternyata gue masih beruntung dari pada wanita itu,' batin Alby.
__ADS_1