
"Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang keluarga Angga," ucap Alby memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Bukankah waktu itu Mia sudah pernah bilang ke Mas Alby, tapi Mas Alby tidak percaya pada Mia," balas Azmia.
"Karena aku belum mengetahui mereka secara langsung," ujar Alby tak mau di salahkan.
"Terserah Mas Alby sajalah." Azmia memilih untuk mengalah dari pada berdebat tidak akan menang.
Tak lama mobil mereka sampai di rumah.
Alby yang melihat Azmia tertidur pulas dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Azmia membawanya ke kamar.
"Den Alby," sapa Mbok Asih.
Alby membalasnya dengan mengangguk sambil tersenyum. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sampai di kamar Alby merebahkan tubuh Azmia di atas kasur menyelimuti tubuh sang istri kemudian dia pun bergegas keluar kamar menuju ruang kerja karena ada kerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
'Dia benar-benar perempuan yang sangat berbeda, maafkan aku Mia belum bisa memberikan cinta yang tulus serta kebahagiaan yang seharusnya kamu dapatkan dari orang yang berada di sampingmu, betapa bodohnya saya menyia-nyiakan perempuan seperti mu. Aku janji akan berusaha memberikan cintaku padamu dan membuat mu selalu tersedia bahagia.
Di ruang kerja Alby tidak fokus bekerja karena pikirannya terus teringat-ingat dengan ucapan Wisnu.
__ADS_1
Flashback
Setelah menyelesaikan makan malam Alby, Angga, bersama Wisnu berkumpul di ruang keluarga, sedangkan Azmia dan Erna merapikan meja makan serta mencuci piring, gelas bekas mereka makan.
Di situlah Wisnu mengambil kesempatan untuk mengobrol bersama Alby, menyampaikan beberapa informasi tentang Azmia.
Wisnu sengaja memberi tahu tentang kehidupan Azmia supaya Alby tidak terus menerus menyakiti putrinya. Wisnu tak ingin Alby menyesal di kemudian hari.
Disitulah Alby baru sadar begitu memilukannya kehidupan Azmia, meskipun hidup di keluarga kaya raya, tapi tidak ada kasih sayang yang cukup baginya.
Flashback off
'Jika aku yang berada di posisinya mungkin belum tentu aku mau mengorbankan kebahagiaan ku. Benar apa yang Bunda bilang bahwa aku belum tentu bisa seperti Azmia andai aku berada di posisinya berkorban demi membalas hutang budi. Sungguh kamu wanita yang sangat tangguh, meski begitu berat masalah yang kamu hadapi, tapi tidak terlihat sedikitpun oleh orang lain. Perempuan yang luar biasa mampu menutupi segudang masalah yang ia hadapi dengan senyuman,' batin Alby.
*
*
*
__ADS_1
Tengah malam Azmia terbangun dari tidurnya karena merasa haus.
'Kok aku ada di kamar Mas Alby, terus kemana orangnya,' batin Azmia sambil celingukan mencari suaminya, tapi dia tak menemukan siapa pun di dalam kamar kecuali dirinya sendiri.
Azmia beranjak dari kasur keluar kamar menuju dapur, tapi langkahnya terhenti saat melihat pintu ruang kerja Alby pintunya sedikit terbuka karena penasaran Azmia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan kerja Alby.
Azmia membuka pintu secara perlahan dan berjalan masuk kedalam, terlihat Alby yang tertidur dengan posisi duduk Azmia pun menghampiri Alby. "Mas," panggil Azmia sambil menggoyang-goyangkan lengan Alby.
"Mas." Untuk kedua kalinya Azmia manggil.
Merasa ada sentuhan di tangannya. Alby membuka matanya. "Hem ... kamu, Mi." Alby mencoba menyadarkan nyawanya terlebih dahulu.
"Pindah ke kamar Mas tidurnya," ucap Azmia.
"Iya. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Alby.
"Mia ingin mengambil minum ke dapur, tapi tanpa sengaja lihat pintu ruangan terbuka karena penasaran jadi Mia ke sini saja," jelas Azmia.
"Oh." Alby beranjak dari duduknya berjalan keluar ruangan bersama Azmia.
__ADS_1
"Mia ke dapur dulu ya, Mas," ucap Azmia.
"Iya." Alby memilih langsung masuk ke dalam kamar.