
Makan malam.
"Mas, ayo!" ajak Azmia.
"Iya." Alby berjalan mengikuti sang istri dari belakang.
"Assalamualaikum," ucap Azmia di depan pintu rumah keluarga Pranata.
"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang dari dalam.
"Masuk, Nak!" Mama Sonia mempersilakan Azmia dan Alby masuk setelah ia membukakan pintu.
"Iya, Ma." Azmia menyalami Mamanya kemudian duduk di sofa ruang tamu.
Ada rasa bahagia bisa kembali ke rumah Pranata, tapi ada ke canggungan juga karena lama tidak jumpa.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Papa Prabu yang baru keluar kamar langsung menghampiri Azmia dan Alby.
"Alhamdulillah, baik, Pa," balas Azmia dan Alby bersama kemudian mereka menyalami Prabu.
__ADS_1
Prabu duduk bergabung bersama mereka.
Tak lama Rania keluar menuruni anak tangga menghampiri orang tua dan saudaranya.
"Selamat malam, selamat datang juga adikku tersayang," ucap Rania dengan penuh penekanan di setiap ucapannya.
"Selamat malam juga, Kak. Bagaimana kabar Kak Rania?" tanya Azmia dengan suara lembut.
"Seperti yang lu lihat," jawab Rania dengan sinis memandang Azmia dari atas sampai bawah. 'Ternyata banyak perubahan juga nih anak, sekarang dia semakin terlihat berwibawa, kecantikannya juga sepertinya juga terawat,' batin Rania.
"Kabar lu gimana, Al?" tanya Rania sambil mengulurkan tangannya menyalami Alby.
"O, iya, Al, aku mau minta maaf soal waktu itu, sebenarnya sih aku nggak bermaksud kabur dari rumah, tapi aku tidak tega menyakiti hati Adik kesayangan ku," ucap Rania.
"Maksud kamu?" Alby yang tak mengerti dengan ucapan Rania.
"Jadi Azmia jatuh cinta padamu pada pandangan pertama saat dia melihat mu datang menemui ku, sebagai Kakak yang baik aku korbankan perasaan ku untuk kebahagiaannya," jelas Rania.
"Itu tidak mungkin, karena aku tidak pernah melihat Azmia sekali pun," balas Alby.
__ADS_1
"Kamu memang tidak melihatnya, tapi dia melihatmu dari lantai atas. Suatu hari dia bilang padaku jika dia jatuh cinta padamu dan memohon padaku agar aku menjauhi darimu. Pada akhirnya aku memilih untuk kabur dari rumah, agar Adik ku bahagia meskipun hatiku terluka. Asal kamu tahu, Al, aku mencintaimu sangat mencintaimu. Aku rela mengorbankan perasaan ku, tapi kamu malah tetap menikahinya," ujar Rania dengan muka sedih.
"Bukankah, kamu pergi dengan laki-laki lain?" Alby tidak percaya begitu saja karena dia sudah hampir satu tahun bersama Azmia dan dia mengenal sosok Azmia adalah wanita yang luar biasa, baik, mandiri, lemah lembut.
"Aku tidak akan mengkhianati cinta kita, Al. Kamu adalah lelaki satu-satunya yang aku cintai," ucap Rania.
Rania yang tadinya duduk di depan Alby, kini berpindah ke samping Alby. Rania meraih tangan Alby menggenggam erat tangan Alby mencoba meyakinkan Alby, bahwa yang dia ucapkan semua adalah kenyataan.
Azmia hanya diam mendengarkan omongan Kakaknya, berusaha menahan sabar meskipun hatinya kini begitu sakit. Azmia bukan tidak ingin melawan Rania, tapi dia sadar keluarga Pranata banyak berjasa baginya. Azmia hanya bisa berdoa semoga Allah secepatnya menunjukkan kebenaran.
Azmia bukannya takut, tapi dia tidak ingin menyakiti seseorang yang sudah berjasa menjaganya, merawatnya dari kecil hingga dewasa.
"Jika kamu mencintaiku pastinya kamu tidak akan pernah mengkhianati cinta kita, memberikan aku pada orang lain. Aku bukan barang yang bisa kamu oper sana sini." Alby melepas genggaman tangan Rania sontak tindakan Alby membuat Rania kesal, tapi dia akan tetap berusaha bersikap manis.
"Aku takut karena Azmia mengancam ku, jika aku tidak pergi maka dia akan mencelakai orang-orang yang aku sayangi," ujar Rania.
Mendengar ucapan Rania seperti itu Alby langsung menoleh menatap kearah Azmia.
Alby meraih tangan Azmia menggegamnya dengan erat. Entah itu genggaman marah atau memberikan kekuatan.
__ADS_1
Azmia tak menoleh, dia masih tetap dengan posisinya menundukkan kepalanya, menenangkan hatinya yang begitu sakit.