Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 159 Akhirnya ketemu


__ADS_3

Setelah selesai menggantikan pekerjaan Ayahnya Alby bergegas pulang ke rumah terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian serta sekalian membeli makan malam buat Ayah dan Adiknya.


"Daf, lu mau ikut gue nggak?" tanya Alby lewat sambungan telpon.


"Kemana?" Daffa balik bertanya.


"Ke rumah sakit," jawab Alby.


"Boleh, jam berapa?" tanya Daffa lagi.


"Sebentar lagi gue berangkat udah rapi nih tinggal otw," jawab Alby.


"Ok, lu jemput gue ya," ucap Daffa.


"Wah ... karyawan songong lu ya, masa bosnya suruh jemput," balas Alby.


"Sekali-kali nggak apalah, lu kan temen terbaik gua," ujar Daffa.


"Ada maunya aja lu bilang baik, temen nggak ada akhlak lu," balas Daffa.


"Lu, kapan berangkatnya sih ngoceh mulu keburu pagi," ucap Daffa.


"Iya-iya ini otw, dah bye." Alby langsung mematikan sambungan telponnya.

__ADS_1


Setelah mematikan sambungan telponnya Alby menyambar kunci mobil kemudian berjalan keluar kamar menuju parkiran mobil.


Dua jam perjalanan dari rumah menjemput Daffa terlebih dahulu kemudian membeli makan malam baru lanjut menuju rumah sakit.


"Assalamualaikum," ucap Alby sambil membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam," balas semua yang ada di dalam ruangan. Mereka semua menoleh ke sumber suara.


Saat Alby berjalan masuk ke dalam ruangan teatapan langsung tertuju pada wanita cantik yang berada di samping Bunda. Wanita yang selama ini ia cari. Alby perlahan melangkah kan kakinya menghampiri wanita tersebut.


Dia ingin membuktikan kalau kali ini dia tidak berhalusinasi atau mimpi. Saat sampai di samping wanita itu Alby menatapnya tanpa berkedip. "Mia," lirih Alby.


Azmia hanya menunjukkan kepalanya, dia nggak tau harus berbuat apa lama tidak berjumpa suaminya membuatnya salting dan deg degan.


"Tidak, Al," jawab Bunda.


Setelah mendengar jawaban Bunda tanpa aba-aba Alby langsung memeluk wanita yang selama ini ia rindukan. Azmia tak menolak karena Alby memang masih berstatus suaminya. Azmia terdiam tak bergerak.


"Kenapa kamu tidak pernah menemui ku, kenapa kamu pergi meninggalkan aku Mi, kenapa tidak pernah memberikan kabar padaku, kenapa? maafkan aku Mi, maafkan aku, harus berapa kali lagi aku meminta maaf. Haruskah dengan cara apa agar kamu mau memaafkan ku," ucap Alby dengan derai air mata. Dia seakan tak peduli dengan orang-orang di sekitar yang melihatnya menangis.


Melihat suasana yang tidak bersahabat Bunda memberikan kode pada yang lain agar keluar dari ruangan.


Ayah Wisnu, Revan, Karina dan Daffa yang mengerti kode dari Bunda dengan langkah pelan mereka keluar dari ruangan.

__ADS_1


Alby melepas pelukannya kemudian bersimpuh di hadapan sang istri, tangan Alby menggenggam erat tangan Azmia menatap dalam-dalam wanita yang ada di hadapannya.


Azmia semakin menundukkan kepalanya, dia tak bisa menatap Alby yang terus meneteskan air mata. Hati Azmia begitu tersayat saat merasakan air mata Alby menetes membasahi tangannya.


"Mi, apa kamu tak ingin melihatku? segitu bencinya kamu kepadaku? sehingga tak ingin melihatku meski hanya sesaat," ucap Alby.


Azmia bukan menjawab ucapan Alby dia hanya bisa menangis. Mulutnya terasa kaku untuk berucap.


Bunda menangis melihat pemandangan di sampingnya antara anak dan menantunya sebagai seorang Ibu beliau bisa merasakan bagaimana perasaan Alby saat ini.


Setelah berdiam beberapa saat kini Azmia memberanikan diri menatap Alby sesaat kemudian mulai membuka suara. "Mas," lirih Azmia.


"Maafkan Mia karena tidak bisa menjadi istri yang baik, istri yang tidak patuh pada suaminya. Istri yang tidak bisa memberikan kebahagiaan pada suaminya. Maaf Mia harus pergi meninggalkan Mas Alby, Mia hanya ingin Mas Alby bahagia dengan cinta dan pilihan hati Mas Alby. Mas, besok adalah hari sidang perceraian kita semoga Mas Alby bisa datang dan semoga berjalan dengan lancar sehingga bisa memperjelas status kita," jelas Azmia.


"Tidak adakah kesempatan lagi untuk Mas?" tanya Alby.


"Mas, semua ini adalah yang terbaik untuk kita, teruslah bahagia dengan pilihan hatimu," ujar Azmia kemudian berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alby, tapi Alby tak mau melepaskan genggaman tangannya.


"Jika memang ini adalah keputusan mu, Mas akan ikuti kemauan mu, Mas, tak bisa lagi memaksamu. Mas hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia," balas Alby.


"Amin." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Azmia.


"Bolehkah Mas minta satu permintaan sebelum kita mengakhiri semuanya?" tanya Alby dengan tegas.

__ADS_1


__ADS_2