
Kediaman Pranata
"Apa kamu yakin ingin pergi, apa kamu tidak kasihan sama Mama," ucap Mama Sonia di samping Putrinya yang sedang berkemas memasukkan baju ke dalam koper.
"Ma, Nia hanya pergi untuk sementara. Semoga dengan pergi ini, bisa membuat Nia mengubah semuanya," jelas Rania.
"Amin. Semoga kamu bisa menemukan cinta sejatimu sayang. Maafkan Mama tidak bisa menemani mu, tapi doa Mama akan selalu untukmu," ucap Mama Sonia.
"Terima kasih, Ma," balas Rania kemudian memeluk Mamanya.
"Apa sudah siap, Nak?" tanya Papa Prabu di depan dekat pintu kamar Rania.
Mendengar ada suara Papa Prabu, Rania dan Mama Sonia langsung melepaskan pelukannya.
"Sudah, Pa," jawab Rania. Karena barang yang dia bawa tidak terlalu banyak, Rania hanya membawa barang yang penting saja.
"Baiklah, ayo!" ucap Papa Prabu.
"Iya, Pa. Nia ambil tas dulu." Rania menutup kopernya kemudian berdiri dari duduknya mengambil tas kecil yang berada di meja rias.
__ADS_1
"Papa sama Mama tunggu di bawah ya," ucap Papa Prabu sambil menarik koper Rania berjalan keluar kamar Rania menuju lantai satu.
"Iya, Pa," balas Rania.
Pasti aku akan merindukan tempat ini, sampai ketemu lagi entah kapan aku akan kembali lagi, batin Rania sebelum keluar dari kamarnya sambil memandangi seisi kamarnya. Setelah itu dia berjalan menyusul Mama dan Papanya yang sudah menunggu di lantai bawah.
"Ayo!" Papa mengajak Rania agar segera berangkat karena sebentar lagi pesawat akan terbang.
Rania mengangguk. Kemudian dia dan Mama Sonia berjalan masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang, sedangkan Papa Prabu duduk di samping sopir.
Di dalam mobil tak ada obrolan apapun semua terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Sekitar satu jam perjalanan kini mereka telah tiba di Bandara.
"Kamu baik-baik di sana ya, jangan lupa kabari Mama jika sudah tiba," pesan Mama Sonia sambil memeluk putrinya dengan tangis kesedihan karena akan di tinggal Putrinya.
"Iya, Ma. Mama juga selalu jaga kesehatan ya. Nia pasti akan selalu memberi kabar pada Mama," ucap Rania. Kemudian melepaskan pelukannya. Kini Rania berganti menuju Papa Prabu.
"Pa, Nia pamit ya maafkan Nia selalu membuat Papa kecewa," ucap Rania dengan derai air mata.
__ADS_1
"Iya, Nak. Baik-baik di sana, selalu jaga kesehatan," pesan Papa Prabu sambil memeluk Putrinya.
Mendengar panggilan informasi pesawat akan segera terbang. Rania segera melepas pelukannya dari sang Papa kemudian menyalami tangan beliau. "Pa, Nia pamit ya. Assalamualaikum," ucap Rania.
"Wa'alaikumussalam," balas Papa Prabu.
Setelah Papanya. Rania berganti menuju Mama Sonia. "Ma, Nia berangkat dulu ya," ucapnya sambil mencium tangan Mamanya.
Mama Sonia hanya membalasnya dengan tangisan beliau tak bisa berkata-kata lagi. Beliau begitu sedih di tinggal pergi putrinya.
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya Rania menarik koper berjalan menuju pesawat.
Mama Sonia melambaikan tangannya pada Rania. "Kenapa Papa biarkan anak kita pergi." Mama Sonia yang tak rela anaknya harus pergi jauh darinya.
"Nia sudah besar, Ma. Biarkan dia mandiri dan memahami tentang kehidupan," balas Papa Prabu sambil memeluk sang istri.
"Sekarang kita pulang ya," ucap Papa Prabu kemudian melepaskan pelukannya.
Mama Sonia mengangguk. Mereka pun berjalan menuju parkiran mobil.
__ADS_1
**
Bermimpi boleh, tapi jangan pernah merasa kecewa jika mimpi itu belum terwujudkan. Terkadang kita tidak pernah sadar bahwa Allah sudah mewujudkan mimpi itu, hanya saja apa yang berikan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bukan karena Allah tidak memberikan apa yang kamu mau, tapi Allah memberikan apa yang kamu butuhkan dan yang terbaik untukmu.