
Aku akan berusaha untuk memperjuangkan Mu Mi jika memang kamu adalah jodohku pasti Allah akan kasih jalan untuk mempersatukan kita berdua, batin Ardiaz sambil melihat foto Azmia yang ada di ponselnya.
Setelah bertemu dengan Azmia beberapa hari yang lalu kini Ardiaz semakin yakin pada dirinya jika Azmia patut untuk di perjuangan bukan untuk di lupakan dan dia yakin suatu hari nanti orang tuanya akan merestuinya.
***
Di kediaman Alby
Semua orang sudah bersiap untuk berangkat menuju rumah Nila.
"Van, cepatlah," teriak Bunda dari lantai bawah.
"Iya, Bun," balas Revan tak kalah teriaknya. Tak lama kemudian dia keluar kamar sudah rapi menggunakan baju kemeja biru mudah seragam keluarga Alby.
"Azmia sudah datang belum, Bun?" tanya Revan saat tiba di ruang tamu.
"Belum. Tadi dia bilang masih di jalan, tapi hingga sekarang belum juga datang," jawab Bunda.
"Ya sudah, Bunda sama Ayah serta yang lain berangkat saja dulu biar Revan nunggu Azmia nanti kita nyusul ke sana," ucap Revan memberi saran agar tidak terlambat dalam acara pertunangan Alby dan Nila.
"Baiklah kalau begitu kami berangkat terlebih dahulu," balas Bunda.
Bunda memberikan instruksi pada semua keluarga yang ikut hadir dalam acara pertunangan Alby supaya berangkat sekarang juga.
"Baik-baik di rumah tunggu sampai Azmia datang beri kabar jika kalian akan tiba. Mas akan menunggu kalian datang," ucap Alby sambil memegang bahu Revan.
"Siap, Mas," balas Revan.
Bunda, Ayah dan Alby berada dalam satu mobil. Mereka pergi membawa rombongan tiga mobil satu mobil seserahan, dua mobil sanak saudara terdekat.
__ADS_1
Kamu kemana sih, Mi di telpon dari tadi nggak di angkat, bikin khawatir saja, batin Revan sambil mondar-mandir di depan pintu menunggu Azmia yang tak kunjung datang.
Tiga puluh menit berlalu Azmia tak kunjung datang juga.
Apa Azmia nggak bisa datang ya, tapi kok dia nggak kasih kabar. Gue coba telpon Karina saja kali mungkin mereka pergi berdua,batin Revan.
***
Di tempat lain
Ya Allah kenapa macet sekali sih ada apa ini, batin Azmia. Karena penasaran macet sedari tadi tak kunjung jalan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari mobil melihat keadaan di depan.
"Itu kenapa banyak orang, Pak?" tanya Azmia pada salah seorang bapak-bapak penjual tissue keliling.
"Oh, itu ada kecelakaan, Mba. Ibu-ibu di tabrak mobil saat ingin menyebrang jalan," jawab Bapak penjual tissue.
Setelah mendengar penjelasan bapak penjual tissue akhirnya Azmia berusaha untuk mendekat ke arah kerumunan orang.
"Astaghfirullah, Tante," teriak Azmia saat melihat korban tabrakan.
"Apa, Mba kenal dengan korban?" tanya salah satu orang yang di kerumunan.
"Iya, saya mengenalnya, tolong bantu bawa kedalam mobil saya," teriak Azmia meminta bantuan pada orang sekitar agar membantunya mengangkat korban.
Beberapa orang mengangkat tubuh korban mengikuti langkah Azmia menuju mobil.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Azmia setelah korban di dalam mobil.
Salah satu orang membantu Azmia agar semua mobil bergeser memberikan jalan pada Azmia agar segera tiba di rumah sakit lebih cepat.
__ADS_1
Alhamdulilah sekitar lima belas menit Azmia tiba di rumah sakit terdekat.
"Suster tolong," teriak Azmia setelah keluar dari mobil.
Dua perawat datang membawa brankar setelah memindahkan pasien dari mobil ke brankar kemudian mendorong masuk ke dalam rumah sakit.
Azmia dengan setia berada di samping pasien. Dia ikut berlari kecil saat pasien di bawa ke IGD.
"Tante bertahan ya," ucap Azmia sambil memegang tangan pasien sebelum pasien masuk ke dalam IGD.
Azmia duduk di kursi tunggu depan IGD karena kepanikannya dia sampai melupakan hal yang sangat penting.
Azmia tersadar saat tiba-tiba ponselnya bunyi.
Dia segera mengambil ponsel tersebut yang berada di dalam tasnya. "Astaghfirullah," ucap Azmia saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Assalamualaikum," ucap Azmia setelah menekan tombol hijau.
".........."
"Mia di rumah sakit, Kak," balas Azmia.
".........."
"Maaf Mia lupa. Ceritanya panjang tolong sampaikan maaf Mia ke Bunda dan Ayah ya Kak," ucap Azmia.
"........"
"Baiklah." Azmia menutup sambungan telponnya.
__ADS_1
Maafkan Mia nggak bisa hadir dalam acara pertunangan mu, Mia juga tidak tahu jika akan ada kejadian seperti ini, batin Azmia.