Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 37


__ADS_3

Memang semua itu butuh waktu untuk menyatukan dua insan yang berbeda, dari keturunan yang berbeda, watak beda, semuanya serba berbeda.


Sudah hampir satu bulan ini hubungan Alby dengan Azmia sedikit ada kemajuan, mereka yang sering menghabiskan waktu bersama, setiap libur kuliah Alby selalu mengajak Azmia ke kantor.


Bukan hanya Azmia yang senang melihat perubahan Alby. Daffa pun sama bahagianya saat melihat sahabatnya memperhatikan Azmia dari pada memanjakan Elvina. Membahagiakan istri itu kan pahala, jalan menuju ke suksesan, rezeki makin melimpah. Lha kalau Elvina yang di manjain bukannya pahala malah makin nambah dosa.


Bunda yang sudah mengetahui perubahan anaknya kini dia bisa tenang meninggalkan menantunya dalam jangka waktu yang lama karena kini Bunda Sofi dan Ayah Wisnu harus menyelesaikan kerjaan di perusahaan cabang yang berada di kota M.


Angga juga lebih tenang saat melihat wajah semringah Adik angkatnya, jika Azmia bahagia dia juga bahagia.


*


*


*


"Sore, Nin," sapa Azmia.


"Sore juga, Mba," balas Nina.


"Nin, nanti kalau ada orang yang mencari saya suruh tunggu saja ya," ucap Azmia.

__ADS_1


"Baik, Mba," balas Nina.


Setelah memberitahu Nina, Azmia melangkahkan kakinya menuju ruangan pribadinya.


Tak lama setelah Azmia masuk, Karina dan Melia datang, tapi mereka bukan menyusul Azmia masuk ke dalam ruangannya melainkan membantu melayani para pembeli.


Karina dan Melia menggantikan para karyawan yang sedang bergantian istirahat.


"Ingin pesan apa, Kak?" tanya Melia.


"Saya ingin coffe latle satu, Mba," jawabnya.


"Baik, di tunggu sebentar." Melia meninggalkan meja tersebut berjalan menuju dapur memberikan kertas pesanan.


"Biasa. Aku keluar dulu sebentar ya," pamit Azmia melangkah pergi meninggalkan Melia.


"Mau kemana si Mia, tumben rapi banget?" tanya Karina pada Melia.


"Hist, kamu nih bikin kaget aja udah kayak jalangkung," omel Melia karena terkejut tiba-tiba Karina datang dari arah belakang. Ke dua sahabatnya di buat bingung karena tidak biasanya Azmia pergi menggunakan mobil.


Tadi tanpa sengaja Karina melihat saat Azmia menuju garasi mobilnya.

__ADS_1


*


*


*


"Maaf, Bu Mia harus menunggu lama," ucap seseorang yang baru datang.


"Tidak apa-apa, Pak, Saya juga baru datang. Panggil saja Azmia," balas Azmia karena merasa umurnya lebih muda.


"Baiklah, biar sama-sama enak panggil saya Faqih," ucapnya. "Untuk mempersingkat waktu kita langsung saja ya, Mia," lanjut Faqih.


"Ini adalah gambaran sesuai dengan keinginan kamu. Bagaimana?" tanya Faqih memperlihatkan desain kafe yang akan di bangun Azmia.


"Lumayan bagus, Kak, tapi Mia tidak bisa memutuskan sekarang. Mia minta persetujuan dari keluarga dulu," ucap Azmia.


"Baiklah itu tidak jadi masalah, nanti jika sudah deal kamu bisa kabarin saya," balas Faqih.


Faqih Alzheimer -- seorang arsitektur terkenal di kota A. Pengusaha muda pula.


"Sambil kamu melihat-lihat rancangan desain itu, saya pesan minuman dulu." Faqih memanggil salah satu karyawan kemudian ia memesan dua jus alpukat.

__ADS_1


"Kamu sudah lama mendirikan kafe cinta?" tanya Faqih.


"Bukan saya, Kak. Mia hanya asisten." Azmia belum siap jika orang mengetahui identitasnya. Dia lebih senang di anggap pelayan kafe dari pada bos pemilik kafe. Dia takut tak bisa menjaga hatinya karena terkadang setiap ada sanjungan membuat kita sombong tanpa kita sadari.


__ADS_2