Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 59 Prank


__ADS_3

Manusia paling pandai jika membolak-balik kan fakta. Berbohong demi kebahagiaannya sendiri, tanpa merasa bersalah dengan kelakuannya.


"Azmia, ambilkan suamimu minum!" Perintah Mama Sonia.


"Baik, Ma," balas Azmia kemudian dia berdiri dari duduknya melangkahkan kakinya menuju dapur.


'Ini rumah kenapa sepi sekali, kemana para asisten rumah tangga," batin Azmia yang heran saat melihat di dapur tak ada satu pun art.


"Adikku sayang, kalau bikin minum sekalian buat kita ya," teriak Rania.


"Mas Alby, gimana kalau malam ini kita jalan-jalan keluar?" tanya Rania.


"Kemana?" Alby balik bertanya.


"Ke taman kota saja pasti di sana sangat ramai," jawab Rania.


"Baiklah." Alby menyetujui ajakan Rania.


"Kalian ini cocok sekali," ucap Mama Sonia.


"Hust, Ma. Alby ini kan suaminya Azmia," omel Prabu pada istrinya.


"Halah, denger ya Pa, Azmia itu sudah mengambil Alby dari Rania, sekarang kan Rania susah kembali jadi patutlah jika Alby kembali pada Rania. Lagian nih ya Alby tuh lebih cocok sama Rania dari pada anak punggut itu," jelas Mama Sonia tak mau kalah dari suaminya.

__ADS_1


"Tapi, Ma ___." Prabu belum selesai berbicara Sonia sudah nerocos dulu.


"Sudahlah, Papa tidak perlu ikut campur," omel Sonia.


"Terserah Mama saja." Pada akhirnya bapak-bapak harus mengalah bukan berarti takut sama istri, tapi malas berdebat.


Tak lama Azmia kembali ke ruang tamu membawa nampan yang berisi lima gelas teh hangat. "Silakan!" Azmia mempersilakan semua orang untuk menikmati minuman yang ia buat.


"Kita, jalan sekarang yuk, Mas! sekalian kita makan malam di luar saja," rengek Rania.


"Baiklah, ayo!" Alby berdiri dari duduknya di ikuti Rania, kemudian mereka berpamitan pada ke dua orang tuanya sebelum keluar rumah. Bukan hanya pamit Prabu dan Sonia, Alby juga berpamitan ke Azmia. "Mia, tunggu saja di sini ya, nanti kita pulang bareng," ucap Alby.


Azmia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Sepertinya Alby masih mencintai Rania," sindir Mama Sonia.


"Sudahlah, Ma." Papa Prabu menyuruh istrinya agar berhenti berbicara.


"Kamu lihat sendiri kan, bagaimana Alby memperlakukan Rania, mereka memang masih saling mencintai, cepat atau lambat Alby pasti akan kembali dengan Rania," ucap Mama Sonia dengan percaya diri. Dia dengan seenak jidatnya mengambil kembali setelah orang tersebut menjadi hak milik orang lain.


Dulu dia yang memaksa agar Azmia mengganti kan Rania, kini dengan tanpa dosa dia ingin mengambilnya lagi.


Azmia hanya diam tak menjawab sepatah kata pun, dia hanya bisa berdoa dan menerima apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


"Kami, akan pergi karena ada janji sama orang makan malam di luar, jadi kamu bisa pulang sekarang juga." Tanpa rasa iba Sonia mengusir Azmia secara halus.


"Ma, kasihan Azmia, kita antarkan pulang terlebih dahulu," ucap Prabu.


"Biarkan saja di pulang sendiri, dia kan bukan anak kecil lagi, Pa," balas Mama Sonia.


"Mia, bisa pulang sendiri kok, Pa." Azmia membuka suara. Dia tidak akan merepotkan orang lain dengan berat hati Azmia berdiri dari duduknya berpamitan pada Prabu dan Sonia kemudian dia berjalan keluar rumah, setelah keluar gerbang rumah Pranata Azmia langsung menelpon salah satu karyawan agar menjemputnya.


Sambil menunggu jemputan Azmia melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit menjauh dari kediaman Pranata. Tak lama mobil jemputannya datang. Azmia langsung masuk ke dalam mobil duduk di samping sopir.


"Mba Mia, baik-baik saja?" tanya Nina -- karyawan sekaligus asisten pribadi Azmia. Saat melihat keadaan Azmia yang terlihat murung.


"Saya tidak apa-apa, Nin," jawab Azmia mencoba untuk tersenyum meski dalam hatinya ia ingin sekali menangis saat ini.


Dari rumah dia sangat bahagia karena keluarga Pranata mengundangnya untuk makan malam itu tandanya mereka masih mengingat Azmia, tapi ternyata dugaannya salah mereka hanya ngeprank belaka, bahkan dia di usir tanpa rasa kasihan sedikitpun. Bahkan suaminya meninggalkan dia pergi dengan wanita lain. Sungguh malang sekali nasibnya. Kini hatinya begitu sesak sejak tadi dia tahan-tahan agar air matanya tidak jatuh, dia tidak ingin terlihat lemah di depan semua orang, Azmia menyakinkan dirinya bahwa dia wanita kuat, hebat, tapi sekuat apapun dirinya di depan orang lain, di sisi lain dia juga manusia biasa yang memiliki batas ke sabaran.


Azmia memejamkan matanya tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja, karena saking sudah tak mampu lagi menahan sesak di dadanya.


"Menangislah, Mba jika itu bisa melegakan hati Mba Mia. Apa perlu Nina berhenti terlebih dahulu agar Mba Mia bisa puas mengeluarkan semua unek-unek Mba Mia," ucap Nina. Saat bersama Nina, Azmia merasa bersama teman karena umur mereka hampir sama.


"Tidak perlu, Nin, kita jalan agak lambat saja," balas Azmia.


"Baik, Mba."

__ADS_1


__ADS_2