Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 50 Restoran Army


__ADS_3

"Mi, apa hari ini kamu kuliah?" tanya Alby sambil mengancingkan lengan bajunya.


"Tidak. Memangnya kenapa, Mas?" Azmia balik bertanya.


"Ikut ke kantor yuk! hari ini aku ada pertemuan di luar kantor sekalian kita jalan," ucap Alby.


"Baiklah. Mia ganti baju terlebih dahulu." Azmia yang tadi duduk santai di sofa kini langsung berdiri dari duduknya menuju ruang ganti.


Tak butuh waktu lama Azmia sudah rapi dengan atasan berwarna putih dan bawahan hijau muda di tambah sedikit bedak serta lipbam berwarna pink.


"Sempurna," ujar Alby dengan tersenyum saat melihat penampilan sang istri yang begitu simpel, tapi tetap terpancar kecantikannya.


"Ayo, Mas!" Azmia meraih tas kecil yang ia selempang kan di bahunya kemudian berjalan keluar kamar, di ikuti Alby dari belakang.


**


Di kantor seperti biasa saat Alby masuk semua karyawan menyapa bosnya. Alby pun membalas semua dengan senyuman.


"Bu Mia, apa kabar?" tanya Daffa yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Hist ... kau ini seperti jalangkung saja. Sejak kapan berada di belakang kita." Bukan Azmia yang menjawab melainkan Alby.


"Apaan sih, Al. Gue nanya sama Azmia," ucap Daffa.


"Sudah-sudah. Alhamdulillah saya baik, Kak," balas Azmia.


"Sudahlah, jangan hiraukan dia." Alby menarik tangan Azmia berjalan lebih cepat menuju ruangannya.


"Tunggu, woi." Daffa mempercepat langkahnya mengikuti langkah Alby.


Alby dan Azmia sampai lebih dulu di ruang Alby.


"Selamat pagi, Pak," sapa sekertaris Alby.


"Pagi juga," balas Alby.

__ADS_1


"Pak hari ini pukul sepuluh ada pertemuan dengan PT. DR di restoran Army," ucapnya.


"Iya, siapkan saja semuanya nanti bawa ke ruangan saya," jelas Alby.


"Baik, Pak," balas Anita.


Alby dan Azmia masuk ke dalam ruangan. Alby duduk di kursi kebesarannya sedangkan Azmia memilih duduk di sofa. Tak lama Daffa datang tanpa permisi langsung saja masuk ke dalam ruangan.


"Kalau masuk ketuk pintu dulu," sindir Alby.


"Lupa." Daffa langsung duduk di kursi depan Alby.


"Lu, ngapain kesini, ruangan lu dimana?" tanya Alby.


"Numpang istirahat sebentar," jawab Daffa. Entah ngapain si Daffa ngikuti Alby terus menerus seperti orang nggak jelas begitu.


Azmia tak perduli dengan ke dua manusia di depannya dia lebih memilih memandangi layar ponselnya melihat beberapa foto yang di kirim Bagas dan Angga desain cafe yang akan Azmia dirikan.


Azmia ingin terus bangkit dengan sendiri tidak ingin mengandalkan harta suami, meskipun kehidupan Azmia akan terjamin karena Alby adalah pengusaha kaya, tapi Azmia tetaplah Azmia perempuan tangguh dan pekerjaan keras selagi dia masih mampu untuk berdiri sendiri maka dia akan terus berusaha.


"Permisi, Pak," ucap seseorang di depan pintu ruangan siapa lagi kalau bukan Anita.


"Ini semua berkas untuk rapat hari ini." Anita memberikan beberapa map.


"Terima kasih," ucap Alby.


Anita mengangguk kemudian berjalan keluar ruangan Alby.


Setelah kepergian Anita. Alby menyuruh Azmia untuk mengecek berkas yang di berikan sekretarisnya supaya Azmia mempelajari lebih dahulu karena pertemuan kali ini Alby tidak akan membawa Anita, dia ingin Azmia dan Daffa saja yang bersamanya.


"Bagaimana, Mi?" tanya Alby.


"Lumayan, tapi nanti biar Kak Daffa saja yang berbicara Azmia belum terbiasa jika di luar," ucap Azmia.


"Baiklah, tidak apa, tapi kamu harus belajar karena suatu saat nanti kamu juga akan menjadi seorang pemimpin." Karena Azmia adalah istrinya pasti suara hari nanti Azmia akan memegang perusahaan bersama Alby.

__ADS_1


Alby tidak tahu saja jika Azmia sebenarnya adalah bos.


"Mia, tidak mau memimpin perusahaan." Azmia memang tidak tertarik untuk terjun ke dunia bisnis perusahaan besar, dia lebih suka berdagang tidak terlalu ribet buatnya. Andai dia mau pasti Papi Wisnu sudah menyuruhnya untuk memimpin perusahaan cabang, tapi Azmia menolak tidak berminat.


"Kenapa?" tanya Alby.


"Pusing," jawabnya dengan enteng.


Mendengar ucapan Azmia yang begitu singkat padat jelas membuat Alby menggelengkan kepalanya. Banyak orang yang berusaha untuk bisa memimpin perusahaan lha ini malah sebaliknya menolak dengan mentah-mentah.


"Al, ayo berangkat sekarang takut nanti macet di jalan," ucap Daffa yang baru datang langsung nerocos.


"Ok." Alby menutup layar laptopnya kemudian berdiri dari duduknya berjalan menghampiri sang istri. "Ayo!" Alby mengulurkan tangannya. Azmia pun membalas uluran tangan Alby mereka pun berjalan bergandengan tangan.


"Janganlah kalian mengumbar keromantisan di depan jomblo," protes Daffa.


"Makanya cepetan cari pacar," ucap Alby.


"Gue maunya istri bukan pacar," balas Daffa.


"Yaudah sana cari," ujar Alby.


"Tidak semudah beli cabe Bambang," balas Daffa. "Mi, lu nggak punya teman yang cocok buat gue," lanjut Daffa kini dia beralih ke Azmia.


"Tidak ada. Nyetir mobil yang benar." Bukan Azmia yang menjawab, tapi Alby. Kini mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju restoran Army.


"Iya-iya," balas Daffa.


Tak lama kemudian mobil mereka sampai di tempat tujuan. Setelah mobil terparkir mereka bertiga keluar dari mobil berjalan menuju restoran Army yang berada di lantai dua.


"Selamat datang di restoran Army," sapa salah satu karyawan yang berada di pintu masuk.


Azmia membalas dengan senyuman. Mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju meja nomor lima.


"Kita pesan minum saja dulu," ucap Alby setelah mereka duduk.

__ADS_1


"Ok, siap, Pak Bos," balas Daffa.


Daffa pun memanggil salah satu karyawan dan memesan minuman.


__ADS_2