
"Saya sangat menyayangkan sekali ternyata Ayah salah memilih. Jangan kalian anggap saya tidak tahu apa-apa tentang kalian. Oh, iya saya lupa, kalian berdua pasti bingung ya kenapa saya panggil. Sebenarnya sih saya hanya ingin kenalan sama kalian berdua, tapi karena sikap kalian yang keterlaluan jadi saya minta tolong mulai besok kalian tidak perlu lagi bekerja di sini," ucap Azmia dengan tegas.
"Ada apa sih sebenarnya?" Kabin bertanya pada Revan.
"Lu nanya gue, lha gue juga bingung. Lu kan tahu beberapa hari ini gue tinggal sama lu," jawab Revan.
"Iya, ya," ucap Kabin.
"Maksud, Bu Mia kami di berhentikan kerja?" tanya Bu Wila.
"Iya. Apa, Bu Wila keberatan?" tanya Azmia.
"Tentu saya keberatan karena saya merasa tidak memiliki kesalahan, lagi pula hanya Pak Wisnu yang berhak memecat saya," jelas Bu Wila.
Azmia tertawa kecil. "Bu Wila, Bu Wila ternyata Bu Wila masih belum sadar dengan kesalahan Bu Wila. Apa harus Pak Wisnu tahu juga kesalahan Bu Wila supaya lebih afdal. Keputusan saya memecat Bu Wila ada alasan yang kuat, jika saya memberi tahu Ayah Wisnu pastinya Ayah akan setuju dengan keputusan Saya," ujar Azmia.
"Maaf sebelumnya. Begini, Bu Mia, apa alasan, Anda memecat kamu?" tanya Pak Daru.
'Apa dia mengetahui semuanya ya, ah ... tapi nggak mungkin,' batin Pak Daru.
Revan dan Kabin hanya diam saja melihat Istri dan karyawannya, dia yakin istrinya tidak akan bertindak jika tidak ada orang yang mencari masalah padanya.
"Kalian ingin tahu alasannya. Baiklah saya akan kasih tahu." Azmia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Kalian tahu ini apa?" tanya Azmia sambil memegang beberapa kertas di tangannya.
"Foto," jawab Pak Daru dan Bu Wila.
"Pintar sekali. Apa kalian berdua ingin melihatnya?" tanya Azmia sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Tentu."
'Foto apaan ya itu? Apa iya, dia bisa mengetahui semuanya, tapi nggak mungkin kan cctv udah di hapus,' batin Bu Wila.
Azmia menaruh foto-foto tersebut di atas meja.
'Si*l dari mana wanita ini bisa mendapatkan semuanya,' batin Bu Wila.
Revan dan Kabin yang penasaran, mereka berdua langsung menghampiri Azmia.
Revan dan Kabin di buat terkejut dengan foto-foto itu. Bukti yang beberapa hari ini mereka cari, tapi tak berhasil kini dengan mudahnya Azmia bisa mendapatkannya.
"Bu Wila, berperan sebagai kamerame. Bu Wila kan yang meriset laptop Pak Kabin dan Bu Wila juga yang menyuruh seorang wanita untuk datang ke kantor serta menyuruh wanita itu untuk berbuat tidak sopan pada suaminya supaya saya dan Pak Revan bertengkar. Apa Bu Wila tidak memikirkan akibatnya jika melakukan hal seperti itu. Hal macam itu bisa merugikan Ibu sendiri, karena ibu bisa kehilangan pekerjaan serta sulit mendapatkan pekerjaan kembali."
"Pak Daru. Bapak pernah nggak mikir jika Ayah Wisnu mengetahui kelakuan Pak Daru pasti Ayah Wisnu akan sangat-sangat kecewa dengan Bapak dan pastinya Ayah akan sangat marah karena Bapak hampir saja menghancurkan rumah tangga putrinya."
Pak Daru dan Bu Wila terdiam, mereka saling pandang.
"Kenapa hanya diam? Kalian terkejut, nggak menyangka saya bisa tahu kejahatan kalian padahal kalian sudah menghilangkan jejak," ujar Azmia.
"Van, bini lu keren banget." Kabin mengangkat kedua jari jempolnya ke arah Revan.
"Permisi, Pak ada tamu," ucap sekretaris.
"Suruh masuk, Mba," balas Azmia.
"Baik, Bu." Sekretaris membukakan pintu untuk tamu.
"Non, ini orang yang Nona cari," ucap dua orang berpakaian serba hitam.
__ADS_1
"Oh, ternyata Anda. Silakan duduk!" Azmia mempersilakan wanita yang di bawa ajudan Azmia.
"Kalian boleh pergi," ujar Azmia pada kedua ajudannya.
"Baik, Non. Permisi."
Semua orang yang ada di dalam ruangan tercengang melihat pemandangan di depannya. Revan dan Kabin hanya bisa menggelengkan kepala melihat Azmia. Sedangkan Pak Daru dan Bu Wila semakin bergetar karena sebentar lagi apa yang dia lakukan akan terbongkar semua.
"Ella Maharani - wanita karir yang bekerja di PT EL sebagai resepsionis. Apa kabar Mba Ella? Pastinya baik-baik sajalah ya. Senang sekali bisa bertemu dengan Mba Ella, ets ... tapi ini bukan pertama kalinya ya kita ketemu, kita sempat bertemu beberapa hari lalu di ruangan ini juga. Mba Ella tidak lupakan? Mba Ella pasti bertanya-tanya kenapa di bawa kesini. Eh, tapi Mba Ella pasti sudah tahu sih kenapa sampai di bawa kesini. Senang deh rasanya bisa berkumpul seperti ini," ucap Azmia.
"Maksud Anda apa ya?" tanya Ella dengan nada yang sedikit sensi.
"Maksud saya apa? Anda nggak paham atau memang pura-pura tuli," jawab Azmia. Dia mulai kesal dengan sikap Ella yang sok-sokan.
** "Bakal ada perang dunia ke delapan ini," ucap Kabin.
"Bukan kedelapan lagi, sudah level sepuluh," balas Revan. **
"Kalian bertiga ingin jujur di depan saya atau di depan polisi?" tanya Azmia.
"Untuk apa gue ngomong sama lu yang nggak jelas seperti ini," jawab Ella.
"Baiklah kalau begitu, memang lebih baik kalian bertiga ini saya bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan kalian. Biar polisi saja yang bertindak," ucap Azmia kemudian dia mengambil ponsel mencari kontak kantor polisi.
"Tunggu!" ucap Bu Willa menghentikan Azmia saat ingin menelpon polisi. Dia nggak mau di penjara karena anaknya masih membutuhkan dia.
"Kenapa, Bu Willa?" tanya Azmia kemudian meletakkan kembali ponselnya.
"Saya akan menceritakan semuanya pada Bu Mia, tapi saya mohon jangan lapor polisi. Saya nggak ingin masuk penjara, kasihan anak saya nanti jika tidak ada saya di rumah," jelas Bu Willa dengan nada memohon. Dia memilih untuk jujur dari pada nanti dia masuk jeruji besi. Dia nggak mau nama keluarganya jelek akibat ulahnya.
__ADS_1