
"Gimana persiapan untuk acara nanti?" tanya Ali.
"Besok baru akan ke butik," jawab Azmia.
"Mas kenapa sih mukanya sedih gitu?" tanya Azmia saat melihat wajah Ali yang terlihat murung.
"Sedih di tinggal kesayangan ku," jawab Ali.
"Siapa?" tanya Azmia yang tak mengerti dengan ucapan Kakaknya.
"Kamu," jawab Ali dengan tersenyum manis.
"Mia kan nggak kemana-mana, Mas," ujar Azmia.
"Kamu kan sebentar lagi nikah, Dek terus tinggal bersama suami mu. Mas jadi sendirian lagi deh," jelas Ali. Dia pasti akan kesepian lagi.
"Jarak rumah kita kan dekat, Mas. Mia bakal sering main ke sini kok," ucap Azmia.
"Iya, tapi kan tetap saja beda, Dek," balas Ali.
"Makanya, Mas cepetan nikah supaya ada temennya," ucap Azmia.
"Kenapa jadi bahas kesitu," balas Ali.
"Mas kita bareng aja yuk nikahnya." Azmia memberi saran.
"Ngaco aja," balas Ali.
"Lha memangnya kenapa, tidak ada yang salah kan?" tanya Azmia yang merasa ucapannya itu benar.
"Iya, tidak ada yang salah, tapi ya itu nggak mungkin pacar aja kagak punya di suruh nikah," balas Ali.
__ADS_1
"Mas sih? Pak dosen yang ganteng banyak penggemarnya masa nggak punya pacar atau gebetan gitu," ujar Azmia yang tak percaya jika Ali belum memiliki kekasih.
"Gebetan sih ada, tapi kalau kekasih ...." Ali menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak memiliki kekasih.
"Selama ini Mas pernah pacaran nggak sih?" tanya Azmia.
"Pernah, tapi putus," jawab Ali.
"Putus kenapa?" tanya Azmia seperti wartawan mengintrogasi narasumber.
"Karena dia di jodohkan jadi mau tidak mau kita harus memutuskan hubungan yang sudah terjalin hampir enam tahun," jelas Ali.
Mendengar jawaban Ali. Azmia langsung menutup mulutnya, dia tak menyangka ternyata Kakaknya memiliki kenangan menyakitkan.
"Pasti sakit banget," ucap Azmia.
"Enggak, cuma nyesek duang," balas Ali.
"Iya, Dek, tapi trauma itu yang sulit di hilangkan," balas Ali.
"Mas tahu nggak, kisah cinta Kak Revan juga tak jauh berbeda dengan Mas Ali," ucap Azmia.
"Masa sih." Ali yang tak percaya.
"Iya, kisah cinta Kak Revan itu tak seindah yang Mas lihat untuk mencapai sampai saat ini banyak yang harus di lalui," ucap Azmia.
"Memangnya berapa lama kalian saling kenal?" tanya Ali.
"Kalau kenal sih kita sudah lama, saat masih duduk di bangku SMA, tapi untuk mencapai sampai saat ini membutuhkan waktu yang lama dan penuh dengan perjuangan. Mas kan tahu Mia sempat di paksa nikah dengan Mas Alby," jelas Azmia.
"Iya, ya reaksi Revan gimana tuh pas tahu kalau ternyata kamu sudah nikah?" tanya Alby.
__ADS_1
"Pastinya kecewa, tapi apa boleh di kata dan yang lebih menyakitkan lagi saat Kak Revan tahu kalau ternyata Mia menikah dengan Kakaknya yaitu Mas Alby." Azmia menceritakan tentang perjuangan cinta Revan terhadapnya.
"Apa? jika Mas yang berada di posisi Revan mungkin Mas nggak akan sanggup untuk hidup lagi, di tinggal nikah sama orang lain aja sakit hati banget apalagi nikah sama Kakak sendiri itu nyeseknya tak terbayangkan," ucap Ali.
"Sekarang Mas tahu kan gimana perjuangan Kak Revan sampai di titik ini," balas Azmia.
"Sekarang Mas Ali harus bisa membuka hati untuk wanita lain karena setiap orang itu memiliki sifat yang berbeda-beda." Azmia memberikan wejangan pada Kakaknya agar segera bangkit dari sakit hati dan mencoba membuka lembaran baru dengan perempuan yang benar-benar mencintainya.
"Pantas saja Mama cari di kamar nggak ada ternyata ada di sini," ucap Mama Iren saat tiba di gazebo samping rumah dimana putra putri berada.
Azmia dan Ali memang lebih suka berada di gazebo saat mereka ingin ngobrol santai karena di gazebo lebih nyaman untuk ngobrol berdua.
"Ada apa, Ma nyariin kita?" tanya Ali.
"Siapa yang nyariin kamu," jawab Mama Iren.
"Lha terus?" tanya Ali.
"Mama nyariin adik kamu bukan kamu," jawab Mama Iren.
"Ah, Mama suka gitu," ucap Ali dengan memasang wajah cemberut.
Azmia tertawa kecil mendengar jawaban Mama Iren.
"Sayang, gimana apa besok jadi ke butik?" tanya Mama Iren setelah duduk di samping Azmia.
"Insya'Allah jadi, Ma," jawab Azmia.
"Mudah-mudahan semua berjalan lancar sampai hari H," ucap Mama Iren.
"Amin," balas Azmia.
__ADS_1