
Malam hari setelah menidurkan Alnia. Azmia memilih membuka laptopnya menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda sambil menunggu suaminya pulang kerja.
Azmia melakukan pekerjaannya di dalam kamar supaya bisa sekalian melihat Alnia.
Pukul sepuluh malam Revan baru tiba di rumah setelah tadi lembur mengerjakan proyek bersama para petinggi perusahaan.
"Assalamualaikum, Ay," ucap Revan sambil membuka pintu kamarnya. Revan masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan.
'Kasihan sekali kamu, Ay maafin aku ya karena pulang terlambat kamu pasti sangat lelah ya hingga tertidur di sofa,' batin Revan saat melihat istrinya tertidur pulas dengan kepala atas meja samping laptop yang masih menyala.
"Pindah ya bobonya," lirih Revan sambil mengelus lembut kepala Azmia.
Merasa ada sentuhan Azmia membuka matanya. "Kakak sudah pulang." Azmia mendongakkan kepalanya. "Maafin Mia ya, Kak. Mia ketiduran," ucap Azmia sambil mengucek matanya supaya melek dengan sempurna.
"Kamu pasti sangat lelah ya, sekarang pindah ya bobonya," ucap Revan.
"Nanti saja. Sekarang Mia siapkan air anget dulu ya buat Kakak mandi." Azmia ingin berdiri dari duduknya, tapi di tahan oleh Revan.
"Kamu istirahat saja biar Kakak sendiri aja. Yuk, pindah ke atas kasur." Revan menyuruh Azmia agar istirahat di atas ranjang.
"Iya, Kak. Mia rapikan ini dulu," ucap Azmia.
"Sudah tinggal saja biar aku aja yang merapikan." Revan menahan tangan Azmia saat ingin merapikan berkas-berkas yang ada di meja.
"Kakak kan sudah capek kerja, lebih baik Kakak membersihkan diri kemudian istirahat," ucap Azmia.
"Lelah saat di kantor, tapi setelah melihat istri ku lelah itu seakan sirna." Revan berkata sambil memegang kedua pipi istrinya dengan tersenyum kecil.
"Ih, gombal," balas Azmia sambil mencubit kecil perut Revan.
"Beneran, Dek. Lelah suami akan sinar saat melihat wajah istrinya tersenyum bahagia," ujar Revan.
Azmia jadi di buat salting suaminya.
"Ya udah sekarang Kakak mandi bau nih," ucap Azmia mengalihkan pembicaraan dari pada nanti dia di buat semakin salting oleh suaminya.
"Iya-iya sayangku, bidadariku, istri ku, cantikku, muach." Revan menciumi wajah istrinya kemudian dia bergegas berdiri menuju kamar mandi.
Azmia hanya menggelengkan kepalanya sambil senyum-senyum sendiri melihat tingkah suaminya.
****
Di tempat lain
"Papa jadi nggak sabar menunggu hari. Papa sangat merindukan mu, sayang. Semoga saja besok tak ada halangan supaya kita bisa ketemu lagi," lirih Alby sambil memandangi foto putrinya dari layar ponsel.
Setiap kangen dengan Alnia. Alby hanya bisa memandangi dan menciumi foto putrinya lewat foto yang ada di ponselnya.
Nasib menjadi orang tua, tapi tak bisa memiliki hak asuh untuk putrinya.
*
*
__ADS_1
*
Pagi hari
"Ay, kamu mau ke kantor?" tanya Revan saat melihat Azmia berpakaian rapi. Biasalah ya kalo di rumah baju ternyaman itu daster. Jadi kalo berpakaian rapi pasti pak suami bertanya-tanya.
"Iya, Kak ada kerjaan yang harus Mia kerjakan di kantor," jawab Azmia.
"Alnia kamu ajak apa di rumah sama Mbok Asih?"
"Mia bawa, Kak kasihan kalau di tinggal bersama Mbok Asih," jawab Azmia.
"Ya sudah berangkat bareng saja biar aku anterin nanti pulangnya Kakak jemput," ucap Revan.
"Ok, Ayah Revan." Azmia menyetujui ajakan suaminya karena jika dia bilang nggak usah pasti akan panjang urusannya lebih baik iyain aja beres.
Setelah dirinya rapi, Azmia menyiapkan kebutuhan Alnia seperti pempes, susu, minyak telon, baju ganti, dll. Sekarang kemanapun dia pergi tak lupa membawa tas yang isinya kebutuhan Alnia.
"Peri cantik Ayah, hari ini Nia pasti nggak akan bosen deh karena Bunda akan ajak Nia ke kantor. Nia yang pinter ya, nggak boleh rewel. Nanti kalau Nia mau pulang Ayah jemput." Revan berbicara pada putrinya yang ada di gendongannya.
"Ayo, Kak!" ajak Azmia.
"Let's go." Revan membawa Alnia keluar kamar.
"Lho, Neng cantik mau kemana?" tanya Mbok Asih saat berpapasan dengan Revan.
"Nia ingin ke kantor, Mbok. Mia ada kerjaan yang harus di selesaikan," jawab Revan.
"Kalau di tinggal nanti kasihan Mbok Asih nggak bisa istirahat. Lagi pula kasihan Alnia di rumah terus biar sesekali dia menghirup udara luar," balas Azmia.
"Oh, begitu ya sudah deh. Baik-baik ya Neng cantik," ujar Mbok Asih.
"Iya, Mbok," balas Azmia dengan suara nada anak kecil.
"Kami berangkat dulu ya, Mbok. Assalamualaikum," ucap Azmia.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati, Non," balas Mbok Asih.
Setelah berpamitan dengan Mbok Asih. Azmia dan Revan berjalan keluar rumah menuju garasi mobil.
*
*
*
"Alnia anteng banget," ucap Revan. Kini mereka sudah berada dalam perjalanan.
"Iya, dong, Ayah. Nia kan anak pintar," balas Azmia.
"Nanti kamu bilang saja kalau ingin pulang," ujar Revan.
__ADS_1
"Siap, Pak Bos," balas Azmia.
Setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit kini mereka tiba di perusahaan milik Azmia.
"Assalamualaikum, Ayah hati-hati di jalan ya," ucap Azmia kemudian mencium tangan suaminya.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Ayah berangkat kerja dulu ya." Revan mencium kening istrinya serta tak lupa mencium buah hati mereka.
"Biar saya yang bawa, Bu." Pak Satpam menawarkan supaya dia saja yang membawakan stroller baby milik Alnia.
"Terima kasih, Pak," ucap Azmia.
"Sama-sama, Bu."
Setelah berpamitan dengan suami tercinta Azmia dan Pak satpam masuk ke dalam.
"Selamat pagi, Bu Mia," sapa karyawan yang berpapasan dengan Azmia.
"Pagi juga, Mba," balas Azmia.
"Wah, baby Nia ikut Bunda ke kantor ya," ucap karyawan tersebut.
"Iya, ante," balas Azmia.
"Saya masuk ruangan dulu ya, Mba," ujar Azmia.
"Iya, Bu."
Azmia melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
"Assalamualaikum, Bu de," ucap Azmia saat menyapa sekretarisnya.
"Wa'alaikumussalam. Eh ... Dede Nia ikut Bunda. Jangan Bu de dong, Bu kesannya saya tua banget." Protes sekretaris.
"Ya kan Anda lebih tua dari pada saya," ucap Azmia dengan tertawa kecil.
"Iya, tapi jangan Bu de juga," balas Sekretaris.
"Panggil saya Mommy Raya," ucap sekretaris memberi usul untuk panggilan dirinya.
(Raya -- nama anak sekretaris)
"Suka-suka kamu sajalah, Mba," balas Azmia.
"Pak taruh di dalam saja stroller nya," ujar Azmia pada Pak Satpam.
"Baik, Bu." Pak Satpam menaruh stroller di dalam ruangan Azmia sesuai perintah.
"Mommy Nia masuk dulu ya," pamit Azmia.
"Iya, Dede Nia," balas sekretaris.
Azmia masuk ke dalam ruangan kemudian meletakkan Alnia di stroller samping kursi dia duduk supaya jika Alnia bangun ia bisa melihatnya.
__ADS_1