
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit kini Daffa dan Alby telah tiba di tempat tujuan yaitu cafe lovely.
"Yah, udah penuh," keluh Daffa saat melihat situasi di cafe lovely yang sudah ramai pengunjung tempat duduknya juga sudah hampir penuh.
Alby dan Daffa melangkahkan kakinya ke ruangan dalam melihat situasi di dalam terlebih dahulu kali saja masih ada tempat yang kosong. Keberuntungan berpihak kepada mereka tepat saat Alby dan Daffa masuk ada orang yang keluar.
Daffa langsung berjalan menuju meja yang kosong di ikuti Alby dari belakang.
'Dia lagi apa dia pemilik cafe ini, sepertinya dia selalu ada di cafe ini. Kenapa ya setiap melihat dia gue merasa ada sesuatu, tapi apa?' batin Alby dengan berbagai pertanyaan yang berkeliling di otaknya.
"Woi ... bengong aja." Daffa menepuk bahu Alby.
"Hist ... kebiasaan," omel Alby.
"Lagian bengong lihatin apaan sih?" tanya Daffa.
"Gue kalau lihat si Nisa kenapa merasa ada sesuatu gitu," ujar Alby.
"Sesuatu gimana?" Daffa yang tak mengerti dengan maksud Alby.
"Sulit untuk di ungkapkan, intinya gue merasa tuh kenal dekat sama dia gitu," jawab Alby.
"Perasaan lu aja kali," ucap Daffa.
"Entahlah," balas Alby.
Tatapan Alby tak lepas dari wanita berkacamata yang duduk tak jauh darinya Nisa itulah namanya wanita yang selalu membuat Alby penasaran.
**
"Nis," panggil Angga.
"Abang sudah datang, silakan!" Azmia ( Nisa ) mempersilakan Angga, Devan, serta para sahabatnya agar duduk di kursi yang sudah Azmia siapkan untuk mereka.
"Terima kasih," ucap mereka bersama.
Azmia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Sebentar, saya tinggal dulu," pamit Azmia kemudian berjalan meninggalkan Angga.
__ADS_1
Azmia berjalan masuk ke dalam dapur bersama Karina.
"Rud," panggil Azmia.
"Iya, Mba," jawab Rudi hanya suara yang terdengar orangnya berada di pojok fokus memasak.
"Kamu masih banyak pesanan?" tanya Azmia.
"Lumayan, Mba," jawab Rudi. "Memangnya kenapa, Mba?" tanya Rudi.
"Saya ingin minta bantuin untuk hidangan tamu Bang Angga," jawab Azmia.
"Pak Angga datang kesini juga?"
"Iya, dia bawa temen-temennya," balas Azmia.
"Baiklah, sebentar lagi selesai nih, Mba nanti saya bantu Mba Mia terlebih dahulu," ucap Rudi.
"Ok." Azmia mulai memakai celemek kemudian berjalan mencari bahan yang akan dia jadikan masakan spesial khusus tamu Angga.
Sedangkan Karina bagian membuat minumannya.
Situasi di luar dapur.
"Daf, itu bukannya Bang Angga ya?" Alby mengarahkan kepala Daffa pada meja utama yang berada di depan panggung.
"Iya, mungkin dia lagi berkunjung juga karena hari ini kan perdana ada live musik lagi pula cafe ini keren lho buat nongkrong bareng temen, menunya juga cocok banget, harga pun bersahabat dengan kantong," ucap Daffa.
"Iya juga sih," balas Alby.
"Namun, kenapa perasaan rasanya ada yang mengganjal ya, aneh aja gitu. Duh ... gue kenapa sih ayolah kita nikmati malam minggu ini,' batin Alby memarahi dirinya sendiri.
**
Di dapur.
Azmia bersama Rudi sudah selesai memasak kemudian mereka menyiapkan makanan tersebut di piring.
Setelah semua siap Azmia membawa makanan tersebut ke luar. Azmia bersama beberapa karyawan mengantarkan makanan tersebut ke meja Angga.
__ADS_1
"Silakan!" Azmia mempersilakan semuanya untuk menikmati hidangan yang dia sajikan di atas meja.
"Terima kasih, Nis," ucap Angga.
Angga sengaja memanggil Azmia dengan sebutan Nisa karena Azmia sudah berpesan pada Angga jika di luar harus memanggilnya Nisa supaya penyamarannya tidak terbongkar.
Sekarang sepertinya sudah bukan penyamaran lagi, sudah menjadi jati dirinya di kehidupan yang baru.
"Sama-sama," balas Nisa (Azmia).
Setelah menaruh beberapa makanan dan minuman Azmia dan Karina duduk bergabung bersama Angga dan kawan-kawan.
"Keren juga mereka," ucap Devan saat melihat penampilan Famer.
"Iya, Pak. Famer memang paling top," balas Karina sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Pasti kamu salah satu penggemarnya," tebak Devan.
"Hehehe ... Pak Devan tau aja," balas Karina dengan tertawa kecil.
Di meja tak jauh dari mereka Alby terus saja memperhatikan gerak-gerik di meja Azmia pandangannya selalu mengarah kepada orang-orang yang berada di dekat cewek berkacamata. Melihat kedatangan Angga membuatnya semakin bertanya-tanya apa hubungan Angga dengan cewek berkacamata itu. Ingin rasanya Alby menghampiri meja itu menyapa Angga, tapi nyalinya tak cukup berani untuk berhadapan dengan Angga bukan karena takut, tapi Alby tak ingin jika pertemuan itu akan membahas masalah pribadinya dengan Azmia.
"Kenapa sih, Al?" tanya Daffa. Sedari tadi Daffa memperlihatkan Alby seperti orang yang sedang banyak pikiran.
"Gue heran saja, apa Nisa salah satu karyawan di sini terus apa hubungan dia dengan Bang Angga karena yang gue lihat nih sepertinya mereka itu sangat dekat sekali membuat gue semakin penasaran dengan sosok Nisa," ujar Alby menceritakan pertanyaan yang ada di otaknya.
"Mungkin memang mereka kerjasama karena yang gue lihat ya ada beberapa karyawan cafe cinta yang bekerja di sini. Atau mungkin cafe milik ini Pak Angga. Bukankah cafe cinta juga milik Pak Angga?" tanya Daffa.
"Iya, cafe cinta milik Bang Angga. Yang jadi permasalahannya nih siapa perempuan tersebut, apa hubungannya dengan Angga. Kalau gue lihat kedekatan mereka bukan sekedar bos dan karyawan entah kenapa hati gue juga berkata seperti itu," ujar Alby.
"Mungkin karena lu terbawa suasana saja kali, Al," balas Daffa.
"Maksud lu?" tanya Alby yang tak mengerti dengan ucapan Daffa.
"Gini Al. Lu kan lagi nyari Azmia jadi lu tuh terbawa suasana saat melihat Nisa lu samain dengan Azmia," jelas Daffa.
"Mungkin, tapi __." Ucapan Alby harus tertahan karena di sahut Daffa lebih dulu.
"Sudahlah, lu kan udah tahu dari Bunda tentang Nisa," ujar Daffa.
__ADS_1
"Iya sih," balas Alby. Kemudian dia mengambil segelas jus jeruk yang berada di depannya menyeruput jus tersebut mungkin bisa menenangkan pikirannya yang kini sedang kacau karena memikirkan antara Azmia dan Wanita berkacamata tersebut.