
Sore hari saat Alby merapikan meja kerja tiba-tiba ponselnya berbunyi dia pun segera mengambil benda pipih tersebut kemudian menggeser layar hijau.
"Selamat sore," sapa Alby saat sambungan telepon terhubung.
" ..... "
"Iya, benar dengan saya sendiri. Ada apa ya, Pak?" tanya Alby.
" ....."
"Apa," ucap Alby dengan nada yang terkejut.
"....."
"Baiklah, saya akan segera ke sana, terima kasih, Pak," ujar Alby kemudian menutup sambungan telponnya. Lalu dia bergegas bangun dari duduknya menyambar jas yang ada di kursi berjalan keluar ruangan.
"Al, lu mau kemana? Kenapa buru-buru?" teriak Daffa dari arah belakang.
Alby tak menjawab ucapan Daffa. Dia berlari kecil memasuki lift. Daffa yang heran dengan sikap Alby, ia pun segera berlari menyusul Alby sehingga tepat saat Lift hampir tertutup Daffa masih berkesempatan masuk lift bersama Alby.
"Lu, kenapa, panik banget begitu?" tanya Daffa.
__ADS_1
"Nila, Daf. Nila," jawab Alby dengan nada bergetar.
"Kenapa, Nila?"
"Sudahlah, nanti gue ceritain sekarang ayo ikut gue ke rumah sakit. Gue secepatnya harus tiba di RS Ummana," jawab Alby.
"Ok, baiklah." Daffa tak ingin banyak bicara lagi meskipun masih ada yang ingin dia tanyakan pada Alby, tapi melihat kondisi Alby dia jadi tidak tega.
Sesampainya di parkiran mobil Alby dan Daffa segera masuk ke dalam mobil. Daffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meskipun terburu-buru, tapi keselamatan kita juga penting.
Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar tiga puluh menit kini Alby dan Daffa tiba di RS Ummana.
"Pasien masih berada di ruang UGD, Pak. Bapak lurus saja nanti ruangannya ada di sebelah kiri," jelas resepsionis.
"Terima kasih, Mba," ucap Alby kemudian dia berlari menelusuri jalan mencari ruang UGD.
"Bunda," panggil Alby saat melihat wanita paruh baya mondar-mandir di depan pintu ruang UGD.
"Al." Bunda langsung merentangkan tangannya memeluk putra sulungnya.
"Apa yang terjadi dengan Nila, Bun?" tanya Alby.
__ADS_1
"Bunda juga belum tahu pasti, Al, tadi Bunda dapat telpon dari polisi memberi kabar jika Nila kecelakaan. Saat Bunda tiba di rumah sakit Nila sudah berada di UGD," jawab Bunda.
Kemudian Bunda mengajak Alby Alby duduk di kursi tunggu.
"Kamu yang sabar, banyak-banyak berdoa semoga Nila dan Baby baik-baik saja," ucap Bunda sambil menggenggam tangan Alby.
Alby mengangguk.
'Tidak, ini tidak boleh terjadi,' batin Alby.
Tak berselang lama pintu ruangan terbuka terlihat dokter keluar dari dalam ruangan. Alby dan Bunda bergegas menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Alby.
"Istri, Anda masih koma, Pak. Penanganan pertama kita harus melakukan operasi secar untuk menyelamatkan bayinya," jelas Dokter.
"Lakukan penanganan yang terbaik untuk istri saya, Dok," ucap Alby.
"Baiklah, Bapak silakan ke administrasi terlebih dahulu mendatangi surat perjanjian serta melakukan pembayaran terlebih dahulu setelah itu baru kita akan melakukan tindakan." Dokter memberikan saran pada Alby supaya penanganan terhadap Nila lebih di percepat lagi, karena jika Alby belum tanda tangan surat perjanjian persetujuan maka rumah sakit tidak berani bertindak.
"Iya, Dok." Alby, Daffa serta satu perawat berjalan menuju administrasi. Alby hanya tanda tangan surat persetujuan selebihnya Daffa yang mengurus semuanya.
Setelah tangan tangan Alby kembali ke ruang UGD menghampiri Bunda Rita.
__ADS_1