Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 85 berkunjung


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya Alby datang ke rumah sakit menjenguk Rania, tapi dia tidak datang sendiri. Alby sengaja mengajak Daffa untuk menemaninya.


Sesampainya di rumah sakit Alby langsung menuju ruangan dimana Rania di rawat, karena sudah di beri tahu lebih awal ruangannya jadi Alby tidak kesulitan mencarinya.


"Assalamualaikum," ucap Alby sambil membuka pintu.


"Wa'alaikumussalam," balas Mama Sonia. Dia terkejut Alby datang. Mama Sonia tidak mengetahui jika Papa Prabu yang memohon agar Alby mau datang menjenguk putrinya.


"Mas kamu datang," ucap Rania dengan senyum mengembang. "Nia, tidak sedang bermimpi kan, Ma?" Rania mencubit pipinya menyadarkan dirinya bahwa dia tidak sedang berimajinasi saja.


"Sayang, itu beneran, Nak Alby. Kamu tidak bermimpi," balas Mama Sonia.


"Silakan, Nak Alby!" Mama Sonia berdiri kemudian mempersilakan Alby duduk di kursi samping brankar.


Alby mengangguk, kemudian berjalan menghampiri Rania duduk di kursi samping brankar.


"Mama tinggal keluar dulu ya," pamit Mama Sonia. Dia sengaja pergi meninggalkan ruangan agar Rania bisa berduaan dengan Alby. Sebelum Mama Sonia keluar, dia mengedipkan matanya kearah Daffa supaya Daffa mengikutinya agar tidak menggangu Rania dan Alby.


Daffa yang mendapat kode dari Mama Sonia awalnya Daffa cuek tak menghiraukannya, tapi tiba-tiba Mama Sonia menariknya agar keluar bersamanya dengan alasan supaya Mama Sonia tidak nyasar. Dengan terpaksa Daffa mengikuti Mama Sonia


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alby.


"Seperti yang Mas lihat," jawab Rania.


"Kenapa kamu melakukan ini, di luar sana masih banyak orang yang menyayangimu kamu tidak harus berbuat seperti ini agar mendapat simpati ku," ujar Alby.


"Aku hanya ingin kamu, Mas tak ingin yang lain," balas Rania.


"Nia, kamu harus ingat aku adalah suami dari adik mu," ucap Alby.


"Dia bukan adikku, Mas. Dia hanyalah anak yang di asuh oleh Mama dan Papa," balas Rania.

__ADS_1


"Mas aku mohon, berikan aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya," ucap Rania sambil menggenggam tangan Alby.


"Semua sudah terlambat, Nia," balas Alby dengan tegas ibarat kata nasi sudah menjadi bubur tidak akan pernah bisa kembali menjadi nasi lagi.


[9/11 08.15] Sury: Hidup itu berjalan ke depan bukan mundur.


"Kalau Mas Alby nggak mau lebih baik Nia mati saja untuk apa Nia hidup jika orang yang Nia cintai tidak perduli pada Nia." Rania menarik selang infus yang ada di tangannya. Alby yang melihat itu lantas menghentikan tangan Rania, karena Rania menarik terlalu kencang hingga selang itu pun terlepas.


Alby langsung memencet tombol darurat.


Tak lama suster dan dokter datang.


"Suster tolong langsung suntikan obat penenang,"'ucap dokter sambil memegangi tangan Rania supaya suster lebih mudah menyuntikkan obat.


Rania langsung tertidur setelah obat bereaksi.


"Sepertinya dia akan melakukan bunuh diri lagi, Dok," ucap perawat pada dokter.


"Iya, pasien melakukan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya beruntung keluarga membawanya tepat waktu," jelas suster. Setelah merapikan infus Rania suster dan dokter pamit keluar ruangan.


'Apa semua ini gara-gara gue.Ya Allah begitu rumitnya kisah cinta gue,' batin Alby.


***


Di taman rumah sakit


Daffa duduk seorang diri setelah tadi di bawa paksa oleh Mama Sonia Daffa memilih pergi ke taman yang tak jauh dari RS. Daffa duduk di bangku sambil mengotak atik handphonenya bermain games untuk menghilangkan rasa bosannya menunggu Alby yang tak kunjung keluar dari ruangan Rania. 'Beginilah nasib bawahan, kalau bukan demi cuan gue nggak bakal seperti ini. Coba saja gue kaya raya, banyak uang pasti hidup gue nggak semelas ini,' batin Daffa.


Dua jam kemudian Alby keluar dari ruangan Rania langsung menghampiri Daffa yang masih setia duduk di kursi taman.


"Sudah?" tanya Daffa saat melihat Alby datang.

__ADS_1


Alby hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.


"Lha gimana sih lu, ini sudah hampir malam pasti Azmia nyariin lu," ucap Daffa.


"Gue pusing," balas Alby.


"Apa sesuatu terjadi?" selidik Daffa.


Alby mengangguk.


"Kenapa?"


"Mama Sonia meminta gue untuk jagain Rania, beliau nggak mau Rania melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya," ucap Alby. Setelah di rasa cukup waktu Mama Sonia kembali ke ruangan Rania mencoba berbicara dengan Alby agar mau membantunya.


"Maksudnya?"


"Rania, sudah dua kali mencoba melakukan bunuh diri, pertama dia menyayat pergelangan tangannya sehingga dia harus di rawat inap, kedua saat tadi gue tolak ke inginannya dia mencabut selang infus mengakibatkan pendarahan di tangannya," jelas Alby.


"Tampang ganteng, kaya raya, CEO pula, tapi hidup lu riweh," ucap Daffa.


"Lu bukannya ngasih solusi malah ngeledekin gue," balas Alby.


"Bukan ngeledek, tapi memang kenyataan. Terus sekarang jadinya gimana?" tanya Daffa.


"Itu gue pusing, kalau gue jujur pada Azmia gue takut dia bakal nekat ngerelaiin gue buat Kakaknya, tapi kalau gue nggak jujur kasihan dia." Alby di buat galau dengan keadaan. Jujur ajor, bohong salah juga.


"Lu harus tegas, Al pilih salah satu," ujar Daffa.


"Sepertinya sementara waktu gue akan jagain Rania, lu bantuin gue kalau Azmia tanya lu bilang aja kita lagi pergi keluar kota, ada urusan mendadak gitu," balas Alby.


"Dosa gue udah terlalu banyak, Al. lu ngajakin gue berbuat dosa lagi, tapi jika terjadi sesuatu gue nggak mau tanggung jawab ya." Daffa setuju meskipun dalam hati dia nggak tega dengan Azmia.

__ADS_1


"Deal," ucap Alby. Posisi yang serba salah membuat Alby seakan lupa dengan janjinya pada Azmia. Entah apa yang akan terjadi jika Azmia mengetahui yang sebenarnya.


__ADS_2