
Ke esokan harinya setelah selesai sarapan Mama Iren sengaja mengajak Ali untuk berbicara terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke kampus.
"Li, Kok Mama merasa berbeda ya saat berada di samping Azmia," ucap Mama Iren menceritakan isi hatinya.
"Beda gimana, Ma?" tanya Ali.
"Entahlah pokoknya Mama tuh merasa ingin terus berada di sampingnya, melindunginya dan satu yang Mama masih penasaran dengan gelang yang melingkar di tangan Azmia," jelas Mama Iren. Semalam saat makan malam Mama Iren tak sengaja melihat gelang yang di pakai Azmia.
"Ali juga sebenarnya sudah merasa ada sesuatu Ma saat pertama kali bertemu dengannya, tapi Ali menampiknya karena Ali pikir mungkin hanya perasaan Ali saja yang sedang merindukan Zahra," ucap Ali.
"Apa kita selidiki saja siapa Azmia sebenarnya," ucap Mama Iren memberikan saran.
"Boleh, Ma, nanti Ali akan mulai penyelidikan dengan menggali informasi lewat sahabat Azmia," balas Ali.
"Baiklah, semoga saja hasilnya sesuai dengan harapan kita," ujar Mama Iren.
"Semoga saja," balas Ali.
***
Di tempat lain.
Di kamar Alby yang sedang bersiap untuk berangkat ke kantor seperti biasa setelah menikah Nila yang selalu memakaikan dasi Alby.
__ADS_1
"Mas, hari ini Nila ingin pergi sama teman-teman jadi Nila minta uang ya, Mas buat jalan," ucap Nila di sela-sela merapikan dasi Alby. Nila berkata dengan sangat lembut dan manja.
"Iya, tunggu sebentar!" balas Alby kemudian dia merogoh kantong celananya mengambil dompet. "Ini, pergilah sesuka hati kamu." Alby memberikan satu ATM pada Nila.
"Terima kasih, Mas," ucap Nila.
"Sama-sama," balas Alby.
Setelah memberikan ATM pada Nila. Alby mengajak Nila untuk turun ke lantai bawah karena dia akan segera berangkat ke kantor.
"Mas berangkat dulu ya," pamit Alby kemudian mengecup kening sang istri sebelum masuk ke dalam mobil.
"Iya, Mas, hati-hati di jalan," ucap Nila.
*
*
*
Karena hari ini tidak ada kelas Azmia menghabiskan waktunya di cafe.
"Mi, semalam Kak Revan datang ke cafe," ucap Karina membuka obrolan.
__ADS_1
"Jam berapa?" tanya Azmia.
"Pas kamu dan Ali sedang makan malam bersama," jawab Karina.
"Terus?"
"Ya aku bilang saja kamu sedang ada tamu penting jadi ya udah aku temenin saja dia," jelas Karina.
"Lagian datang barengan begitu," ucap Azmia.
"Makanya Mi jangan kebanyakan pacar jadi bingung kan kalau datangnya bareng begitu untung saja beda tempat," balas Karina.
"Ngawur aja kalau ngomong, siapa yang pacaran," ujar Azmia.
"Mi, sebenarnya kamu ada hubungan apa sih sama Pak Ali?" tanya Karina memastikan apa Azmia ada hubungan spesial dengan dosennya atau tidak.
"Enggak ada hubungan apapun, Rin, kan nggak enak jika menolak Mamanya pak Ali," jawab Azmia.
"Namun, semalam itu berbeda sekali, Rin baru kali ini aku merasa nyaman sekali saat berada di samping seseorang, apalagi saat Mama iren mengusap kepalaku sentuhan lembutnya mampu membuat aku seperti orang yang di hipnotis. Meskipun Bunda, Mama Sonia, Mami pernah memperlakukan aku seperti itu, tapi entah kenapa ada rasa yang berbeda saat Mama Iren yang melakukannya. Pelukannya juga begitu hangat sekali seakan aku tak ingin lepas dan jauh dari beliau," jelas Azmia menceritakan tentang kejadian semalam.
"Cie, manggilnya sudah Mama," goda Karina.
"Eh, tunggu kalau aku cerna dari cerita kamu jangan-jangan Mama Iren ___." Karina menahan ucapannya.
__ADS_1
"Jangan-jangan apa, Rin?" tanya Azmia karena Karina tak melanjutkan ucapannya.
"Ah, tidak apa lupakan saja," balas Karina. Dia tak ingin membuat Azmia kepikiran karena takutnya tidak benar malah akan membuat Azmia sedih.