Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 130 Menyerahkan


__ADS_3

"Kenapa muka lesu begitu?" tanya Daffa yang baru datang langsung mengecek ruangan bosnya.


"Hari ini gue ingin menyerah saja. Bukan karena tak ingin mempertahankan rumah tangga gue, tapi gue takut menyakitinya lagi meskipun hati gue sudah yakin mencintai dia seutuhnya," jelas Alby.


"Maksudnya, lu sudah mendatangi surat cerai itu?" tanya Daffa.


"Iya," jawab Alby.


"Bismillah, bro mudah-mudahan kedepannya kebahagiaan itu datang menghampiri mu," ucap Daffa.


"Amin. Semoga saja," balas Alby. Setelah mendatangi surat cerai Alby jadi seperti orang yang tak berdaya.


"Terus susah lu kasih Mia surat itu?" tanya Daffa.


"Belum, nanti sore saja sekalian pulang kerja lu yang nganterin ke cafe cinta ya, kasih saja ke Nina," ujar Alby.


"Siap, Pak Bos," balas Daffa.


****


Kediaman Pranata.


"Bagaimana hubungan mu dengan Alby, Nak?" tanya Prabu pada Putrinya.


Mendengar pertanyaan Ayahnya yang serius Rania yang sedang sibuk dengan ponselnya langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian menoleh ke arah Ayahnya yang duduk di sampingnya. Kini mereka sedang berada di dalam mobil berangkat ke kantor.


"Alhamdulillah hubungan kita baik-baik saja, Pa mungkin sebentar lagi kita akan melangsungkan acara pernikahan," balas Rania.


"Bagaimana dengan, Adik mu?" tanya Papa Prabu.


"Azmia sudah menggugat cerai, Mas Alby dan sekarang mereka sudah tidak tinggal satu rumah," jawab Rania.


"Terus sekarang Azmia tinggal dimana?" Papa Prabu tak mengira semua akan seperti ini.


"Nia, tidak tahu, Pa. Mas Alby sudah mencari, tapi hingga saat ini tidak menemukan keberadaannya," jelas Rania.


Saat itu Alby terpaksa memberi tahu Rania tentang kepergian Azmia karena Alby pikir Azmia ada di kediaman Pranata.


Prabu terdiam setelah mendengar penjelasan Rania. 'Kemana dia pergi? Azmia kamu berada di mana, Nak? maafkan, Papa sudah menghancurkan kehidupanmu. Andai Papa tahu dari awal jika semua akan seperti ini mungkin, Papa tidak akan pernah meminta bantuan pada Alby. Maafkan Papa, Mia semua ini kesalahan Papa karena terlalu memanjakan Kakakmu sehingga kamu harus berkorban lagi demi Rania. Semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja ya, Nak,' batin Papa Prabu. Kini dia begitu menyesal dengan apa yang telah dia perbuat pada Azmia menghancurkan masa depannya.


Meskipun hanya putri angkat harusnya mereka tak boleh semena-mena terhadap Azmia. Dia juga manusia biasa yang memiliki perasaan.


Saat mereka berbuat tanpa memikirkan perasaan orang lain, tanpa berpikir andai anak mereka yang berada di posisi Azmia pasti sangatlah sakit.


Begitulah manusia hanya bisa menyesali ketika sudah terjadi.

__ADS_1


*


*


*


*


Di tempat lain.


Setelah selesai kelas Azmia bersama Karina tidak pulang ke apartemen mereka berdua langsung menuju cafe. Tujuan awal adalah cafe cinta karena sudah beberapa hari Azmia tidak ke sana karena kesibukannya antara kuliah dan mengurus cafe lovely.


"Assalamualaikum," ucap Azmia dan Karina saat berada di depan kasir.


"Wa'alaikumussalam, Mba," balas Nina.


"Bagaimana kabar mu, Nin?" tanya Azmia.


"Alhamdulillah baik, Mba," jawab Nina.


"Alhamdulillah kalau begitu. Saya ke dalam dulu ya, Nin," ucap Azmia.


"Iya, Mba," balas Nina.


Sampai di dalam ruangan Azmia langsung menuju sofa merebah tubuhnya terlebih dahulu, mencoba memejamkan matanya mengistirahatkan sejenak panca inderanya sebelum mulai berhadapan dengan laptop yang berada di atas meja.


Tak lama kemudian Karina menyusul Azmia ke dalam ruangan sambil membawa cemilan dan minuman buat teman mereka selama berada di dalam ruangan.


"Mi," panggil Karina dari depan pintu. "Mia." Karina mengulangi panggilannya hingga ke tiga kali tidak ada jawaban. "Kemana dia bukankah tadi bilang ke ruangan, tapi sepertinya sepi," lirih Karina. Karena penasaran ada Azmia atau tidak di dalam ruangan Karina menaruh nampannya di bawah kemudian dia membuka pintu dengan perlahan setelah pintu terbuka Karina mengambil kembali nampannya membawanya masuk, dia berjalan dengan langkah yang pelan. "Yah tidur pantas saja tidak ada suaranya," lirih Karina saat melihat Azmia tidur nyenyak di atas sofa sampai dia masuk pun Azmia tak terganggu sama sekali.


"Dari pada sendirian lebih baik aku ikutan tidur aja ah." Karina menaruh nampannya di atas meja kemudian dia berjalan menuju kamar yang biasa di pakai istirahat Azmia saat menginap.


*


*


*


Di kantor.


Daffa sudah merapikan mejanya bersiap untuk pulang sebelum turun ke lantai bawah seperti biasa Daffa mampir dulu ke ruangan Alby.


"Pak Bos," panggil Daffa dari depan pintu sambil membuka pintu berjalan masuk ke dalam.


"Tumben Lu inget manggil dulu, meskipun tetap saja nyelonong masuk tanpa di suruh masuk," balas Alby.

__ADS_1


"Hehehe kelamaan nungguin jawaban dari lu," ucap Daffa. "Kok, Lu belum rapi-rapi sih, katanya mau ke cafe terlebih dahulu ngasih surat itu," ujar Daffa saat melihat meja Alby masih berantakan, berkas yang masih berserakan di atas meja, laptop masih menyala sedangkan orangnya bersantai duduk bersandar di kursi kebesarannya.


"Sebentar lagi masih malas banget nih pulang ke rumah,'' balas Alby.


"Pulang saja ke rumah Bunda," ucap Daffa.


"Malu," balas Alby.


"Malu kenapa?" tanya Daffa.


"Karena gue jadi anak belum bisa membahagiakan mereka yang ada sekarang gue malah bikin mereka malu dan kecewa," balas Alby. Sebagai seorang anak yang harusnya bisa menjaga kehormatan dan derajat orang tua ini malah sebaliknya, membuat mereka malu, kecewa karena keegoisanya dan demi kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan orang lain.


"Semua sudah terjadi mulai sekarang lu harus bisa memperbaiki semuanya," ujar Daffa.


Karena keadaan tak akan kembali ke masa lalu lagi jadi teruslah berjalan dan memperbaiki semuanya dengan perlahan.


"Semoga," balas Alby.


"Harus," ucap Daffa.


"Insya'Allah," balas Alby.


"Ayo, pulang!" ajak Daffa karena waktu jam pulang sudah lewat tiga puluh menit.


"Iya." Alby mulai merapikan meja kerjanya. Setelah rapi Alby memakai kembali jasnya kemudian Alby dan Daffa berjalan keluar ruangan Alby menuju lantai satu.


Sesampainya di parkiran Alby pulang minta di antar Daffa karena harus menyerahkan surat cerai terlebih dahulu. Seperti biasa Daffa yang jadi sopir.


Setelah menempuh perjalanan satu jam kini mobil Alby sudah tiba di cafe cinta.


"Lu, saja yang keluar serahin ini, gue tunggu di dalam mobil saja," ucap Alby sambil menyerahkan amplop putih. Terasa berat rasanya saat memberikan amplop tersebut pada Daffa.


"Baiklah." Daffa mengambil amplop tersebut kemudian membuka pintu keluar dari mobil. Daffa mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe. Daffa langsung menuju ke meja kasir menemui Nina.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya Nina saat melihat kedatangan Daffa.


"Iya, Mba. Begini saya ingin menitipkan ini untuk Azmia," ucap Daffa sambil memberikan amplop tersebut pada Nina.


"Baik, Mas nanti saya sampaikan," balas Nina sambil menerima amplop tersebut.


"Terima kasih, Mba," ucap Daffa sebelum pergi.


"Sama-sama," balas Nina dengan ramah.


Setelah menitipkan amplop tersebut Daffa melangkahkan kakinya keluar dari cafe.

__ADS_1


__ADS_2