Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 68 Kepulangan Azmia


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari Alby dan Azmia, kini Karina dan Melia jadi tahu kenapa Azmia tak memilih satu pun antara Revan dan Derry.


"Mi, sekarang kamu tidak boleh merasakan sakit sendiri jika ada masalah kamu ingin bercerita dengan senang hati bahuku selalu ada untukmu bersandar di setiap waktu," ucap Karina.


"Itu betul, Mi. Kami akan selalu ada untukmu, menemani mu dalam suka maupun duka," sambung Melia.


"Terima kasih, kalian memang sahabat terbaikku," balas Azmia.


*


*


*


Keesokan harinya.


Azmia sudah tidak sabar untuk segera pulang. "Kenapa dokter lama sekali datangnya," keluh Azmia dengan muka cemberut.


"Sabar, sayang ini masih sangat pagi," balas Alby. Sejak kemarin Alby dengan siaga menjaga Azmia,dia tidak pulang meskipun Angga sudah menyuruhnya untuk pulang, tapi Alby tetap kekeh tidak ingin meninggalkan Azmia sedetikpun.


"Mas, apa Kak Rania tahu kalau Mia sedang sakit?" tanya Azmia dengan hati-hati pasalnya keluarga Pranata tak terlihat menjenguknya. Padahal sudah tiga hari dia berada di rumah sakit.


"Sepertinya tidak," jawab Alby karena memang dia tidak memberitahu keluarga Pranata.


"Oh," ucap Azmia.


"Kenapa?" tanya Alby.


"Tidak apa," jawab Azmia.


"Apa perlu Mas kasih tahu ke mereka?" tanya Alby.


"Tidak perlu," jawab Azmia.


"Sayang, jangan pernah tinggalkan Mas lagi ya, Mas nggak mau kehilangan kamu," ujar Alby sambil menggenggam tangan Azmia menciumi tangan sang istri.


Azmia hanya diam tak menjawab. Sebenarnya dia juga tidak ingin pergi, tapi sesak di hatinya membuatnya ingin menjauh dari orang lain.


"Kenapa kamu hanya diam, Azmia Syafiqa Pranata? apa kamu tidak ingin bersamaku lagi?" tanya Alby.


Azmia masih tetap diam tak menjawab entah apa yang di pikirkan Azmia.


Obrolan mereka harus tertunda terlebih dahulu karena dokter dan perawat datang.


"Selamat pagi," sapa Dokter Andi.


"Pagi juga, Om," balas Alby.

__ADS_1


"Nanti lanjut di rumah, Al, sekarang geser Om ingin periksa Azmia terlebih dahulu," ucap Dokter Andi.


Mendengar ucapan Dokter Andi, Alby langsung melepaskan tangan Azmia kemudian bergeser memberikan tempat untuk Dokter Andi.


"Hari ini kamu sudah boleh pulang, tapi ingat jangan telat makan, jangan terlalu banyak pikiran, dan satu lagi jangan lupa jika datang lagi kesini harus membawa kabar baik buat Om," ucap Dokter Andi.


"Siap, Om." Bukan Azmia yang menjawab melainkan Alby dengan semangat dia menjawab ucapan dokter Andi.


"Baik, dok," balas Azmia dengan pelan. Dia malu mendengar ucapan terakhir dokter Andi. Begituan aja dia belum gimana mau bawa kabar baik. Jangankan begituan Azmia aja belum pernah membuka hijabnya di depan Alby.


"Kalau begitu saya permisi dulu, jaga istrimu dengan baik, Al." Nasehat Dokter Andi sambil memegang bahu Alby.


"Siap, Om," balas Alby.


Setelah dokter dan perawat keluar. Alby menghampiri Azmia. "Mas, telpon Daffa terlebih dahulu untuk mengurus semuanya agar kita segara pulang," ucap Alby.


Azmia mengangguk sebagai jawaban.


Alby berjalan sedikit menjauh dari Azmia merogoh ponselnya yang berada di saku celananya kemudian buka layar kunci mencari kontak Daffa.


"Segera ke rumah sakit," ucap Alby saat sambungan telepon terhubung.


".........."


"Gue tunggu." Alby langsung mematikan sambungan telponnya.


"Kita pulang ke rumah ya," ucap Alby.


"Iya," balas Azmia.


"Apa kamu ingin makan sesuatu, biar sekalian di belikan Daffa?" Alby menawarkan makanan pada Azmia.


"Tidak, Mas," jawab Azmia.


"Tapikan kamu belum makan sayang, beli bubur ayam ya di tempat langganan kita," ujar Alby.


"Nanti saja belinya Mas sekalian kita pulang." Azmia yang tak ingin merepotkan Daffa kasihan jika harus berhenti, ngantri dulu.


"Ok, siap ibu ratu," ucap Alby.


"Ih, Mas Alby apaan sih." Azmia jadi tersipu malu.


"Ayo, kita pulang sekarang, Daffa sudah di depan," ujar Alby.


Azmia mengangguk kemudian turun dari brankar di bantu Alby. "Mau pakai kursi?" tanya Alby.


"Tidak perlu, Mas. Mia bisa jalan," jawab Azmia.

__ADS_1


"Baiklah."


Setelah membantu istrinya turun dari brankar, Alby mengambil tas milik Azmia, dan satu tas lagi yang berisi pakaian. "Ayo!" Alby mengajak Azmia keluar ruangan. Azmia pun mengangguk. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, banyak tatapan mata yang melihat kearah Azmia dan Alby. "Coba saja saya punya suami seperti dia, pasti bahagia setiap hari."


"Iya, suaminya setia banget sama istrinya. suaminya juga nggak malu bawain tas istrinya. Laki gue mah boro-boro gue pulang keluar ruangan dia malah nyuruh gue pakai kursi roda, terus barang-barang di taruh di pangkuan gue, dia kira gue troli kali ya."


"Ha-ha-ha, kalau gue pas keluar ruangan nggak boleh pakai kursi roda di suruh jalan aja sama suami, gue pikir dia mau gandeng atau mapah gue jalan gitu, eh ... ternyata gue di suruh jalan sendiri, kursi roda dia pakai naruh barang-barang terus dia dorong sampai depan."


"Ha-ha-ha memang nggak ada akhlak laki kita tuh."


Itulah ocehan Ibu-ibu yang sedang duduk antri menunggu panggilan periksa. Mereka hanya melihat yang terlihat pada kenyataannya terkadang berbeda dengan apa yang mereka lihat. Di depan baik, tapi kita tak pernah tahu keadaan di dalamnya.


"Gimana sudah semua?" tanya Alby saat menghadapi Daffa.


"Sudah, semua sudah di urus sama dokter Andi, gua datang cuma di suruh ngambil obat duang nih." Daffa memperlihatkan kantong plastik yang berisi beberapa obat.


"Oh, ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang," ucap Alby.


Daffa mengangguk. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobil.


Sampai di parkiran Alby membukakan pintu mobil untuk Azmia. "Terima kasih, Mas," ucap Azmia kemudian masuk ke dalam mobil.


"Sama-sama, sayang," balas Alby dengan tersenyum manis kemudian dia ikut masuk duduk di samping Azmia.


"Daf, nanti kita berhenti di tukang bubur yang pertigaan sebelum pasar," ucap Alby.


"Ok, siap," balas Daffa. Dia mulai melajukan mobilnya menuju tujuan pertama tukang bubur ayam.


Tak ada suara di dalam mobil mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Daffa sibuk menyetir, Azmia memilih memejamkan mata, sedangkan Alby juga memilih diam sesekali memejamkan matanya yang terasa sangat ngantuk karena tidur dirumah sakit tidaklah senyaman tidur di rumah.


Sekitar dua puluh menit mobil mereka sampai di warung bubur ayam mang Nurdin.


"Sayang, kita mau makan di tempat apa di rumah?" tanya Alby.


"Di rumah saja, Mas," jawab Azmia.


"Ok, biar gue saja yang beli," sahut Daffa.


"Beli sekalian buat lu," ujar Daffa.


"Ok." Daffa keluar dari mobil berjalan masuk kedalam warung memesan tiga porsi bubur ayam. Tak butuh waktu lama pesanan Daffa sudah selesai. "Ini pesanannya, Mas." Mang Nurdin memberikan plastik yang berisi tiga kotak bubur ayam.


"Iya, Mang. Terima kasih," balas Daffa sambil menyerahkan uang lima puluh ribuan.


Setelah membayar bubur. Daffa kembali ke dalam mobil melanjutkan perjalanan menuju rumah.

__ADS_1


__ADS_2