
Di rumah
Setelah kepergian Prabu. Alby berserta yang lain juga pulang karena kejadian tadi merusak mood mereka.
Sesampainya di rumah Alby dan Azmia langsung menuju kamar membersihkan diri kemudian mereka berdua duduk di atas kasur sambil bersandar di kepala ranjang melanjutkan obrolan yang tadi terjadi.
"Kamu pikir aku ini mainan yang bisa di oper sana oper sini. Azmia Syafiqa Pranata, suamimu ini sudah pernah bilang akan membahagiakan kamu, apa belum percaya juga?" tanya Alby membuka obrolan.
"Bukan tidak percaya, eh ... memang belum percaya sih karena Mas Alby suka plin plan Mia kan jadi bingung. Mas Alby beneran tulus apa hanya main-main saja," balas Azmia dengan jujur.
"Sayang, kamu jujur sekali, apa tidak bisa berbohong sedikit saja demi membahagiakan hati suamimu," ujar Alby.
"Jujur itu lebih baik Mas kalau berbohong itu dosa," balas Azmia.
'Ya Allah, dia itu polos apa bagaimana ya, terkadang terlihat luar biasa, tapi sekarang bikin tepuk jidat aja, mungkin begini kali ya kalau memiliki istri yang tidak pernah pacaran,' batin Alby.
"Iya, sih, tapi membahagiakan hati suami itu pahala sayang," ucap Alby.
"Namun, jujur itu lebih baik, Mas." Azmia yang tak mau kalah. Perdebatan yang tidak jelas hanya karena jujur dan berbohong.
"Mas Alby, pasti tadi sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Azmia.
"Bukan ngambil kesempatan, Mas hanya membuktikan pada mereka jika Mas beneran cinta sama kamu, sayang," balas Alby. Ya meskipun sebenarnya memang benar apa kata istrinya, dia memanfaatkan kesempatan yang ada setelah satu tahun menikah baru pertama kali dia mencium Azmia.
"Ah ... memang sengaja, bilang gitu aja malu," ujar Azmia.
"Iya, iya. Memang benar apa kata orang istri itu maha benar sedangkan suami serba salah." Alby memilih mengalah dari pada berdebat sama istrinya nggak ada ujungnya.
"Oh, iya tadi rasanya gimana?" tanya Alby dengan mode menggoda istrinya.
"Mas, apaan sih." Azmia memalingkan wajahnya karena malu. Apalagi ini adalah pertama kali bagi dirinya.
Alby tersenyum melihat tingkah Azmia, dia semakin ingin menjahili istrinya. Alby menarik pelan kepala Azmia agar berhadapan dengannya.
"Mas, ih," keluh Azmia sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?" Alby menarik tangan Azmia yang menutupi wajahnya.
"Pipi kamu kenapa berubah merah begitu sayang, apa kamu sakit?" tanya Alby setelah berhasil membuka tangan Azmia yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Coba Mas lihat," lanjut Alby sambil mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.
"Stop!" Azmia menempelkan tangannya tepat di depan wajah Alby. Azmia tahu suaminya modus.
"Mia, tidak apa kok Mas jadi nggak perlu di lihat," lanjut Azmia.
"Kamu sekarang sudah pintar ya tahu saja," ucap Alby sambil mencubit hidung Azmia yang mancung.
"Azmia gitu lho," ujar Azmia dengan sombongnya.
"Dih ... PD banget." Alby yang gemes langsung menggelitik pinggang Azmia.
"Mas geli," keluh Azmia tak henti-hentinya tertawa karena kelakuan suaminya. Jadilah mereka main kelitikan seperti anak kecil.
Bahagia itu sederhana.
Saling berkomunikasi, bercanda bersama, itu sudah membuat warna dalam rumah tangga.
**
Di tempat lain tepatnya kediaman Pranata.
Rania meluapkan amarahnya dengan melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya.
"Sudahlah, Ma. Kita biarkan saja Rania menenangkan dirinya, nanti setelah dia tenang baru kita ajak bicara dia," ucap Prabu membujuk istrinya
Prabu tak tahu lagi harus bicara apa, jika dia berkata sejujurnya pasti istrinya akan marah dan berpikir bahwa ia membela Azmia.
Sonia pun mengangguk. Prabu membawa sang istri masuk ke dalam kamar.
"Ini gara-gara Papa karena Papa tidak secepatnya mengurus perceraian Azmia dengan Alby, kalau sudah begini kasihan anak kita. Kenapa sih dulu harus hadir anak si*l*n itu." Sonia mulai marah-marah suaminya jadi sasarannya. Prabu hanya diam mendengarkan ocehan sang istri membela diri juga nggak akan menang yang ada dia bakal habis di marahin istrinya.
Waktu terus berjalan hingga larut malam di dalam kamar Rania masih terdengar berisik karena lemparan barang.
Prabu dan Sonia tidak bisa tidur mereka sesekali keluar kamar melihat kamar putrinya, takut jika Rania sampai melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
Tepat pukul 04.00 kamar Rania sudah tak terdengar berisik Sonia mulai menghampiri kamar putrinya. "Sayang, ini Mama, Nak. Tolong buka pintunya," ucap Sonia di depan pintu kamar Rania.
Namun, tak ada jawaban dari dalam. Mama Sonia terus memanggil Rania berkali-kali sambil mengetuk pintu kamar Rania, tapi tetap tak ada jawaban karena takut anaknya terjadi sesuatu Mama Sonia menyuruh Papa Prabu untuk mendobrak pintu.
__ADS_1
"Rania," teriak Mama Sonia setelah pintu terbuka dia langsung lari menghampiri putrinya.
"Cepat, Pah," ucap Mama Sonia pada suaminya.
Prabu langsung mengangkat tubuh Rania yang sudah berlumuran darah membawa keluar dari kamar menuju lantai bawah.
"Damar, cepat siapkan mobil," teriak Mama Sonia dari lantai dua.
Damar yang sedang tertidur seketika langsung bangun mendengar teriakkan majikannya yang kencang seperti toak masjid. Damar bergegas keluar kamar menuju garasi mobil.
"Ayo, Mar, cepat," ucap Papa Prabu.
"Baik, Tuan," balas Damar langsung tancap gas menuju RS.
"Kenapa kamu seperti ini, Nia. Bukankah Mama sudah bilang akan membantu mu mengembalikan Alby lagi. Maafkan Mama karena telah memberikan Alby pada Azmia karena Mama pikir kamu memang tidak mencintainya," ucap Mama Sonia sambil mengelus lembut kepala Rania. Mama Sonia terus saja menangis melihat putrinya yang tertidur pulas dengan darah yang terus mengalir dari tangannya.
Sampai di rumah sakit Prabu langsung mengangkat tubuh Rania masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak-teriak memanggil perawat.
Perawat datang dengan membawa brankar. "Tolong anak saya dokter," ucap Mama Sonia setelah sampai di ruang ICU. Rania di bawa masuk ke dalam sedangkan para orang tua harus menunggu di luar
Setelah beberapa menit kemudian dokter keluar.
"Bagaimana, keadaan putri saya, dok?" tanya Mama Sonia saat melihat dokter keluar dengan cepat dia langsung menghampiri dokter tersebut.
"Alhamdulillah, pasien baik-baik saja beruntung anda membawanya tepat waktu kalau tidak pasien bisa meninggal dunia akibat kehabisan darah," jelas dokter.
"Terima kasih, dok," ucap Prabu.
"Sama-sama, saya permisi terlebih dahulu," balas dokter kemudian pergi meninggalkan ruang ICU.
"Keluarga pasien Nyonya Rania," panggil Suster.
"Saya Mamanya, apa saya boleh melihat anak saya, Sus?" tanya Sonia.
"Boleh, tapi hanya satu orang saja yang masuk, silakan bergantian jika ingin melihatnya," ucap Suster tersebut.
"Baik, terima kasih, Sus," balas Mama Sonia.
Setelah suster pergi. Mama Sonia segera masuk memakai baju khusus masuk ruang ICU.
__ADS_1
"Nia, bangun sayang ini Mama." Mama Sonia mengelus lembut tangan Rania.
Prabu memandangi anak dan istrinya dari jendela hatinya begitu pilu melihat keadaan putrinya yang terbaring lemas tak berdaya, mukanya pucat, tangannya di perban akibat goresan luka sayatan, lengan sebelah terdapat jarum infus.