Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 103 Ayah dan Bunda


__ADS_3

Satu Minggu berlalu


Alby masih belum bisa menemukan Azmia, dia sudah mulai putus asa dan pada akhirnya Alby pun mendatangi rumah Bunda meminta bantuan Bundanya supaya membujuk Azmia agar kembali bersamanya karena hanya Bunda yang mampu meluluhkan hati Azmia.


Sebenarnya Alby tak ingin Bunda mengetahui masalahnya, tapi apalah daya saat ini dia butuh solusi orang tuanya, mungkin dengan mencurahkan isi hatinya pada sang Bunda mampu mengurangi beban di hatinya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Alby bergegas pulang, tapi tidak ke rumahnya melainkan ke rumah sang Bunda.


Satu jam perjalanan kini Alby telah tiba di kediaman orang tuanya.


"Assalamualaikum," ucap Alby di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam," balas Bunda Rita dari dalam. Bunda yang sedang asyik duduk bersantai di depan TV menikmati acara kesayangan harus terjeda karena suara seseorang di depan, Bunda beranjak dari duduknya membukakan pintu. "Kamu, Al," ucap Bunda saat pintu terbuka terlihat Alby dengan tersenyum manis ke arah Bundanya.


"Bun." Alby menyalami tangan Bundanya.


"Ada apa kemari, jangan bilang sedang ada masalah dengan Azmia?" tebak Bunda. Terkadang feeling emak-emak itu kuat ya, anak belum ngomong emaknya sudah tahu lebih dahulu isi pikiran anaknya. Ikatan batin yang sangat kuat.


"Alby lagi kangen sama Bunda," jawab Alby. Meskipun dalam hatinya berkata lain.


"Jangan berbohong sama Bunda, pasti kamu kesini ada maunya," ucap Bunda tanpa basa-basi.


Alby hanya membalasnya dengan senyuman. Belum juga bicara apapun udah di skakmat Bundanya.


"Kamu ada masalah dengan Azmia, kemana dia, kenapa tidak ikut kesini?" tanya Bunda karena tidak biasa Alby datang ke rumahnya tanpa Azmia, jika tidak terjadi sesuatu pasti mereka akan datang bersama.

__ADS_1


"Azmia sudah hampir dua minggu pergi meninggalkan Alby, Bun. Alby sudah mencari kesana kemari, Alby sudah juga berusaha semaksimal mungkin, Bun, tapi tak juga menemukannya. Alby nggak tahu harus bagaimana lagi, Bun," jawab Alby dengan jujur.


"Sudah Bunda duga, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bunda mulai mengintrogasi anaknya karena tidak mungkin Azmia pergi tanpa sebab. Tak akan ada asap jika tidak ada api.


"Semua ini memang salah Alby, Bun. Alby selalu saja membuatnya kecewa, sudah berbohong kepadanya demi Papa Prabu. Alby menjaga Rania saat sakit, tapi Alby bilang ke Azmia sedang pergi keluar kota ada kerjaan mendadak. Di luar dugaan ternyata Allah memperlihatkan kebohongan Alby. Azmia tanpa sengaja melihat Alby saat sedang menunggu Rania. Alby menyesal Bun, jika bukan Papa Prabu yang meminta maka Alby juga tidak akan mau menjaga Rania. Beberapa hari setelah kejadian itu tiba-tiba Azmia mengajukan permohonan perceraian tanpa sepengetahuan Alby, dan malam hari sebelum Azmia pergi dia memberikan surat cerai pada Alby. Alby tidak ingin berpisah dengan Azmia, Bun. Tolong bantu Alby untuk membujuk Azmia, sekarang Alby sudah tidak tahu harus bagaimana lagi." Alby menceritakan semuanya pada Bunda Rita.


"Bunda sudah pernah bilang padamu jangan pernah bermain-main dengan perasaan takut nanti terjebak. Apa kamu masih mencintai Rania?" tanya Bunda dengan tegas.


"Tidak," jawab Alby.


"Lantas kenapa kamu mau di ajak pergi bersama olehnya saat itu?" tanya Bunda Rita.


"Alby takut Rania bunuh diri lagi, Bun," jawab Alby.


"Bunuh diri?" Bunda yang terkejut karena waktu itu Rania bilang di rawat di rumah sakit hanya kelelahan.


"Kenapa semua jadi rumit seperti ini, bukankah waktu itu dia yang dengan sengaja pergi meninggalkan pernikahan, kenapa sekarang dia ingin mengambil mu kembali?" Bunda merasa heran dengan sikap Rania. Jika cinta kenapa dulu pergi.


"Maafkan Bunda dan Ayah karena dulu pernah memaksa mu untuk menerima perjodohan itu," ucap Bunda merasa bersalah dengan tindakannya. Dia juga tidak tahu akan terjadi seperti ini.


"Semua ini bukan salah Bunda dan Ayah karena pada awalnya semua setuju dan baik-baik saja, tanpa kita sadari ternyata ada kejadian yang di luar dugaan kita." Alby tak ingin Bundanya merasa sedih serta menyalakan dirinya sendiri, karena semua ini juga salah dirinya karena tidak bisa menjadi suami atau imam yang terbaik untuk istrinya. Andai saja dari awal dia menerima Azmia dengan baik, ura neko-neko mungkin sekarang rumah tangganya akan baik-baik saja.


"Semua memang sudah kehendak yang Maha Kuasa, kita sebagai hambanya hanya bisa menjalani, berusaha dan berdoa," sahut Ayah Wisnu yang baru pulang kerja.


"Ayah," ucap Bunda kemudian berdiri dari duduknya menyalami sang suami.

__ADS_1


"Al, semua keputusan ada di kamu, apapun itu kita sebagai orang tua akan mendukung jika memang itu yang terbaik untuk mu," ucap Ayah Wisnu. Kini beliau sudah duduk bergabung bersama anak dan istrinya.


"Al, tidak tahu lagi harus melakukan apa, Yah. Al, tidak ingin berpisah dengan Azmia, tapi Al juga tidak bisa menjauhi Rania karena takut dia melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan yang akan berakhir fatal," balas Alby.


"Al, tidak semua wanita mau di poligami karena mereka juga ingin bahagia, hanya ada satu solusinya memilih salah satu di antara mereka. Bertahan atau berpisah? Keduanya memang sama-sama sakit karena perceraian itu hal paling menyakitkan, sedangkan jika kamu bertahan maka Azmia lah yang akan kamu sakiti," ucap Ayah Wisnu.


Alby terdiam sulit baginya jika harus memilih salah satu. Bertahan salah berpisah juga salah.


"Jika kamu memang masih mencintai Rania maka lepaskanlah Azmia, karena memang dari awal perjodohan itu kamu bersama Rania, tapi semua keputusan Ayah serahkan pada kamu. Ayah tidak bisa memberikan keputusan karena kamu yang menjalani jadi hanya kamu yang bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagimu," lanjut Ayah Wisnu sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya, jika orang tua yang memberikan keputusan takut salah karena terkadang selera anak dan orang tua itu berbeda. Jadi orang tua hanya bisa memberikan saran saja itu juga jika di perlukan karena tak semua anak mau mendengar apa yang orang tua bilang.


"Pikirkan semuanya baik-baik, Al karena pernikahan itu bukan mainan ketika bosan bisa di buang begitu saja, ini menyangkut perasaan dan janji kita di hadapan Allah, ibadah kita sama Allah, tapi jika kamu harus berpisah dengan Azmia, memang cukup sampai disinilah tugasmu menjaga titipan Allah," ucap Bunda Rita sudah tidak tahu lagi harus berkata apa pada putranya yang selalu saja membuatnya pusing baru berumah tangga satu tahun saja sudah bikin orang tuanya ikut stres.


"Apa ini karma untuk Alby, Bun? karena menyia-nyiakan titipan-Nya, tidak bisa menjaganya dengan baik?" Alby menatap ke arah sang Bunda dengan wajah yang sudah berubah lesu, melas, mata memerah menahan air mata.


"Minta ampunlah sama Allah, Nak dan cobalah sholat istikharah meminta petunjuk pada Sang Pencipta," ucap Bunda sambil menepuk pundak Alby. Dia juga pusing harus memberikan solusi apa karena anaknya yang mengerti, menjalani, merasakan semua yang terjadi.


"Maka Jangan sia-siakan kesempatan yang telah Allah berikan padamu, Nak. Jika memang kalian berjodoh pasti Allah akan mempersatukan kalian kembali dengan jalan yang telah Allah rencanakan, tapi jika perpisahan adalah yang terbaik berarti memang bukan Azmialah jodohmu, mungkin Allah sedang menyiapkan pendamping yang sesuai dengan apa yang kamu inginkan," sambung Ayah Wisnu.


"Iya, Yah, Bun, maafkan Alby karena belum bisa menjadi anak yang baik, anak yang bisa membahagiakan orang tuanya. Maafkan Alby karena selalu saja menyusahkan kalian, membuat kalian sedih, mengecewakan kalian," ucap Alby dengan derai air mata.


"Sudahlah, Al tidak perlu berbicara seperti itu. Ayah dan Bunda selalu bangga padamu, tetaplah jadi anak yang baik." Bunda memeluk Alby mengelus lembut punggung putranya. Anak yang dulu dia lahirkan, dia gendong-gendong, menangis dalam pelukan sang Bunda.


Tak terasa kini dia sudah dewasa, tapi tetap saja pelukan Bunda yang mampu menenangkan hatinya.


Sejak kecil Alby memang lebih dekat dengan sang Bunda, kemanapun dan di manapun dia pergi pasti bersama dengan Bundanya, tak bisa jauh-jauh dari sang Bunda karena bagi Alby, Bunda adalah malaikatnya.

__ADS_1


Setiap ada masalah Alby pun lebih nyaman bercerita dengan sang Bunda. Bukan berarti dia anak Mama karena memang cinta pertama anak laki-laki adalah sang Bunda hingga sampai kapanpun surganya ada di bawah telapak kaki ibu.


__ADS_2