
"Al, hari ini Brian ngajakin nongkrong di kafe cinta," ucap Daffa saat dia baru masuk ke dalam ruangan Alby.
"Males," balas Alby tanpa menoleh kearah Daffa.
"Kali aja lh ketemu Azmia," ujar Daffa.
"Hari ini Elvina minta di temenin belanja." Alby menghentikan aktivitasnya menatap kearah Daffa.
"Lu, masih berhubungan sama Elvina?" tanya Daffa yang heran dengan sahabatnya satu ini. Istrinya pergi bukannya nyariin, ini malah bersenang-senang sama wanita lain. Kemarin aja galau, sedih, sekarang entah dia buang kemana itu rasa galaunya. Daffa benar-benar sudah merasa lelah memberi tahu Alby, biar Allah saja yang memberikan hidayah padanya.
"Gue nggak tega jika harus bilang putus sama dia, gue takut dia nekat lagi kayak waktu itu," jawab Alby.
"Terserah lu aja deh, Al. Gue sebagai teman udah kasih nasehat sama lu, tapi lu nggak pernah dengerin gue sekarang gue angkat tangan semoga lu tidak menyesal di kemudian hari." Daffa berdiri dari duduknya keluar dari ruangan Alby, tapi sebelum dia benar-benar keluar. "Kalau lu masih menganggap kita sahabat datang ke kafe cinta jam tujuh malam," sambungnya kemudian Daffa menutup pintu ruangan Alby.
***
__ADS_1
"Sayang, boleh Mami bertanya sesuatu?" tanya Erna.
"Boleh, Mi," jawab Azmia kemudian menutup laptopnya. Azmia sedang berada di gazebo samping rumah, karena dia tidak di izinkan keluar rumah tanpa di dampingi Angga jadi Azmia harus mengecek laporan kafe dari rumah. Kalau masalah kuliah boleh itu itu juga di antar jemput Angga tidak boleh bawa kendaraan sendiri.
Erna duduk di samping Azmia. "Apa, Mami mengganggu?" tanya Erna.
"Tidak, Mi," jawab Azmia dengan tersenyum manis.
"Sebelumnya, maaf kalau Mami ikut campur dalam urusan kamu, tapi sebagai orang tua Mami juga merasa khawatir. Sebenarnya kamu ada masalah apa sayang?" tanya Erna dengan nada serius.
Azmia menundukkan kepalanya, dia bingung haruskah dia cerita ke Mami Erna atau tidak. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Azmia buka suara. "Mia, tidak tahu harus cerita apa ke Mami. Mia hanya berharap Mami selalu ada di samping Mia. Mia sayang sama Mami," ucap Azmia dengan mata berkaca-kaca.
Erna mengelus lembut kepala Azmia. "Mami, akan selalu ada buat kamu. Mami juga sayang sama Mia, kalau Mia sedih Mami juga sedih kalau Mia bahagia, Mami jauh lebih bahagia.
Maaf jika Mami ikut campur dalam urusan keluarga mu, tapi, Nak sudah hampir satu minggu kamu di sini apa Alby tidak mencari mu?" tanya Mami Erna dengan nada yang lembut dan hati-hati.
__ADS_1
Azmia hanya diam sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Mami Erna yang mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Apa kalian ada masalah?" tanyanya lagi.
Azmia hanya mengangguk.
"Sayang, dengerin Mami, jika kalian ada masalah alangkah baiknya selesaikan berdua jangan seperti ini. Selagi kita masih sah sebagai istri kita masih punya tanggung jawab terhadap suami," jelas Mami Erna.
"Iya, Mi, tapi semua ini demi kebaikan kita berdua, jadi Bunda meminta Mia agar jauh dari Alby untuk beberapa waktu. Nanti Mia akan kembali setelah Bunda dan Ayah pulang dari dinas," ucap Azmia.
"Apa Prabu mengetahui semua ini?" tanya Mami Erna.
"Tidak, Mami jangan bilang ke Papa ya," pinta Azmia.
Erna mengangguk. Azmia begitu memiliki hati yang baik, entah kenapa seakan nasib tidak berpihak padanya.
__ADS_1
***
Terima kasih reader sudah membaca cerita saya.