Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 161 Daffa vs Karina


__ADS_3

Setelah persyaratannya di terima oleh Azmia. Alby mengajak Azmia pulang ke rumah mereka selama mereka menikah.


"Bun, Al pulang dulu ya," pamit Alby.


"Iya, pulanglah hati-hati. Ingat! jangan kau sakiti menantu Bunda." Bunda memperingatkan anaknya.


"Iya, Bun." Alby menyakinkan Bundanya kalau dia akan menjaga Azmia dengan baik.


"Bunda, Mia pamit ya," ucap Azmia kemudian menyalami mertuanya sebelum keluar dari ruangan.


"Iya, Sayang. Kalau suami kamu macam-macam bilang langsung telpon Bunda." Bunda akan selalu terdepan untuk membela menantunya.


"Siap, Bun," balas Azmia.


Setelah berpamitan pada Bunda. Alby menggandeng tangan Azmia berjalan keluar ruangan Bunda.


*


*


*


Di kantin


"Kak, apa masih lama kita harus berada di sini?" tanya Karina.


"Kamu bosan?" Revan balik bertanya.


"Iya," jawab Karina.


"Yasudah, yuk kita coba kembali ke ruangan lagi mungkin drama rumah tangga Alby dan Azmia sudah selesai. Tadi Gue udah kayak nonton film," ucap Revan.


"Iya. Karin sampai terharu melihatnya," sambung Karina.


"Enak ya kalau udah nikah bisa bebas peluk-peluk sesuka hati," ujar Revan. Mereka mengobrol sambil berjalan menuju ruangan Bunda.


"Cemburu ya, ngiri ya, pengen? makanya buruan sono nikah," balas Karina dengan tertawa mengejek.


"Bukan cemburu sih, cuma gue nyesek aja seseorang yang gue perjuangin di peluk orang lain ya meskipun orang tersebut kakak gue sendiri," ucap Revan. Masih terasa sakit saat melihat orang yang sejak dulu ia cintai bersama orang lain. Meskipun sekarang rasa sesak itu tak sesakit dulu saat awal melihat cinta bersanding dengan yang lain.


"Sabar, Kak." Karina sambil menepuk bahu Revan.

__ADS_1


Tak terasa kini mereka sudah tiba di depan ruangan Bunda.


"Sepertinya sepi," ucap Revan.


"Iya, udah selesai kali drakornya," balas Karina.


"Sepertinya begitu. Yuk, kita masuk!" ajak Revan.


Revan mulai membuka pintu dengan perlahan takut drakor masih di mulai nanti dia di usir lagi, jadi lebih baik mengendap-endap seperti maling. Saat kepalanya sudah melihat suasana di dalam ternyata sepi dia pun menarik kepalanya keluar pintu.


"Gimana, Kak?" tanya Karina.


"Sepi. Kuy!" Revan mengajak Karina masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka sambil membuka pintu melangkah masuk kedalam.


"Wa'alaikumussalam," balas Bunda Rita.


"Mia sama Mas Alby kemana Bun?" tanya Revan karena tak melihat kedua pemain drakor di dalam ruangan.


"Azmia di bawa pulang Mas mu," jawab Bunda.


"Bunda tidak berbohong," balas Bunda Rita.


"Kenapa Bunda mengizinkan mereka tinggal berdua lagi? nanti kalau Mia di apa-apain Mas Alby gimana?" pikiran Revan mulai berkelana seperti reader 🤭. Revan tak bisa membayangkan jika semua itu akan terjadi karena nggak ada yang tidak mungkin jika hanya tinggal berdua godaan syaitan itu tidak melihat tempat dimana mereka berada.


"Biarkan saja mereka sudah menikah, halal bagi mereka." Bunda yang mengerti arah pikiran Putra bungsunya. Sebenarnya ingin rasanya Bunda tertawa melihat reaksi Revan yang begitu menghawatirkan Azmia hingga mempunyai pikiran sejauh itu.


"Tapi, Bun __." Revan menahan ucapannya.


"Sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Bunda yakin Azmia pasti bisa menjaga diri kamu kan tahu bagaimana Kakak ipar mu itu," balas Bunda.


"Move on, Kak move on," ujar Karina. "Eh ... kalau Azmia pulang dengan Mas Alby, terus bagaimana nasibku," lanjut Karina.


"Hahaha, pulang sendiri sana," balas Revan.


"Tidak boleh. Anak perempuan nggak boleh pulang sendiri malam-malam jadi nanti Karina pulangnya di antar oleh Revan saja," ujar Bunda.


"Tidak-tidak, Revan ingin istirahat, Bun," balas Revan menolak mengantarkan Karina pulang.


"Biar, Daffa yang mengantarkan Karina, Bun," sahut Daffa yang baru masuk ke dalam ruangan bersama Ayah Wisnu.

__ADS_1


"Apa tidak merepotkan?" tanya Bunda.


"Tidak, Bun. Kan sekalian Daffa pulang," jawab Daffa.


"Oh, begitu baiklah, Bunda jadi tidak khawatir lagi," ucap Bunda.


"Van, pinjam motor lu." Daffa mengulurkan tangannya meminta kunci motor.


"Mobil kemana?" tanya Revan pada Daffa.


"Tadi gue kesini di jemput Alby, sekarang di pakai dia," jawab Daffa.


"Mobil lu, Rin?" Kini Revan ganti bertanya pada Karina.


"Mobilnya sih pasti ada di parkiran, tapi yang jadi masalahnya kunci mobil di bawa Azmia," jawab Karina.


"Hadeh." Revan menepuk jidatnya. "Baiklah, nih." Akhirnya Revan memberikan kunci motor pada Daffa.


Setelah mendapatkan kunci motor Daffa dan Karina berpamitan pulang kemudian keluar dari ruangan menuju parkiran mengambil motor terlebih dahulu.


"Maaf, ya jadi merepotkan, Pak Daffa," ucap Karina.


"Tidak apa, jangan panggil saya, Pak. Memangnya gue terlihat begitu tua," balas Daffa.


"Maaf. Kalau begitu Karin panggil Kak Daffa saja ya," ujar Karina.


"Itu jauh lebih baik," balas Daffa setuju dengan panggilan dari Karina.


"Pegangan takut jatuh," ucap Daffa sebelum memulai melajukan motornya. Karina memegangi baju Daffa. Setelah itu Daffa melajukan motornya menuju rumah Karina terlebih dahulu.


"Dimana rumahmu?" tanya Daffa.


"Antarkan saja Karin ke cafe lovely, Kak," jawab Karina.


"Ok, baiklah." Setelah itu tak ada obrolan lagi karena mereka sama-sama baru kenal jadi masih canggung.


Dipertengahan jalan Karina mulai mengantuk dia pun menyandarkan kepalanya di punggung Daffa. Tak lama dia pun terlelap dalam tidurnya.


Daffa yang menyadari jika Karina tidur, ia pun mengurangi laju motornya dan menarik tangan Karina agar melingkar di pinggangnya supaya Karina tidak jatuh.


"Kenapa jantung gue jadi kayak musik dangdutan gini," batin Daffa.

__ADS_1


__ADS_2