Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 292 Butik QN


__ADS_3

Di butik


Azmia dan Mama Iren sudah bersiap untuk berangkat ke butik dengan mengendarai mobil pribadi Azmia yang di belikan Papa Ari sebagai kado kembalinya my Princess Bakhri.


Setelah menempuh satu jam perjalanan kini mereka berdua tiba di butik langganan Bunda Rita.


"Selamat datang di butik QN," sapa salah satu karyawan.


"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya karyawan.


"Saya ingin bertemu dengan Tante Arin," jawab Azmia.


"Apa Kakaknya sudah buat janji?" tanya Karyawan.


"Sudah, Mba," jawab Azmia.


"Baiklah, silakan di tunggu terlebih dahulu ya, Kak," ucap karyawan tersebut.


Azmia mengangguk sebagai jawaban.


Sambil menunggu Tante Arin, Azmia memilih berkeliling butik melihat koleksi gaun yang ada di butik QN.


***


Di tempat lain


"Revan cepatlah," teriak Bunda di depan pintu kamar Revan.


"Iya, Bun sabar," balas Revan dari dalam kamar.


Tak berselang lama Revan keluar kamar berjalan menuruni anak tangga menghampiri sang Bunda yang berada di ruang tamu.


"Bun, go," ucap Revan sambil mengarahkan tangannya keluar rumah.


"Dasar anak nakal dari tadi di tungguin malah sekarang ninggalin," gerutu Bunda karena Revan lebih dulu berjalan keluar rumah.


"Bun, Mas Alby ikut ke butik apa nggak?" tanya Revan kini mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju butik.


"Katanya sih Nila duluan Masmu nanti nyusul setelah selesai meeting," jawab Bunda Rita.

__ADS_1


"Oh, gitu. Oh, iya, Bun. Kira-kira Mba Nila sudah tahu belum ya kalau calon istri Revan itu Azmia," ucap Revan.


"Entahlah," balas Bunda karena beliau juga nggak tahu.


"Azmia sudah sampai di butik apa belum, Bun?" tanya Revan.


"Sudah dari tadi lima belas menit yang lalu," jawab Bunda.


"Waduh, hehehe." Revan berkata dengan tertawa kecil.


"Kamu sih lama banget," ucap Bunda.


"Maaf, Bun tadi ketiduran selesai ngerjain kerjaan kantor," balas Revan.


***


Di tempat lain


"Mas, kamu antar aku terlebih dahulu apa aku berangkat sendiri?" tanya Nila.


"Mas antar sekalian ketemuan dengan klien," jawab Alby.


"Iya," balas Alby.


Mereka pun keluar kamar berjalan menuju lantai bawah.


*


*


*


*


Kembali ke butik


"Ma, kira-kira warna apa yang cocok untuk acara nanti?" Azmia meminta pendapat pada Mamanya. Setelah melihat beberapa koleksi gaun pengantin yang ada di butik.


"Terserah kamu saja," jawab Mama Iren karena selera orang kan berbeda-beda takutnya nanti dia bilang A, tapi ternyata nggak sesuai dengan selera anak dan menantunya jadi lebih baik sebagai orang tua beliau mengikuti yang muda saja, yang akan menjalankan pernikahan.

__ADS_1


Terkadang anak dan orang tua itu memiliki selera yang berbeda.


"Kalau menurut Mama warna putih atau coklat?" tanya Azmia lagi-lagi dia meminta pendapat pada sang Mama.


"Putih bagus netral dan kesannya juga lebih indah gitu, kalau coklat dia juga bagus untuk acara resepsi malam, tapi kalau menurut Mama lebih baik kamu diskusi saja dulu sama Nak Revan." Mama Iren memberikan saran pada Azmia.


"Iya, Ma." Azmia mengangguk.


"Maaf kami terlambat," ucap Bunda Rita saat tiba langsung menghampiri Azmia dan Mamanya yang sedang duduk di kursi yang berada di dalam butik.


"Tidak apa, Rit," balas Mama Iren.


"Maaf ya, sayang lama menunggu," ujar Revan.


"Iya, Kak nggak apa kok," balas Azmia dengan tersipu malu.


"Jangan sayang-sayangan belum halal," omel Bunda Rita sambil memukul lengan Revan.


"Iya-iya, Bun," balas Revan.


Azmia yang melihat itu jadi tertawa kecil.


"Gimana, sayang apa kamu sudah memilih gaunnya?" tanya Bunda.


"Giliran Bunda boleh manggil sayang, giliran aku nggak boleh," gerutu Revan.


"Kamu dan Bunda itu beda, sudahlah jangan ngedumel terus nanti Bunda batalkan nih pernikahannya," ucap Bunda mengancam putranya.


"Eh, jangan dong, Bun kasihan Revan nanti bisa bunuh diri karena patah hati," balas Revan sambil memasang wajah melasnya.


"Halah, lebay. Paling juga nyari yang baru," ujar Bunda.


"Betul tuh, Bun," sambung Azmia.


"Itu tidak mungkin calon istri ku tercinta karena hatiku sudah penuh dengan namamu tak ada ruang lagi untuk orang lain singgah di hati ini," balas Revan.


"Lebay. Sudah sana cari baju yang cocok buat kamu," ucap Bunda.


"Iya-iya kanjeng Mami," balas Revan kemudian dia melangkahkan kakinya melihat -lihat koleksi baju pengantin yang cocok untuknya di bantu oleh asisten Tante Arin karena Tante Arin masih ada tamu jadi asistennya yang turun tangan.

__ADS_1


Sedangkan para perempuan juga mulai memilih-milih gaun yang pas untuk mereka.


__ADS_2