
Tepat pukul satu sesuai keinginan keluarga pihak perempuan acara ijab kabul di laksanakan.
Para saksi dan penghulu sudah siap berada di tempat yang telah di siapkan.
Di karenakan dadakan jadi cincin yang tadinya untuk tunangan dia jadikan maskawin, surat nikah pun nanti menyusul setelah semua surat-surat lengkap.
"Sah." Satu kata yang mampu membuat semua orang yang mendengar langsung mengucapkan rasa syukur.
Setelah selesai ijab dan acara sebagai nya Alby menghampiri di mana Bunda, Revan dan Azmia duduk berkumpul bersama dalam satu meja.
"Kenapa, Al?" tanya Bunda.
"Bun, hari ini Al bawa pulang Nila ke rumah Bunda ya," ucap Alby.
"Iya. Selamat ya anak Bunda sekarang kamu sudah jadi imam, pemimpin dalam keluarga meski ini bukanlah yang pertama kali, tapi Bunda mohon dengan sangat untuk saat ini jadilah imam yang baik. Kamu bukanlah anak kecil lagi yang harus Bunda kasih tahu setiap hari. Bunda berharap semoga ini adalah yang terakhir kali untuk selamanya," ucap Bunda memberikan nasehat pada Putra sulungnya.
"Iya, Bun," balas Alby.
"Selamat ya, Mas. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah langgeng hingga kakek, Nenek dan semoga ini yang terakhir kalinya," ucap Azmia memberikan selamat pada Alby.
"Amin, terima kasih Mi. Do'a terbaik juga buat kamu semoga cepat menyusul," balas Alby.
__ADS_1
"Amin," ujar Azmia.
"Mas di panggil Papa," ucap Nila pada Alby.
"Iya," balas Alby kemudian berdiri dari duduknya berjalan mencari keberadaan mertuanya.
Saat Nila memanggil Alby. Azmia menghampiri Nila memberikan selamat padanya. "Selamat ya, Mba Nila," ucap Azmia.
"Makasih, Mi," balas Nila dengan tersenyum manis.
Hari ini status gue sudah menjadi nyonya Alby, jadi sebentar lagi gue akan menggeser nama kamu dalam keluarga Alby siap-siap saja Azmia semua orang nggak akan ada lagi yang mengharapkan kehadiran mu, batin Nila.
Di rumah sakit
"Ar, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Papa Irwan.
"Ar, juga belum tahu pasti, Pa," jawab Ardiaz karena tadi Azmia buru-buru pergi jadi dia belum mendapatkan penjelasan secara detail. Azmia hanya memberi tahu jika Mamanya kecelakaan gitu saja.
"Terus bagaimana kamu bisa tahu jika Mama kecelakaan?" tanya Papa Irwan.
"Azmia yang menelpon Ar, karena dia yang menolong Mama membawanya ke rumah sakit," jawab Ardiaz.
__ADS_1
"Kamu yakin dia yang menolong? Apa dia juga tersangkanya?" Papa Irwan seakan menuduh Azmia sebagai tersangka kecelakaan Mamanya.
"Pa, jangan bicara seperti itu. Papa boleh benci dengan Azmia, tapi Papa tidak boleh menuduh orang sembarangan nanti kalau tidak terbukti jadinya fitnah," jelas Ardiaz. Bukan sok menasehati orang tua, tapi jika salah harus di luruskan.
"Kamu mau membela dia," ucap Papa Irwan dengan nada yang sedikit tinggi.
"Pa, jika Papa tidak percaya dengan ucapan Ar. Papa bisa tanyakan sama Mama. Bahkan Mama sendiri bilang ingin bertemu dengan Azmia untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan Azmia yang tepat waktu, Mama bisa selamat," jelas Ardiaz.
"Kenapa berisik sekali?" tanya Mama Irana dengan suara yang masih lemah.
"Ma." Papa Irwan langsung mendekat ke arah istrinya duduk di samping sang istri. "Apa ada yang sakit, Ma?" tanya Papa Irwan.
Mama Irana menggeleng. "Mama baik-baik saja, Pa," jawab Mama Irana. "Semua ini berkat pertolongan Azmia, Pa," ucap Mama Irana dengan derai air mata mengingat kebaikan Azmia terhadapnya padahal dia sudah begitu jahat pada Azmia, tapi Azmia malah sebaliknya. Azmia tanpa ragu menolongnya.
"Kan Papa dengar sendiri," ucap Ardiaz.
"Iya, mungkin dia menolong Mama biar bisa di restui," balas Papa Irwan.
"Pa, Azmia bukan orang yang seperti itu." Ardiaz masih berusaha meyakinkan Papanya jika apa yang ada di pikiran Papanya itu tidak benar.
"Sudah-sudah jangan berdebat." Mama Irana menghentikan perdebatan antara anak dan bapak.
__ADS_1