
Pagi hari setelah selesai sholat subuh Azmia sudah rapi dengan barang bawaannya yang lumayan banyak. Azmia membawa satu koper, tas yang tidak terlalu besar berisi beberapa sepatu dan sandal miliknya karena saat ke rumah Alby, Azmia tidak memiliki banyak barang jadi saat pergi dia tidak terlalu riweh.
Di rasa sudah siap, Azmia berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah dengan membawa koper.
"Non, kenapa bawa koper? Non Mia, mau kemana?" tanya Mbok Asih saat melihat Azmia menuruni anak tangga.
"Mbok, maafkan Mia ya, jika selama tinggal di sini punya banyak salah sama Mbok Asih, hari ini Mia ingin pamit pergi karena bukan disini lagi tempat Mia berteduh," ucap Azmia.
"Non Mia, ingin kemana? Kenapa tidak tinggal di sini saja?" tanya Mbok Asih.
"Mia hanya ingin istirahat sebentar, Mbok. Mia lelah," ucap Azmia kemudian memeluk Mbok Asih tanpa sadar air matanya menetes.p
"Yang sabar ya, Non semoga Allah selalu menjaga Non Mia di manapun berada. Non Mia selalu jaga kesehatan ya, kalau ada apa-apa kabarin Mbok," balas Mbok Asih sambil mengelus lembut punggung Azmia.
"Amin. Iya, Mbok. Mia, pamit dulu ya, titip Mas Alby ya, Mbok," ucap Azmia setelah melepaskan pelukannya.
"Baik Non. Hati-hati ya, Non. Semoga Non Mia selalu dalam lindungan Allah SWT," balas Mbok Asih.
"Amin, terima kasih, Mbok," ujar Azmia.
"Sama-sama, Non," balas Mbok Asih.
"Assalamualaikum," ucap Azmia sebelum benar-benar keluar dari pintu rumah Alby.
"Wa'alaikumussalam," balas Mbok Asih sambil meneteskan air matanya. Mbok Asih tak menyangka Azmia akan memilih pergi, satu tahun tinggal satu atap bersama Azmia banyak pelajaran yang ia dapatkan.
__ADS_1
Setelah keluar dari pintu Azmia menatap ke rumah yang memiliki banyak kenangan dirinya bersama Alby. Awal mula ia menginjakkan kaki di rumah itu hingga kini dia pergi meninggalkan rumah ini. Azmia tak percaya jika saat ini dia benar-benar akan pergi meninggalkan rumah yang ia tempati selama satu tahun ini.
Takdir memang tak ada yang tahu. Semua berjalan sesuai dengan rencana yang telah Allah tetapkan.
Setelah puas memandangi rumah penuh kenangan Azmia melangkahkan kakinya menuju sepada motor yang terparkir di dekat garasi mobil menaruh koper dan tas di atas motor. "Bismillah," ucap Azmia setelah menaiki kendaraan roda duanya, perlahan Azmia meninggalkan rumah.
"Non Mia, ingin pergi kok bawa koper?" tanya Mang Udin satpam rumah.
"Iya, Mang ada acara keluarga di luar kota," jawab Azmia.
"Mia, pamit ya, Mang. Assalamualaikum," ucap Azmia sebelum benar-benar keluar pintu gerbang.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati, Non," balas Mang Udin.
Azmia memilih tinggal di apartemen miliknya yang telah lama dia tinggalkan karena harus menikah dengan Alby.
Setelah menempuh hampir dua jam perjalanan kini Azmia telah tiba di apartemen YT -- Apartemen tersebut adalah tempat tinggal Azmia saat mulai kuliah, tapi tak ada yang tau kecuali Angga dan kedua sahabatnya. Azmia sengaja menyembunyikan apartemen tersebut dari keluarga Pranata agar dia bisa bersembunyi saat dia sedang ada masalah.
"Assalamualaikum, Neng Mia lama tidak terlihat," sapa seorang paruh baya saat melihat Azmia memarkirkan motornya.
"Wa'alaikumussalam, Mang Asep," balas Azmia kemudian menyalami Mang Asep.
"Bagaimana kabarnya, Neng?" tanya Mang Asep.
"Alhamdulillah, Mia baik, Mang," jawab Azmia.
__ADS_1
"Sini biar Mang Asep saja yang bawakan barang Neng geulis." Mang Asep mengambil alih koper yang di bawa Azmia.
"Kopernya berat Mang, biar Mia saja yang bawa, Mang Asep bawa tas ini saja." Azmia memberikan tas yang berisi sepatu dan sandal.
"Neng geulis masih sama seperti yang dulu," ucap Mang Asep.
Azmia membalasnya dengan senyuman kemudian mereka berjalan menuju apartemen Azmia sambil bercerita hingga tak terasa kini mereka sampai di depan pintu apartemen Azmia.
"Terima kasih ya, Mang," ucap Azmia setelah sampai di depan pintu apartemen Azmia sambil memberikan selembar uang berwarna merah
"Sama-sama, Neng. Ini kebanyakan, Neng geulis." Mang Asep ingin mengembalikan uang yang di berikan Azmia.
"Tidak apa, Mang itu rezeki buat si cantik," ujar Azmia.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya Neng geulis," ucap Mang Asep.
"Sama-sama, Mang. Oh, iya, Mia masuk dulu ya, Mang," pamit Azmia.
"Iya, Neng silakan!" balas Mang Asep.
Setelah berpamitan pada Mang Asep, Azmia masuk kedalam, sedangkan Mang Asep kembali ke pos satpam lagi.
Azmia menaruh kopernya kemudian berjalan menuju kamar membuka jendela serta pintu menuju balkon.
'Semoga keputusan yang aku ambil adalah yang terbaik. Aku tak ingin menyakiti siapapun, aku hanya ingin melihat orang yang ku sayangi bahagia. Azmia kamu pasti bisa jangan menangis lagi, kamu tidak boleh cengeng Azmia,' batin Azmia menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1