
Awal dari sebuah kehidupan yang baru.
Hari ini Azmia tetap berpenampilan sebagai Nisa karena baginya Nisa adalah kehidupan baru. Kehidupan yang harus dia jalani setelah kini sudah resmi berstatus sebagai jantik (Janda Cantik).
"Bismillah, ku awali semua dengan senyuman," lirih Azmia saat bangun dari tidurnya dengan merentang kedua tangannya.
Kemudian dia bergegas turun dari kasur berjalan menuju kamar mandi membersihkan diri.
Lima belas menit setelah ritual di kamar mandi Azmia keluar sudah lengkap dengan pakaian rapi karena hari ini dia ada kuliah pagi.
"Rin, bangun mandi sudah siang," teriak Azmia karena Karina tak kunjung bangun meskipun alarm sudah berbunyi sejak tadi.
"Iya," balas Karina sambil mengucek matanya yang belum bisa melek sepenuhnya.
Azmia duduk di kursi rias memoleskan sedikit bedak di wajahnya dan memberi warna pink pada bibirnya.
"Baju ku di mana, Mi?" tanya Karina setelah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Di lemari lah," jawab Azmia.
"Nggak ada," ucap Karina.
"Memangnya kemarin nggak di ambil baju yang laundry?" tanya Azmia.
"Astaghfirullah, lupa," jawab Karina sambil menepuk jidatnya. Karina memang tidak menyimpan banyak baju di cafe hanya beberapa potong saja. "Minjem ya, Mi please." Karina menangkupkan ke dua tangannya sambil memasang wajah imutnya.
"Iya-iya nggak perlu masang wajah sok imut gitu," omel Azmia.
Karina hanya membalasnya dengan tawa cekikikan.
Di tempat lain tepatnya di kantor.
"Ngapa lu, Al?" tanya Daffa karena Alby menatapnya dengan tajam.
"Lu, harus jelasin ke gue, sejak kapan lu mengetahui jika Nisa itu adalah Azmia," tegas Alby.
__ADS_1
"Santai bro," balas Daffa.
"Kemarin gue masih bisa tahan, tapi sekarang tidak lu harus jelasin sekarang juga," ucap Alby.
"Iya-iya gue kasih tau jadi orang kepo banget sih udah kayak emak-emak kompleks," balas Daffa.
"Biarin, kepo tentang bini gue ini," ujar Alby tanpa sadar.
"Bini yang mana? inget woi ... inget sekarang dia udah jadi mantan istri dan lu sudah resmi berstatus dunes," balas Daffa sambil tertawa kecil.
"Biarin lah suka-suka gue, gue yang ngomong. Oh, iya apaan itu dunes?" tanya Alby yang tak mengerti dengan ucapan Daffa.
"Duda ngenes." Daffa berkata dengan tertawa membuat Alby kesal, diapun langsung melempar pulpen ke arah Daffa, tapi dengan cepat Daffa langsung menghindar dan pulpen pun terjun bebas ke lantai tanpa terkena Daffa sedikit pun.
"Buruan cerita," kesal Alby.
"Iya-iya sabar," balas Daffa. "Awalnya sih gue juga nggak sengaja mengetahui semuanya dan nggak menyangka jika wanita berkacamata itu adalah Azmia. Awalnya tuh gue nggak sengaja pas lagi di Mall ketemu Azmia dan Karina nah saat itu gue denger Karina selalu memanggil Azmia bukan Nisa padahal saat itu penampilan Azmia memakai kacamata itu pertama kali. Ke dua kalinya saat gue sedang makan di sebuah restoran ada seseorang memanggil Nisa dengan sebutan Azmia. Setelah itu gue semakin yakin jika Nisa itu Azmia," ucap Daffa menceritakan semuanya. Awal mula saat dia mengetahui penyamaran Azmia.
__ADS_1
"Gue terpaksa nggak kasih tau lu. Bukan karena gue nggak kasihan sama lu, tapi gue pengen tahu bagaimana reaksi lu saat di tinggal Azmia. Gue pengen lihat seberapa besar cinta Lu padanya, tapi ternyata lu masih berhubungan dengan Rania dan malah akan bertunangan dengan nya yaudah gue lebih baik diem. Gue juga ingin Azmia bahagia, Al dengan pilihannya, gue kasihan sama dia selalu lu duain," lanjut Daffa tanpa basa-basi dia mengeluarkan semua isi hatinya.
Alby terdiam tak berkata sepatah katapun. Sahabatnya saja peduli dengan istrinya kenapa dia tidak.