
Tiga bulan sudah Azmia berperan sebagai orang tua Alnia. Kini Alnia mulai bisa dia ajak komunikasi karena baby diusia tiga bulan sudah bisa melihat dan mulai bisa di ajak bercanda.
Meskipun hanya ibu angkat, tapi Azmia mengurus Alnia dengan sangat telaten bahkan dia rela bekerja di rumah supaya bisa mengurus Alnia sendiri. Jika ada kerjaan yang mengharuskan Azmia hadir di kantor ataupun di cafe maka tak lupa dia selalu mengajak Alnia.
Kemanapun Azmia pergi, Alnia akan selalu bersamanya.
Seperti hari ini Azmia ada jadwal harus ke cafe karena ada pengecekan barang yang baru datang serta mengecek laporan cafe dalam satu minggu.
Azmia berangkat ke cafe setelah Revan berangkat kerja. Azmia pergi menggunakan mobil sendiri.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan kini Azmia tiba di cafe cinta.
"Assalamualaikum," ucap Azmia sambil berjalan masuk ke dalam.
"Wa'alaikumussalam," balas beberapa karyawan yang ada di cafe sedang membersihkan cafe sebelum cafe di buka.
"Nina, mana Pras?" tanya Azmia.
"Ada di dapur, Mba bikin sarapan untuk kita," jawab Pras yang sedang membersihkan meja-meja.
"Baiklah, kalau begitu saya ke dapur dulu ya," ucap Azmia pamit.
"Iya, Mba," balas Pras.
"Dede Nia pagi-pagi sudah cantik banget sih." Pras mencolek pipi Alnia.
Alnia pun menanggapinya dengan tertawa kecil.
"Ih, gemes," ucap Pras.
__ADS_1
"Jangan di cubit." Azmia memberikan peringatan.
"Hehehe, lucu banget, Mba."
"Alnia sekarang sudah pinter ya, mau ikut om nggak?" Pras mengarahkan kedua tangannya ke depan Alnia yang berada di stroller.
Lagi-lagi Alnia tertawa melihat Pras.
"Nia seneng banget, muka Om Pras lucu ya kayak badut," sahut seseorang dari belakang.
"Sue, Lu Nin," balas Pras saat melihat ke arah belakang ternyata orang tersebut adalah Nina.
"Nia jangan ikut Om Pras nanti ke bauan. Dia kan belum mandi," ucap Nina.
"Lu, tau aja Nin kalau gue belum mandi. Lu pasti ngintipin gue ya," balas Pras.
"Hais ... kalian berdua saya doain berjodoh." Kini Azmia ikut angkat bicara melerai perdebatan kedua karyawannya.
"Ih ... amit-amit jabang bayi gendok kacong," ucap Nina sambil mengelus-elus perutnya kemudian berpindah mengusap wajahnya.
"Idih, lagi pula siapa yang mau sama Lu. Hiiiiii," balas Pras.
Azmia jadi tertawa melihat reaksi kedua karyawannya.
"Dahlah terserah kalian saja, eh ... tapi biasanya yang begitu sok-sok nolak nggak mau itu Allah jodohkan," ujar Azmia dengan tertawa.
"Mba Mia," balas Nina dan Pras bersamaan.
"Cie ... kompak." Azmia semakin senang menggoda kedua karyawannya.
__ADS_1
"Sana, Lu." Nina mengusir Pras supaya menjauh darinya.
"Lu aja sono yang pergi," balas Pras.
"Lanjutkan, saya ke dapur dulu." Azmia melangkah pergi ke dapur sambil mendorong stroller Alnia menjauh dari kedua anak manusia yang sedang berdebat.
"Gue juga mau pergi, pengen muntah gue lama-lama liat muka, lu," ucap Nina🤮.
"Sono pergi, Lu," balas Pras.
Azmia berjalan menuju dapur melihat keadaan dapur.
"Hem.m.m. aroma masakannya wangi sekali bikin laper nih. Masak apa, Rud?" tanya Azmia saat tiba di dapur mencium aroma masakan yang menggugah selera.
"Eh, ada Bu Bos. Apa kabar, Mba?" tanya Rudi setelah melihat seseorang yang masuk ke dapur.
"Alhamdulillah, baik," jawab Azmia.
"Kamu masak apa, Rud?" Azmia mengulangi pertanyaannya.
"Kepiting saus asam manis," jawab Rudi.
"Tumben pagi-pagi sudah masak menu spesial," ujar Azmia.
"Biasa, Mba ada yang request. Semalam si Ando bawa dari rumahnya. Ibunya di kasih saudaranya karena nggak ada yang bisa masak jadi Ando bawa ke cafe," balas Rudi.
"Oh, begitu. Sudah mateng belum, Rud?"
"Sebentar lagi, Mba,' balas Rudi.
__ADS_1