
Malam hari
Ardiaz terpaksa datang ke cafe lovely karena chatnya sejak pagi tidak di balas Azmia.
"Mba, apa Azmia ada?" tanya Ardiaz saat masuk ke cafe langsung menuju kasir menemui Novi yang sedang duduk di kursi kasir.
"Ada, Kak," jawab Novi.
"Bisa tolong panggilkan, Mba?" tanya Ardiaz.
"Tunggu sebentar!" ucap Novi kemudian mengambil ponsel khusus cafe untuk menghubungi Azmia.
"Kak, silakan di tunggu saja sebentar lagi Mba Mia turun," ucap Novi mempersilakan Ardiaz duduk terlebih dahulu sambil menunggu Azmia turun ke lantai bawah.
"Terima kasih, Mba," balas Ardiaz kemudian berjalan meninggalkan kasir mencari meja yang kosong.
**
Di lantai dua tepatnya di ruangan Azmia.
"Tadi siapa yang telpon, Mi?" tanya Karina.
"Si Novi," jawab Azmia.
"Ngapain telpon biasanya langsung ke sini?" tanya Karina.
"Ada orang yang nyariin aku di bawah," jawab Azmia.
"Siapa?"
"Enggak tau, ini baru mau ke bawah kamu nanya mulu," ucap Azmia.
"Hehehe, kan aku kepo Mi," balas Karina.
Tadi saat Azmia Nerima telpon Karina sedang asyik nonton drakor jadi tidak terlalu dengar suara Azmia karena terlalu fokus sama ponsel yang ada di depannya. Pandangannya baru teralihkan saat melihat Azmia memakai hijab.
"Aku kebawah dulu ya," ucap Azmia.
"Iya, Mi," balas Karina. Kali ini Karina hanya bertanya tanpa mengikuti Azmia karena dia belum selesai nonton drakor kesayangannya.
__ADS_1
**
Saat tiba di lantai bawah Azmia lebih dulu menemui Novi.
"Mana orangnya, Nov?" tanya Azmia.
"Itu, Mba di meja ujung," jawab Novi sambil menunjuk ke arah meja di mana Ardiaz duduk.
"Ok, terimakasih," ujar Azmia kemudian meninggalkan kasir berjalan menuju meja paling pojok.
"Kak," panggil Azmia saat tiba di mana Ardiaz duduk.
"Hei ... duduk!" Ardiaz mempersilakan Azmia duduk.
Azmia mengangguk kemudian duduk di kursi depan Ardiaz.
"Maaf ganggu ya," ucap Ardiaz.
"Tidak. Memangnya kenapa, Kak?" tanya Azmia.
"Apa kamu lupa?" Ardiaz balik bertanya.
"Tadi pagi kan aku sudah kirim pesan ke kamu," ucap Ardiaz.
"Astaghfirullah, maaf lupa," balas Azmia sambil menepuk jidatnya. Tadi pagi dia memang membaca setelah itu handphone langsung dia masukkan ke dalam kantong karena buru-buru mau sarapan.
"Maaf ya, Kak. Mia bener-bener lupa," ujar Azmia.
"Ya sudah nggak apa. Oh, iya malam minggu Mama mengundang kamu untuk makan malam bersama. Kamu bisa kan?" tanya Ardiaz.
"Insya'Allah, bisa," jawab Azmia.
"Karena aku sudah tiba di sini, jadi sebagai permintaan maaf kamu supaya saya terima, kamu harus nemenin saya makan malam disini saja tak apa," ujar Ardiaz.
"Baiklah, tapi Kak Diaz saja ya yang makan. Mia sudah kenyang," balas Azmia.
"Ok, nggak apa-apa." Yang terpenting bagi Ardiaz adalah Azmia mau menemaninya makan malam.
"Kakak mau pesan apa?" tanya Azmia.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, asal bersamamu apapun yang kamu pesenin pasti rasanya enak," jawab Ardiaz.
"Ih ... gombal," ucap Azmia.
"Nita." Azmia memanggil salah satu karyawannya.
Mendengar namanya di panggil Nita langsung menghampiri meja Azmia.
"Iya, Mba. Ada yang bisa Nita bantu?" tanya Nita saat tiba di meja Azmia.
"Pesen ini sama ini ya," ucap Azmia sambil menunjuk ke buku daftar menu.
"Baik,Mba," belas Nita kemudian berjalan menuju dapur menyiapkan pesanan Azmia.
***
Di rumah Alby.
Selesai makan malam bersama. Alby mengajak Bunda, Ayah dan Daffa untuk berkumpul di ruang keluarga.
** Tadi saat selesai kerja Daffa sengaja ikut pulang ke rumah Alby. **
"Bun, Yah. Daffa ingin berbicara sama kalian," ucap Alby membuka pembicaraan.
"Buruan ngomong." Alby menyenggol bahu Daffa menyuruhnya agar segera berbicara pada Ayah dan Bunda.
"Kenapa, Daf?" tanya Bunda.
"Begini, Bun. Malam minggu Daffa di suruh datang ke rumah seorang wanita, tapi orang tuanya meminta agar Daffa datang kesana membawa keluarga. Apa Bunda dan Ayah bersedia mendampingi Daffa?" tanya Daffa.
"Tentu saja, Bunda sama Ayah akan menemani mu jangan khawatir," ucap Bunda sambil menepuk bahu Daffa.
"Iya betul kata tuh kata Bunda. Kapan pun kamu membutuhkan kami. Kami akan selalu ada untukmu. Kamu juga kan anak Ayah dan Bunda," sambung Ayah Wisnu.
Bunda Rita dan Ayah Wisnu sejak dulu selalu menganggap Daffa sebagai putranya sendiri karena almarhum Ayah Daffa adalah sopir pribadi Ayah Wisnu. Ayah Daffa bekerja dengan Ayah Wisnu sejak Daffa masih kecil hingga Daffa lulus SMP almarhum meninggal akibat penyakit jantung.
"Alhamdulillah, terima kasih ya, Bun, Yah." Daffa langsung mencium penggalangan tangan Ayah dan Bunda. Daffa merasa sangat lega setelah mengutarakan niatnya dan di setujui oleh Bunda Rita dan Ayah Wisnu. Dia juga bersyukur memiliki keluarga seperti mereka.
"Iya, sama-sama," balas Bunda Rita.
__ADS_1
Setelah itu mereka mengobrol santai membahas tentang pekerjaan dan lainnya.