Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 146 jones vs sunes


__ADS_3

Malam hari


Rania bersama para sahabatnya membuat janji nongkrong bersama di cafe sambil menikmati alunan musik yang berada di cafe.


Setelah rapi dan puas dengan penampilannya Rania keluar kamar.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Mama Sonia saat melihat putrinya yang ingin keluar rumah berpenampilan rapi sambil membawa kunci mobil.


"Makan malam bersama teman, Ma," jawab Rania. "Nia, pergi dulu ya, Ma," pamit Rania sambil menyalami tangan Mamanya sebelum keluar dari rumah.


"Oh, hati-hati di jalan, jangan pulang terlalu malam," pesan Mama Sonia ada Putrinya.


"Siap, Ma," balas Rania.


***


Di dalam sebuah rumah yang sederhana terlihat dua laki-laki sedang duduk bersantai di sofa sambil memainkan ponselnya masing-masing.


"Daf ke cafe, yuk!" ajak Alby.


"Tumben lu ngajakin keluar," ucap Daffa. Karena biasanya kalau keluar malam itu biasanya idenya Daffa, tapi kali ini berbeda Alby yang lebih dulu mengajak Daffa pergi.


"Lagi pengen nyari udara malam," balas Alby.


"Bilang saja kesepian dasar sunes," ujar Daffa.


"Apaan tuh sunes?" Alby yang tak mengerti dengan ucapan Daffa.


"Suami ngenes, hahaha." Daffa tertawa terbahak-bahak memang dasar temen nggak ada akhlak.


"S*e, Lu. Eh, lu juga sama dasar jones," balas Alby. Ya meski yang di bilang Daffa ada benarnya semenjak kepergian Azmia, Alby jadi seperti kehilangan separuh jiwanya hari-harinya yang terbiasa penuh warna karena kehadiran Azmia di sampingnya, kini hanya tinggal sebuah kenangan yang harus dia lupakan.


"Biarin jones yang penting bahagia," ucap Daffa dengan sombongnya. Ya meskipun di dalam hati sedih karena tak kunjung mendapatkan wanita idaman.


"Gue juga bahagia banget," balas Alby yang tak mau kalah dengan Daffa.


"Ah ... iya-iya terserah lu saja. Ayo! kalau ingin pergi nanti keburu malam," ucap Daffa kemudian ia menghentikan permainan gamesnya memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


"Iya." Alby langsung menatap layar laptopnya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Mereka berdua berdiri dari duduknya melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Gantian lu yang bawa mobil," ucap Daffa menyuruh Alby yang menjadi sopir.


"Malas." Alby menolak menyupir dia langsung membuka pintu mobil masuk ke dalam duduk di kursi samping sopir.


"Gue lagi gue lagi beginilah resiko jadi bawahan," gerutu Daffa kemudian membuka pintu dan masuk ke kursi sopir.


****


Di cafe.


Azmia dan Karina duduk bersantai di balkon ruang kerja Azmia sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa cemilan yang menemani mereka.


"Mi," panggil Karina.

__ADS_1


"Hemmm," balas Azmia.


"Kamu kenapa sih diem saja?" tanya Karina.


"Enggak apa. Oh, iya, Rin nanti saat liburan kuliah kita ke yayasan NR yuk!" ucap Azmia.


"Wah, boleh tuh. Aku pengen lihat tempat mereka," balas Karina.


"Mi, boleh nggak aku tanya, tapi kamu harus jawab jujur," ujar Karina.


"Insya'Allah," balas Azmia.


"Sampai saat ini kamu yang ada di hatimu siapa? Kak Revan atau Mas Alby?" tanya Karina dengan serius.


Azmia terdiam tak menjawab.


"Enggak ada pertanyaan yang lain, Rin?" tanya Azmia.


"Enggak ada," jawab Karina.


"Aku harus jawab gitu?"


"Harus," balas Karina. Di dalam hati Karina pengen tertawa melihat ekspresi Azmia, tapi dia juga penasaran dengan isi hati Azmia.


"Aku juga bingung dengan hatiku saat ini. Saat berada di samping Kak Revan ada rasa seneng enjoy gitu mungkin karena umur kita tidak terlalu beda jauh kali ya, terus dia itu orang yang sangat perhatian sekali. Kalau bersama Mas Alby itu gimana ya karena lebih dewasa jadi tuh kadang terlalu serius gitu, lagi pula Aku dan Mas Alby belum kenal terlalu lama meskipun pernikahan itu sudah berjalan satu tahun, tapi kebersamaan kita baru beberapa bulan terjalin. Jika di tanya tentang perasaan cinta itu belum sepenuhnya tumbuh karena tertutup dengan kekecewaan," jelas Azmia menjawab pertanyaan Karina. Meskipun mereka Kakak beradik, tapi sifatnya berbeda sekali.


Jika hati sudah tergores luka maka akan lama sembuhnya.


"Terus kamu cemburu nggak sih kalau Mas Alby dekat dengan wanita lain?" Karina mengajukan pertanyaan lagi.


"Suatu hari nanti pasti Cinta sejati itu akan datang menghampiri tanpa kita cari," ucap Karina.


"Amin," balas Azmia.


****


Setelah menempuh jarak tiga puluh menit kini Alby dan Daffa telah tiba di tempat tujuan.


"Lu ngajakin ke sini pasti ada niat tersembunyi," ucap Daffa.


"Kadang-kadang suka bener kalau ngomong," balas Alby. Dia memang sengaja datang ingin berjumpa dengan Nisa. Ya saat ini Alby dan Daffa sedang berada di cafe lovely.


Alby memasang mata mencari keberadaan Nisa.


"Mba, apa Mba Nisa tidak masuk hari ini?" tanya Alby pada salah satu karyawan yang mengantarkan pesanannya.


"Ada, Kak. Mba Nisa sedang berada di ruangannya," jawabnya.


"Oh, gitu," ucap Alby.


"Iya, permisi," balasnya kemudian berjalan meninggalkan meja Alby.


***


"Bagaimana hubungan kamu sama calon suami?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, tinggal tunggu waktunya tiba," balasnya.


"Hai ... Mba pesen kentang goreng satu sama minumnya es cappucino," ucap pembeli.


"Baik, Kak."


**


Di dapur.


"Di depan ramai, Ke?" tanya Azmia pada Ike salah satu karyawan yang sedang berada di dapur menyiapkan pesanan.


"Alhamdulillah, lumayan ramai, Mba," balas Ike.


"Ke, nih udah," ucap Rudi memberitahu jika pesanan Ike sudah siap.


"Iya, Rud," balas Ike.


"Kamu lanjutkan saja itu biar saya saja yang yang mengantarkan pesanan," ucap Azmia.


"Baik, Mba," balas Ike.


Setelah mengambil makanan Azmia mengantarkannya ke meja nomor tujuh.


"Permisi, Kak ini pesanannya," ucap Azmia.


"Kamu. Oh, ternyata kamu karyawan di sini babu aja sok banget cari muka di depan Bunda Rita ngaca lu," ucap pengunjung dengan tersenyum sinis.


"Lu kenal, Ni?" tanya salah satu yang berada di meja nomor tujuh.


"Kenal sih enggak cuma waktu itu pernah ketemu saja sama dia saat gue sedang makan malam bersama keluarga Mas Alby. Dia sedang mengobrol dengan orang tua calon suami gue," ucap Rania. Ya pengunjung cafe yang marah-marah adalah Rania. Dia ke cafe bersama para sahabatnya untuk sekedar nongkrong, tapi tak di sangka bertemu dengan Nisa.


"Oh, begitu sudahlah biarkan saja lagi pula dia itukan tidak selevel dengan kita jadi tidak mungkin Alby jatuh cinta dengannya," sahut salah satu sahabat Rania.


"Iya betul," sambung yang lain.


***


Di meja Alby


"Al, lihat tuh ada apa ya." Daffa menyuruh Alby agar melihat ke arah meja nomor tujuh.


Alby pun menoleh ke arah yang di tunjukkan Daffa. "Nisa, Rania," ucap Alby.


"Rania?" Daffa tak percaya jika Rania ada di sini juga.


"Iya, lihat saja tuh si Rania." Alby mengarahkan kepala Daffa.


"Iya, betul. Pasti dia bikin ulah tuh," ujar Daffa.


"Sepertinya begitu," balas Alby.


"Samperin, Al," ucap Daffa.


"Biarkan saja." Alby merasa bingung jika dia menghampiri Rania maka dia akan gagal melakukan misinya, tapi kalau dia membiarkan Rania berulah maka kasihan Nisa. Jadi Alby dan Daffa hanya melihat tanpa menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2