
"Mel," panggil Azmia. "Kenapa, ada masalah?" tanya Azmia. Hari ini Melia terlihat begitu berbeda sejak ketemu di parkiran hingga sekarang berad di ruang kelas Melia tak mengucapkan sepatah kata pun membuat Azmia bingung.
Melia bukan menjawab dia justru langsung memeluk Azmia.
"Jika ada masalah cerita, Mel. Aku akan selalu setia mendengarnya," ucap Azmia sambil mengelus lembut punggung Melia.
"Menangislah, jika memang itu bisa membuat mu lebih tenang," lanjut Azmia.
Melia semakin menangis sesenggukan.
"Kenapa?" Karina yang baru datang langsung menghampiri para sahabatnya.
Azmia mengangkat kedua bahunya pertanda dia juga tidak mengerti.
"Mel." Karina mengelus punggung Melia.
"Mel, ada dosen," bisik Azmia. Melia melepaskan pelukannya, menghapus air mata yang telah membasahi pipinya.
*
*
*
Selesai kelas Azmia membawa Melia duduk di belakang kampus tempat yang nyaman untuk mereka ngobrol.
"Ada apa?" tanya Azmia sambil menggenggam tangan Melia.
__ADS_1
Melia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan dengan perlahan. "Mami mau jodohkan aku sama anak temannya. Aku nggak mau Mia, tapi Mami tidak menerima penolakan," jelas Melia dengan derai air mata.
"Aku, harus gimana, Mi? terus bagaimana aku jelasin ke Ferdi. Aku nggak mau putus dari Ferdi," lanjutnya.
"Kapan, kalian jadian?" Kali ini Karina yang berbicara.
"Baru satu minggu yang lalu," jawab Melia.
"Wah, parah kamu, Mel jadian nggak bilang-bilang ke kita," omel Karina.
"Ini aku sudah cerita," balas Melia.
"Telat, kemarin kemana saja." Karina yang kecewa dengan Melia.
"Sudah-sudah kenapa kalian berdua jadi berdebat." Azmia menghentikan perdebatan ke dua sahabatnya.
"Belum. Makanya aku nggak mau, nanti kalau ternyata om-om gimana, hih." Melia tak bisa bayangin jika itu benar terjadi, dia bisa mati di tempat karena serangan jantung.
"Hist, kau ini, Mami tidak mungkinlah jodohkan kamu dengan om-om." Karina menonyor kepala Melia. Rasa takut boleh, tapi kan nggak mungkin orang tuanya memberikan anak perempuannya pada om-om tega sekali jika itu benar-benar terjadi.
"Berdoa saja, semoga Allah memberikan yang terbaik buat kamu, jangan berpikir negatif dulu. Kita kan tidak tahu rencana Allah besok seperti apa." Azmia memberikan nasehat pada Melia.
"Iya, Mi. Terima kasih ya kalian memang sahabat terbaik ku." Melia memeluk Azmia dan Karina. Sahabat sejati itu selalu bersama dalam suka maupun duka.
"Kita ke kafe atau pulang nih?" tanya Karina.
"Kafe dong," jawab Melia dengan semangat karena dia merasa haus dan lapar setelah menangis.
__ADS_1
Mereka berdiri dari duduknya berjalan menuju parkiran mengambil kendaraannya masing-masing.
"Siap, kita berangkat." Azmia langsung menjalankan motornya. Sedangkan Melia dan Karina tancap gas mobil.
Tak butuh waktu lama bagi Azmia untuk sampai di kafe.
"Pertama," ucap Azmia dengan tersenyum bahagia.
"Kedua," sambung Karina.
"Ketiga," lirih Melia.
Kini mereka sudah sama-sama tiba di kafe. "Sabar, Mel ini adalah ujian," ucap Karina sambil menepuk bahu Melia dengan tertawa terbahak-bahak.
Setelah memarkirkan kendaraannya mereka berjalan masuk kedalam tujuan mereka saat ini adalah dapur. "Sore, Nin," sapa Azmia saat melewati meja kasir.
"Sore juga, Mba," balas Nina.
"Aku masuk dulu ya." Azmia melangkahkan kakinya menuju ruangannya agar bisa merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Iya, Mi nanti kita bawakan minuman kesukaan kamu," ucap Karina.
*
*
*
__ADS_1