Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 118 Pertemuan


__ADS_3

"Yah, dia ilang," keluh Daffa saat melihat meja pojok sudah kosong.


"Siapa yang ilang?" tanya Alby yang tak mengerti arah pembicaraan Daffa.


"Itu cewek yang tadi duduk di pojok kaya lu mirip Azmia,"'jawab Daffa.


"Oh, iya jadi lupa." Alby memegang jidatnya gara-gara tadi panggil sahabatnya dia jadi lupa kalau sedang mengamati Azmia. Baru di tinggal ngobrol sebentar Azmianya sudah menghilangkan.


"Cari lagi, Daf. Ini kesempatan gue untuk ketemu dengannya," ujar Alby.


"Iya, gue bantu cari." Daffa mulai memasang mata melihat orang yang hadir di dalam hotel, tapi nihil dia tidak menemukan Azmia lagi Sedangkan Alby berjalan keluar hotel. 'Ya Allah, tidak adakah kesempatan lagi bagiku untuk bertemu dengan istriku,' batin Alby sambil menatap ke luar halaman hotel, tapi tetap saja tidak menemukan sosok yang mirip Azmia.


Alby melangkahkan kakinya mencari meja yang kosong. Karena tidak ada


"Maaf boleh duduk di sini," ucap Alby sambil menunjuk kursi yang kosong.


Karena tak ada lagi meja yang kosong akhirnya Alby menghampiri meja yang di tempati hanya satu orang.


Mendengar ada suara seseorang, orang tersebut yang tadi sibuk dengan ponselnya mendongak kan wajahnya. Mereka saling menatap beberapa menit kemudian orang tersebut mempersilakan Alby duduk.


"Aku tidak salah orang kan?" tanya Alby tanpa basa-basi saat melihat wajah orang tersebut.


"Apa Anda bertanya pada Saya?" Orang tersebut balik bertanya.


"Disini tidak ada yang lain selain kita," ucap Alby.


"Maaf, saya tidak mengenal Anda," balasnya.


"Tolong, jangan siksa aku seperti ini, Mi. Aku kangen sekali denganmu," ujar Alby. Alby yakin orang yang berada di depannya itu adalah Azmia -- istrinya.

__ADS_1


"Maaf saya tidak mengenal Anda," balasnya lagi.


"Mulutmu bisa berkata seperti itu, tapi tidak dengan hatimu," ucap Alby. "Baiklah, jika kamu memang tidak mau jujur." Ada rasa kecewa dalam hatinya, tapi semua ini memang hukuman untuk nya.


Azmia terdiam tak berkata apapun. Dia berniat untuk pergi dari meja tersebut, tapi saat baru ingin melangkah tiba-tiba kakinya menginjak gaunnya hingga membuatnya hampir terjatuh jika Alby tidak dengan cepat menangkapnya.


Mereka pun saling bertatap mata. Beberapa saat kemudian Azmia membuang pandangannya berusaha untuk berdiri. "Maaf," ucap Azmia.


"Tolong jangan pergi." Alby menahan tangan Azmia saat Azmia ingin melanjutkan langkahnya meninggalkan Alby.


Karena tidak tega Azmia pun kembali duduk. Kini dia duduk di samping Alby. Alby terus saja menggenggam tangan Azmia. Azmia tak menolak saat Alby menggenggam erat tangannya. Ada rasa ketenangan dalam hatinya.


Sebenarnya dia tadi dia bukan tidak ingin berkata jujur, tapi dia belum siap ketemu Alby kembali. Entah kenapa dia merasa gugup dan deg-degan seperti dulu saat dia baru ketemu dengan Alby. Mungkin karena lama tidak bertemu.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Alby.


"Hari ini kamu terlihat sangat cantik hampir aku tidak mengenalimu. Aku nggak menyangka bisa bertemu dengan mu disini," ucap Alby.


Azmia hanya membalasnya dengan senyuman.


"Hari ini pulanglah ke rumah, Mas ingin melihat mu lagi setiap hari. Menyediakan sarapan, mengantarkan Mas saat ingin berangkat ke kantor, menyiapkan pakaian Mas, membenarkan dasi Mas saat berangkat, bercanda bersama. Mi, Mas rindu dengan kebersamaan kita." Alby berkata dengan suara bergetar menahan air mata agar tidak jatuh. Entah kenapa rasanya dia ingin menangis saat melihat Azmia, mungkin karena terlalu bahagia bisa bertemu kembali dengan istrinya.


"Maafkan Mia, Mas, tapi semua itu tidak mungkin terjadi," balas Azmia.


"Kenapa? bukankah kita masih sah jadi suami istri? tanya Alby.


"Maafkan, Mia, Mas." Azmia berkata dengan menundukkan kepalanya, rasanya ingin sekali dia berteriak dan memaki dirinya sendiri karena saat ini dia terlalu lemah di depan Alby.


Melihat suasana yang semakin ramai Alby mengajak Azmia untuk mengontrol di dalam mobilnya. Azmia tak menolak karena memang semua permasalahannya harus segera di selesaikan secepatnya.

__ADS_1


Sampai di depan mobil Alby membukakan pintu untuk Azmia. Azmia pun masuk kedalam mobil di ikuti Alby.


"Kita ngobrol di sini saja, tidak nyaman jika di sana banyak orang," ucap Alby.


"Apa lagi yang ingin, Mas Alby obrolin semua sudah jelas dan semua sudah selesai tidak ada lagi yang perlu kita bahas," balas Azmia.


"Lihat, Mas. Bilang kalau kamu tidak cinta dan ingin bercerai denganku." Alby mengangkat dagu Azmia agar menatap kearahnya.


Azmia hanya diam membisu saat melihat wajah suaminya yang telah lama tidak ia lihat. Azmia tak bisa berkata apa-apa, mulutnya seakan kaku. Sesaat kemudian Azmia menundukkan kepalanya kembali.


"Jangan membohongi diri mu sendiri, jangan menyakiti dirimu hanya demi kebahagiaan orang lain," ucap Alby.


Azmia hanya terisak air matanya sudah tak mampu lagi dia tahan dan pada akhirnya tumpah juga.


Melihat Azmia menangis Alby menarik Azmia dalam pelukannya. "Kenapa kamu harus melakukan itu? Aku sayang sama kamu, Mia. Aku tidak akan mendatangi surat cerai itu sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan mu," ucap Alby sambil mengelus lembut punggung Azmia.


Mendengar ucapan Alby. Azmia bukan terdiam malah semakin menangis. Dalam hatinya ada rasa bahagia, tapi juga sakit. Bahagia karena Alby masih ingin mempertahankan rumah tangga mereka. Sakit karena dia tidak bisa lagi mempertahankan pernikahannya, jika dia bertahan akan di pastikan bukan hanya Rania yang mengancamnya, tapi juga Mama Sonia dan Papa Prabu pasti akan datang menemuinya.


"Jangan menangis lagi." Alby melepas pelukannya menghapus air mata yang membasahi pipi Azmia.


"Maafkan Mia, tapi Mia tidak bisa lagi kembali pada Mas Alby. Mia bukanlah wanita yang pantas untuk Mas Alby. Siapalah saya hanya seorang karyawan cafe tak pantas bersanding dengan CEO seperti Mas Alby," ucap Azmia.


"Jangan pernah berkata seperti itu." Alby menutup mulut Azmia dengan telunjuknya.


"Saya, tidak pernah lihat seseorang dari statusnya. Siapapun wanita itu yang terpenting bagi saya adalah baik hatinya, penyayang dan mampu menjaga kehormatannya. Jika kamu tidak pantas bersanding dengan ku lantas seperti apa wanita yang cocok dengan ku? Saya sudah kaya, tak butuh wanita yang kaya harta. Saya hanya butuh wanita yang kaya hati," balas Alby. Perkataan Alby ada benarnya dia sudah memiliki segalanya harta yang mungkin tak akan habis hingga tujuh turunan. Itu hanya harta yang dia miliki belum lagi warisan yang akan dia terima dari Ayahnya.


"Harta itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang, hanya cinta dan kasih sayang yang bisa membuat orang bahagia," lanjut Alby.


Azmia terdiam tak membalas omongan Alby. Dia sedang berpikir bagaimana caranya agar secepatnya Alby mendatangi surat cerai itu.

__ADS_1


__ADS_2