
Memang sulit saat kita harus belajar menerima keadaan, tapi semua itu sudahlah takdir sang ilahi.
"Mel, kenapa? ada masalah lagi?" tanya Azmia. Kini mereka berdua sedang duduk di kursi samping kafe menikmati angin sore sambil ngobrol santai.
"Nanti malam nyokap suruh gue ketemuan sama orang pilihannya," jawab Melia dengan nada lesu, hatinya galau karena perjodohan.
"Minumnya, Mba." Nina menyodorkan dua gelas jus alpukat pesanan Azmia.
"Terima kasih, Nin," ucap Azmia.
Setelah memberikan minuman pada Azmia. Nina kembali masuk ke dalam kafe.
"Aku harus bagaimana, Mi?" tanya Melia.
"Kalau saran aku. Kamu temui dulu orang tersebut masalah cocok nggak nya itu pikirkan saja nanti jika kamu sudah melihat orangnya secara langsung," ucap Azmia. Melia belum tahu saja nasib Azmia sebenarnya seperti apa, jika Melia tahu pasti Melia akan terkejut.
"Tidak ada saran lainnya, Mi?" tanya Melia.
"Lakukan saja itu, nanti kita pikirkan lagi kedepannya. Tidak ada salahnya di coba, Mel. Kamu kan belum mengenal dia. Tak kenal maka tak sayang, Mel," jelas Azmia.
"Baiklah." Melia pasrah karena dia juga tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Entah apa yang ada di pikiran orang tuanya tiba-tiba menyuruhnya cepat menikah padahal usianya masih sangat muda baru menginjak dua puluh tahun. Dia masih ingin menikmati masa-masa remaja yang tak mungkin bisa di ulang kembali.
__ADS_1
Melia bukan doraemon yang memiliki kantong ajaib bisa memutar ulang waktu.
Terkadang memang kita harus pasrah, tapi bukan berarti menyerah. Akan tetapi kita berusaha menerima kenyataan yang ada.
*
*
*
"Kenapa melamun di sini?" tanya Alby.
"Ada masalah?" Alby ikut duduk di samping istrinya. Azmia yang sedang duduk di teras rumah menikmati keindahan langit malam yang penuh warna gemerlapnya bintang-bintang menjadikan gelapnya malam terlihat begitu indah.
"Ah, tidak. Mia hanya ingin cari angin saja," jawab Azmia.
"Apa kamu ingin jalan-jalan?" Alby menatap ke arah Azmia.
Azmia mengangguk. Sebenarnya dia sedang memikirkan nasib Melia saat ini, tapi dia tidak mungkin bilang ke Alby.
"Aku, ambil kunci mobil terlebih dahulu." Alby masuk ke dalam kamar mengambil kunci mobilnya di ikuti Azmia dari belakang dia masuk ke dalam kamarnya mengambil ponsel, kemudian dia segera turun ke lantai bawah. Ternyata Alby sudah menunggunya mobil. Azmia bergegas masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Kita sekalian makan malam ya di restoran A yang berada di mall," ucap Alby.
"Terserah, Mas Alby saja," balas Azmia.
Alby melajukan mobilnya menuju mall X. Tak butuh waktu lama untuk sampai di mall tersebut.
"Ayo!" Alby menggandeng tangan Azmia masuk ke dalam mall. Azmia tidak menolak saat Alby memegang tangannya.
Semakin hari kini hubungan mereka semakin ada kemajuan hanya saja mereka masih tidur di kamar terpisah. Semua butuh proses, entah sampai kapan mereka akan seperti itu padahal usia pernikahan mereka kini sudah menginjak tiga bulan.
Alby membawa Azmia masuk kedalam mall. "Mau makan apa?" tanya Alby. Kini mereka berdua sudah berada di dalam restoran.
"Samakan saja, Mas," balas Azmia.
"Kamu pernah kesini?" tanya Alby.
"Pernah beberapa kali bersama Melia dan Karina," jawab Azmia.
"Hanya bersama mereka, apa kamu tidak pernah pergi sama laki-laki, pacar mungkin?"
"Mia, tidak pernah pacaran," ucap Azmia dengan tersenyum kecil. Dia selalu berusaha untuk tidak pacaran sampai saat waktunya tiba yaitu pacaran dengan sang suami.
__ADS_1