
"Nila mana, Bi?" tanya Alby saat dia tiba di rumah, tapi tak melihat istrinya. Biasanya saat Alby pulang Nila berada di ruang tamu bersantai sambil menyaksikan acara televisi.
"Ada di kamar, Tuan. Sejak tadi pagi Non Nila muntah-muntah terus, Tuan," jelas Bi Emi wanita paruh baya (Art baru di rumah Alby).
"Kalau begitu saya ke kamar dulu, Bi." Pamit Alby pada Artnya.
"Iya, Tuan," balas Bi Emi.
Alby berlari kecil menaikki tangga menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Alby langsung masuk ke dalam terlihat Nila berbaring di atas ranjang dengan tubuh tertutup selimut. Alby dengan perlahan berjalan menghampiri istrinya.
Alby duduk di pinggir ranjang memandangi wajah istrinya yang tertidur lelap.
'Maafkan, Mas yang banyak salah terhadap mu, tapi Mas janji tidak akan pernah meninggalkan mu. Mas akan terus menjagamu,' batin Alby sambil menggenggam tangan Nila.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Nila. Dia terbangun karena merasa ada sentuhan di tangannya.
"Iya, baru sampai. Tadi kata Bi Emi kamu muntah-muntah, kita periksa ya," ucap Alby.
Nila menggelengkan kepalanya. Menolak ajakan Alby.
"Sayang, Mas takut kamu kenapa-napa, lihatlah wajah kamu pucat sekali. Pokoknya, Kamu harus periksa," ucap Alby dengan tegas supaya Nila mau di ajak periksa. "Tidak ada penolakan," lanjut Alby kemudian dia mengangkat tubuh Nila membawanya keluar kamar menuju mobil.
"Bi, tolong bukakan pintu," ucap Alby saat menuruni tangga.
Bi Emi yang mendengar perintah majikannya ia pun langsung bergegas membukakan pintu.
__ADS_1
Setelah Alby keluar rumah. Bi Emi segera membukakan pintu mobil.
"Bi, saya ke rumah sakit dulu ya," ucap Alby sebelum masuk ke dalam mobil.
"Iya, Den," balas Bi Emi.
"Ayo, Mang!" ucap Alby menyuruh Mamang Endi ( Satpam + sopir di rumah) agar segera melajukan mobilnya.
"Baik, Den," balas Mang Endi. Kemudian dia menyalakan mobil melajukan mobil keluar rumah menuju rumah sakit terdekat.
Tiga puluh menit perjalanan kini mereka tiba di rumah sakit.
Mang Endi segera keluar dari mobil membukakan pintu, kemudian mengambilkan kursi roda.
Alby membawa Nila masuk ke dalam rumah sakit.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak. Ada keluhan apa pada pasien?" tanya resepsionis.
"Kalau begitu silakan di tunggu di ruang pojok sebelah kanan ya, Pak," ucap resepsionis.
"Baik, Sus," balas Alby kemudian mendorong kursi roda menuju ruang sesuai petunjuk resepsionis.
"Mas, kenapa Aku di bawa ke ruangan dokter SpOG?" tanya Nila yang bingung.
"Mas juga nggak tahu ini sesuai petunjuk perawat tadi," jawab Alby. Mereka pun duduk di tempat antrian.
Tak butuh waktu lama nama Nila di panggil. Alby segera mendorong kursi roda masuk ke dalam. "Ada keluhan apa, Bu?" tanya Dokter SpOG.
__ADS_1
"Istrinya tadi pagi muntah-muntah, pusing, mual, badannya terasa lemas," jawab Alby.
"Baiklah, kita periksa dulu ya. Silakan!" Dokter mempersilakan agar Nila berbaring di brankar.
"Sus, tolong di bantu," ucap Dokter.
"Iya, Dok," balas Suster kemudian membantu Nila untuk naik ke atas brankar.
Setelah Nila berbaring di atas brankar dokter memeriksa keadaan Nila. "Apa ini sakit?" tanya Dokter sambil menekan pelan perut Nila bagian bawah.
"Iya, Dok," jawab Nila.
"Kita lihat dulu ya," ucap Dokter sambil menaburkan jel di atas perut Nila, kemudian dokter melakukan USG untuk memastikan keadaan Nila.
"Lihatlah di layar, Bu perhatikan bulatan itu," ucap Dokter.
"Itu apa, Dok?" Nila yang tak paham.
"Itu adalah kantong baby. Alhamdulillah ibu positif hamil dan kini usia kandungan sudah menginjak tiga bulan," jelas Dokter.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah," ucap Alby sambil mengusap wajahnya dengan ke dua tangannya.
Nila hanya bisa meneteskan air mata mendengar penjelasan dokter.
Setelah selesai pemeriksaan Alby membawa Nila pulang ke rumah dengan hati bahagia karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah.
Dia juga sudah tidak sabar ingin memberi tahu Bunda dan Ayah.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Alby sambil mencium kening Nila.
Nila hanya mengangguk sebagai jawaban.