
Pagi hari Karina dan Melia datang dengan membawa dua kantong plastik yang berisi bubur ayam.
"Selamat pagi," sapa Karina dan Melia saat membuka pintu ruangan Azmia.
"Pagi juga," balas Azmia dengan tersenyum kecil.
"Semalam Bang Angga yang jagain kamu, Mi?" tanya Karina saat menoleh ke sofa terlihat Angga masih tidur nyenyak, mungkin karena terlalu lelah sehingga tak mendengar ada suara.
"Iya, Mami sama Papi juga tadi subuh baru pulang," jawab Azmia.
"Mama Sonia sama Papa Prabu nggak kesini?" tanya Melia.
"Beliau tidak tahu kalau aku sedang di rawat, aku sengaja tidak ingin memberi tahunya takut mereka khawatir," jelas Azmia. Meskipun bukan itu alasannya, tapi lebih baik berbohong demi kebaikan.
"Mia, kamu tidak membohongi aku, aku tahu kamu pasti ada masalah dengan mereka. Aku tidak akan menyuruh mu bercerita sekarang, tapi aku harap kamu memberi tahu kami jika kamu ada masalah," ucap Karina.
"Iya, Rin. Terima kasih ya kalian memang sahabat terbaik aku," balas Azmia.
Mereka bertiga akhirnya berpelukan.
"Kalian ngapain?" tanya Angga. Dia terbangun saat mendengar suara seseorang di dalam.
"Bang Angga, bikin kaget kita saja," omel Melia karena tiba-tiba ada suara dari belakang.
__ADS_1
"Sorry," balas Angga.
"Bang Angga, sarapan yuk, nih Karin bawa bubur ayam," ucap Karina sambil memperlihatkan kantong plastik yang berisi bubur ayam.
"Mia, aku suapin ya?" Karina mengambil satu kotak bubur ayam.
"Terima kasih, Rin. Aku makan sendiri saja biar kita bisa makan berbarengan," ucap Azmia.
"Baiklah." Karina memberikan kotak bubur pada Azmia sedangkan Melia memberikan satu kotak untuk Angga. Mereka pun makan bersama di dalam ruangan meskipun di rumah sakit, tapi anggap saja sedang berada di rumah sendiri.
Selesai sarapan Karina memberikan obat pada Azmia. Setelah itu mereka ngobrol, bercerita, tertawa bersama entah apa yang mereka bahas hanya mereka bertiga yang tau. Sedangkan Angga selesai sarapan dia berpamitan pulang terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya dan pergi ke kantor karena ada meeting dadakan.
Melia dan Karina dengan senang hati menjaga Azmia di rumah sakit, dari pada mereka di rumah tidak ada kerjaan.
"Wa'alaikumussalam," balas mereka bersama.
"Masuk," ujar Melia.
"Kak Dery," lirih Azmia saat melihat seseorang yang masuk. "Mel." Azmia menatap kearah Melia.
Melia mengangguk sambil tersenyum manis. Dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Azmia.
"Hem, nih buat kamu semoga cepat sembuh ya," ucap Dery saat berada di samping bankar.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak," balas Azmia menerima parcel buah serta burket bunga yang di bawakan Dery.
"Kak Dery, silakan duduk!" Karina mempersilakan duduk pada Dery.
"Iya, Rin. Terima kasih." Dery duduk di sofa yang ada di ruangan.
"Sana temenin, pasti ini ulah kamu ya," bisik Karina pada Melia.
"Iya, iya." Melia berdiri dari duduknya yang tadi di samping Karina, kini dia harus berpindah duduk di sofa samping Dery.
"Kak Dery, sendiri?" tanya Melia.
"Iya. Si Ruben ada urusan jadi dia nggak ikut," jawab Dery.
"Gimana, keadaan Azmia sekarang?" tanya Dery.
"Alhamdulillah, seperti yang Kakak lihat, dia sudah lebih baik," jawab Melia sambil melirik kearah Azmia.
Saat mereka sedang mengobrol, bercanda tiba-tiba ada seseorang yang datang tanpa permisi langsung masuk dan menghampiri Azmia. Mencium kening Azmia.
"Mia, kenapa kamu tidak memberi kabar padaku kalau kamu sedang sakit?" tanyanya.
Azmia terdiam membeku karena terkejut, dia hanya bengong, yang lain pun sama tak kalah terkejutnya, mereka semua langsung menatap ke arah Azmia dan orang tersebut bergantian.
__ADS_1
Derry yang melihat kejadian di depannya membuatnya mengepalkan tangan, karena dengan santainya orang tersebut mencium kening Azmia, karena yang dia tahu Azmia tidak pernah mau di colek sedikit pun dengan laki-laki kecuali mahramnya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dia tak mau ikut campur urusan orang lain, apalagi di depannya ada calon istrinya, Derry tak ingin Melia salah paham.