Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 198 Nemenin lagi


__ADS_3

"Lu, tadi lihat nggak dokter ganteng sama cewek yang pakai piyama keluarga pasien IGD," ucap Suster A yang kebetulan tadi berpapasan dengan dokter ganteng.


"Iya. Memangnya kenapa hanya keluarga pasien kan?" tanya suster B.


"Sepertinya tidak, karena tadi mereka lama sekali di ruangan terus kata pak OB tadi dokter ganteng pesan makanan dua," sahut Suster C.


"Benarkah? Ah ... mungkin masih saudaranya kali." Suster B.


"Bisa jadi tuh." Suster A.


"Kalau bukan sodara, siap-siap deh gue nyiapin tissue." Suster C.


"Apa hubungannya dengan tissue?" Suster B sedikit lemot.


"Nyiapin kalau gue nangis patah hati." Suster C.


"Dokter Ardiaz janganlah kau patahkan hatiku menjadi dua." Suster A.


"Lebay, Lu," omel suster B.


"Kalian ini bertiga pada ngapain berunding terus," omel suster senior.


"Lagi bisnis, Bu," balas Suster A. Sedangkan Suster B dan C hanya tertawa kecil.


Itulah obrolan para suster yang mengisi waktu luang.


Di rumah sakit Ardiaz terkenal di kalangan para suster sebagai dokter ganteng karena usianya yang masih sangat muda, tapi sudah mampu mendapat gelar dokter.


***


"Selamat malam," sapa suster saat masuk kedalam ruangan Nita.


"Malam juga, Sus," balas Azmia dan Karina.


"Dokter ingin cek keadaan Kak Nita dulu ya," ucap Suster.


"Iya, Sus," balas Azmia.

__ADS_1


Selang beberapa detik dokter masuk bersama suster satu lagi.


"Mi." Karina menyenggol bahu Azmia.


Azmia dan Karina tersenyum saat melihat dokter masuk.


"Apa kepalanya masih pusing?" tanya Dokter pada Nita.


"Masih, tapi tidak separah tadi pagi, Dok," jawab Nita.


"Alhamdulillah kalau begitu, jangan lupa rutin minum obat ya," ucap Dokter.


"Siap, Dok," balas Nita.


Setelah memeriksa keadaan Nita dokter keluar ruangan, tapi sebelum keluar dia menghampiri Azmia terlebih dahulu. "Ke ruangan saya," ucapannya kemudian melanjutkan langkahnya keluar ruangan Nita.


"Cie ...," goda Karina.


"Apaan sih, Rin," ucap Azmia kemudian berdiri dari duduknya keluar dari ruangan Nita.


"Assalamualaikum," ucap Azmia, tapi tidak ada balasan. Azmia pun duduk di kursi tunggu takut di dalam nggak ada orang. Saat menunggu tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk.


Karena mendapatkan pesan agar dia menunggu di dalam ruangan, akhirnya Azmia masuk kedalam duduk di kursi sambil nonton drakor. Menunggu itu membosankan.


Sekitar lima belas menit orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Maaf lama ya," ucapnya.


"Tidak apa," balas Azmia.


"Kak Diaz kok tugas lagi?" tanya Azmia.


Ya tadi orang yang memeriksa kondisi Nita adalah Dokter Ardiaz.


"Iya, biasalah kalau lagi nggak ada kerjaan saya selalu ada disini dari pada di rumah bosen," jawab Ardiaz.


"Oh terus Mia kenapa di suruh kesini? apa terjadi sesuatu pada kondisi Nita?" tanya Azmia.

__ADS_1


"Enggak," jawab Ardiaz.


"Terus?"


"Temenin makan malam," ucap Ardiaz.


Azmia terdiam. Ya Allah kenapa aku jadi merasa terjebak begini, kalau tahu begini aku nggak mau terima tawaran Kak Derry, batin Azmia.


"Kenapa kok diem?" tanya Ardiaz.


"Tidak apa, hanya heran saja kenapa minta ditemenin. Apa setiap hari pacar Kak Diaz harus nemenin Kakak makan seperti ini?" tanya Azmia.


"Pacar dari mana. Saya kan udah bilang ini pertama kalinya saya makan di rumah sakit di temenin perempuan," jelas Ardiaz.


"Mia nggak percaya," ucap Azmia.


"Terserah kamu sajalah yang terpenting temenin saya makan malam." Ardiaz tak peduli Azmia mau percaya apa tidak.


"Baiklah." Azmia lagi-lagi dia hanya bisa mengikuti kemauan Ardiaz dari pada nanti dapat ancaman lagi toh hanya sekedar makan malam ini.


"Mau makan di kantin apa di sini saja?" tanya Ardiaz.


"Di sini saja malu jika di luar," jawab Azmia.


"Perasaan kemarin kamu nggak ada malu-malunya makan bareng saya," ucap Ardiaz.


"Itukan beda, Kak," balas Azmia.


"Apa bedanya?" tanya Ardiaz.


"Kalau kemarin kan karena terpaksa jadi mau nggak mau Mia harus berakting," jawab Azmia.


"Terus kalau sekarang?"


"Kalau sekarang kan beneran, Kak," balas Azmia dengan tersenyum kecil.


"Ya udah terserah kamu sajalah." Ardiaz udah pasrah ikut sajalah karena wanita di depannya memang benar-benar berbeda dari yang lain. Sepertinya Ardiaz masih harus belajar banyak agar bisa memahami Azmia.

__ADS_1


Niat hati nggak mau baper, tapi setelah mengenal mu seperti ini gue jadi semakin gemes dan penasaran sama kamu, batin Ardiaz.


Manusia memang hanya bisa berencana jika Allah sudah berkehendak maka semua yang tak mungkin bisa menjadi mungkin.


__ADS_2