Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 69 Cerita Alby


__ADS_3

Sampai di rumah Azmia langsung berjalan masuk ke dalam kamar, dia merindukan kasurnya. Sedangkan Alby menyiapkan bubur yang tadi Daffa beli. Bubur tersebut di taruh di dalam mangkok kemudian ia bawa ke kamar.


"Sayang, makan dulu," ucap Alby saat masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam.


Alby berjalan menghampiri Azmia kemudian duduk di pinggiran ranjang.


Melihat kedatangan Alby. Azmia bangun kemudian duduk bersandar di kepala ranjang.


"Biar Mas suapin," ucap Alby.


"Mia, bisa sendiri, Mas," balas Azmia. Dia ingin mengambil mangkuk yang berada di tangan Alby, tapi Alby menampik tangan Azmia, dia tak memperbolehkan istrinya makan sendiri.


"Mas," rengek Azmia meminta mangkuk tersebut.


"Tidak, biar Mas suapin. A-a-a," ucap Alby.


Dengan terpaksa akhirnya Azmia memilih mengalah, dia membuka mulutnya Alby pun memberikan sesendok bubur ayam.


"Mas, makan juga," ujar Azmia.


"Iya, nanti Mas juga makan," balas Alby.


"Kita makan berdua buburnya," ucap Azmia.


Alby menggeleng. "Kamu harus makan yang banyak supaya cepat pulih kembali.


"Kalau Mas Alby nggak mau ya udah Mia nggak mau makan." Azmia menutup mulutnya rapat-rapat.


"Ok, ok kita makan berdua." Dari pada berantem lebih baik mengalah. Alby menyuapi Azmia lagi, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya mereka makan bersama hingga bubur tersebut habis tak tersisa.


Selesai makan Alby memberikan obat pada Azmia dengan senang hati Azmia menerima obat tersebut kemudian dia meminumnya.


"Mas, ke bawah dulu naruh mangkok," ujar Alby.

__ADS_1


"Iya, Mas," balas Azmia.


Alby keluar kamar menuju dapur menaruh mangkuk dan gelas bekas makan.


Sedangkan Azmia memilih merebahkan tubuhnya kembali, karena tubuhnya masih terasa lemas.


Setelah menaruh mangkuk, Alby masuk ke ruang kerja bersama Daffa. "Lu, nggak istirahat, Al?" tanya Daffa.


"Nanti saja setelah ngecek laporan kemarin," jawab Daffa.


"Azmia tidur?" tanya Daffa.


"Sepertinya begitu," jawab Alby.


"Lu habis ngapain bikin dia sampai down begitu?" selidik Daffa.


"Gue jalan sama Rania," balas Alby tanpa ragu.


"Gila lu, parah banget pantas saja Azmia sampai ngedrop," ujar Daffa.


"Maksud, Lu?" Daffa yang tak mengerti dengan ucapan Alby.


"Jadi malam itu sebenarnya gua sama Azmia di undang acara makan malam oleh Mama Sonia, tapi ternyata saat di sana ada Rania, kemudian dia mengajak gue pergi jalan berdua, nah saat gue pergi gue tinggal si Azmia di rumah sama orang tuanya. Sebelum pergi gue bilang tunggu karena gue bakal pulang bareng dia, tapi ternyata pas gue pulang Azmia sudah nggak ada di kediaman Pranata. Mama Sonia bilang kalau Azmia ada acara mendadak di jemput seseorang pakai mobil warna merah. Gue sih nggak percaya karena gue tau betul bagaimana Azmia. Kalau memang tidak terjadi sesuatu pasti Azmia akan pulang ke rumah." Alby menceritakan semuanya pada Daffa.


"Nih, foto Azmia saat di jemput mobil." Alby memperlihatkan foto yang di kirim Mama Sonia di ponsel Alby.


"Ini bukannya mobil Azmia, eh ... lebih tapatnya mobil yang berada di cafe. Sepertinya Azmia sengaja meminta jemput orang cafe untuk menjemputnya, feeling gue sih gitu," ucap Daffa memprediksi apa yang ada pikirannya.


"Gue juga berpikir begitu, Daf," balas Alby.


"Lagian lu ngapain mau aja di ajak Rania," kesel Daffa.


"Gue pengen tahu aja kejujuran dia, dan gue bakal bikin dia juga merasakan bagaimana rasanya saat dia pergi ninggalin gue," ucap Alby penuh dengan amarah. Sedikit jahat tak apalah memberikan pelajaran bagi Rania supaya tidak seenak jidatnya membatalkan sesuatu yang sangat penting.

__ADS_1


"Apa Azmia tahu sebenarnya niat lu mau Deket Rania hanya ingin balas dendam?" tanya Daffa.


"Tidak, gue belum jelasin ke dia karena saat itu kan dia tidak pulang ke rumah. Nanti kalau dia sudah pulih kembali gue akan bilang yang sejujurnya pada dia," balas Alby.


"Bagus deh kalau lu punya niatan gitu. Azmia itu perempuan baik-baik, Al jangan lu sia-siakan nanti nyesel. Ingat penyesalan datangnya belakangan." Nasehat Daffa. Jika yang baik di buang mau cari yang seperti apa lagi.


"Iya, kalau dia nggak baik, nggak mungkin adik gue cinta mati padanya," ujar Alby.


"Why? si Revan cinta sama Azmia?" tanya Daffa.


"Iya, dari SMA, tapi saat Revan ngungkapin perasaannya Azmia menolak karena dia memang tidak ingin berpacaran, akhirnya si Revan berjanji pada Azmia kalau dia bakal melamar Azmia setelah mereka sama-sama kuliah, tapi takdir memisahkan mereka," jelas Alby.


"Kasihan sekali si Revan jadi saingan sama Abangnya, terus pas tahu kalau Azmia Kakak iparnya gimana tuh, gue nggak kebayang bagaimana sakitnya nih hati." Daffa memasang wajah melas sambil memegangi dadanya. "Sebenarnya lu cinta nggak sama Azmia?" selidik Daffa.


"Jika di bilang cinta gue nggak bisa jawab, tapi bersamanya selama hampir satu tahun membuat gue merasa nyaman berada disisinya, saat di pergi gue selalu merasa ada yang hilang dalam diri gue, meskipun gue hanya bisa melihatnya, tapi gue tetap senang selama dia di dekat gue," jelas Alby. Meskipun sudah hampir satu tahun tetap saja Alby dan Azmia masih seperti orang pacaran, bersama tapi tetap menjaga jarak. Azmia masih mempertahankan dirinya sampai Alby benar-benar mencintainya barulah dia akan memberikan apa yang seharusnya, kewajibannya sebagai seorang istri.


"Lu tanya hatimu, jangan lu tutupi hati itu dengan masa lalu, karena masa lalu tak kan pernah terulang kembali yang ada hanyalah masa depan," ucap Daffa. Dia yakin Alby masih bimbang dengan hatinya. Tapi suatu hari nanti Alby pasti tahu mana yang terbaik untuk dirinya.


"Gue tau," balas Alby seakan mengerti ucapan Daffa, hanya saja hatinya belum menetap ke satu wanita, masih ada Elvina yang bersarang di hati Alby.


"Bagus deh kalau tahu. Gue masuk apa libur nih, Al?" tanya Daffa. Pasalnya dari tadi dia hanya berdiam diri duduk di sofa sambil ngobrol, liatin Alby yang sedang sibuk di depan layar laptopnya.


"Masuk, lu kan harus lihat keadaan kantor," jawab Alby.


"Ya sudah, gue berangkat sekarang saja dari pada di sini juga gue cuma jadi pendengar curhatan bapak-bapak," balas Daffa.


"Ya sudah, sana," ucap Alby.


"Assalamualaikum," ucap Daffa sebelum benar-benar keluar dari ruang kerja Alby.


"Wa'alaikumussalam," balas Alby.


Cinta pertama memang sulit untuk di lupakan, jadi jangan pernah bermain-main dengan cinta. Putus cinta bisa bikin kita gila.

__ADS_1


Jatuh cinta bisa bikin kita buta.


__ADS_2