Peran Pengganti Kakakku

Peran Pengganti Kakakku
Part 80 Makan malam


__ADS_3

Benar saja sebelum Azmia keluar dari kelas Alby sudah lebih dulu sampai di kampus, Alby memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang kampus.


Azmia yang melihat mobil Alby, dia langsung berpamitan pada kedua sahabatnya.


"Mal, Rin, aku duluan ya," ucap Azmia. Berjalan lebih cepat.


"Tumben, Mi. Nggak bareng kita?" tanya Melia.


"Tidak, aku sudah di jemput," jawab Azmia.


"Cie ... sekarang sudah punya ehem," goda Karina.


Azmia tak menghiraukan para sahabatnya dia bergegas keluar gerbang menghampiri mobil Alby.


"Assalamualaikum," ucap Azmia sambil mengetok pintu mobil.


"Wa'alaikumussalam," balas Alby kemudian membukakan pintu untuk Azmia.


"Gimana kuliahnya, sayang?" tanya Alby.


"Alhamdulillah, lancar," jawab Azmia.


Setelah Azmia masuk Alby mulai menyalakan mobilnya melajukan menuju rumah.


Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memperhatikan Azmia. 'Semoga kamu selalu bahagia, maaf jika tadi aku sempat membuatmu tidak nyaman, sulit hati ini untuk move on dari kamu, meskipun aku sudah berjanji akan mencintai yang lain, tapi hati ini tak ingin berpaling ke yang lain. Andai boleh memilih dan bertahan aku akan tetap memilih kamu dan bertahan dengan cintaku, meski ku tahu cinta ini tidak akan pernah terbalaskan.'


Sampai di rumah Alby dan Azmia segera membersihkan diri secara bergantian. Sambil menunggu Alby yang masih di ruang ganti Azmia duduk di sofa membuka layar laptopnya mengecek beberapa laporan yang di kirim Nina.


"Sibuk, sekali ada tugas kuliah?" tanya Alby setelah keluar dari ruang ganti Alby menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa. Alby duduk di samping Azmia.


"Tidak, hanya ngecek laporan yang di kirim Nina," jawab Azmia masih fokus dengan layar laptop di depannya.


"Kamu tuh karyawan, tapi seperti bos pemilik cafe sibuk sekali dengan keadaan cafe," ucap Alby.


"Namanya juga asisten bos jadi harus tahu selalu cek keadaan cafe, nanti kalau bada masalah Mia yang di salahkan," balas Azmia.


"Cafe kan milik Abang kamu sendiri," ujar Alby.


"Dalam dunia bisnis tidak ada kata saudara, Mas," balas Azmia.


"Kalau begitu kamu keluar saja dari cafe, terus jadi asisten pribadi Mas gimana?" Alby memberikan penawaran.


"Itu tidak mungkin, Mas. Mas Alby kan tahu keluarga Bang Angga sudah banyak berjasa untuk kehidupan Azmia, hingga Mia bisa seperti sekarang semua berkat keluarga Abang," jelas Azmia kemudian menghentikan aktivitasnya menutup layar laptopnya menatap ke arah Alby. Azmia meraih tangan Alby menggenggam erat tangan Alby. "Mas, bukankah anak tidak boleh lupa terhadap jasa orang tuanya? Meskipun mereka bukan orang tua kandung Mia, tapi kasih sayang mereka tulus untuk Mia, hanya ini yang bisa Mia lakukan untuk membalas kebaikan mereka," jelas Azmia. Dia terpaksa harus berbohong meskipun ucapan itu ada benar juga, tapi dia hanya tidak ingin Alby mengetahui identitas dia sebenarnya. Azmia lebih suka hidup sederhana seperti saat ini apapun pandangan orang tentangnya dia tak peduli karena hidup itu harus terus berjalan.

__ADS_1


"Maakan, Mas," ucap Alby kemudian mencium punggung tangan Azmia.


"Maafkan, Mas karena tidak bisa mengerti keadaan mu. Mas janji tidak akan menyuruh mu berhenti lagi," lanjut Alby.


Azmia tersenyum manis.


"Dik, jangan tersenyum seperti itu," protes Alby.


"Kenapa? Mia kan hanya tersenyum," balas Azmia.


"Senyuman mu menggoda Mas, pengen itu." Alby menyentuh bibirnya.


"Astaghfirullah, Mas." Azmia dengan cepat langsung melepaskan genggaman tangannya kemudian memalingkan wajahnya.


"Halal, Dik tidak dosa kita kan sudah sah suami istri." Alby mengingatkan pada Azmia bahwa apa yang dia inginkan tidaklah berdosa karena melakukannya dengan sang istri, terkecuali jika dia lakukan bersama wanita lain yang bukan muhrimnya, itu sangat-sangat bahaya.


Azmia menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah setan dari mana yang merasuki suaminya dari pagi pikirannya mesum terus, ya meskipun mesumnya dengan istrinya sendiri, tapi itu membuat Azmia heran karena tidak biasanya Alby bersikap seperti itu.


'Selamat,' batin Azmia saat mendengar azan magrib dia langsung bergegas menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Tak ingin jauh dari istrinya Alby mengikuti Azmia dari belakang. Setelah wudhu Azmia dan Alby sholat Maghrib berjamaah.


Selesai sholat Alby dan Azmia bersiap-siap untuk pergi makan malam bersama Bunda dan Ayah.


"Sayang, ayo!" Alby yang sudah rapi, siap untuk berangkat.


"Mbok Asih sudah siap?" tanya Azmia setelah sampai di lantai satu, ternyata Mbok Asih sudah berada di ruang tamu.


"Sudah, Non," jawab Mbok Asih.


"Baiklah, ayo!" Azmia mengajak Mbok Asih keluar rumah.


"Mobilnya sudah di panasin, Mang?" tanya Alby pada satpam rumahnya yang tak lain adalah suami Mbok Asih.


"Sudah, Den," jawab Mang Udin.


"Lho, Den biar saya saja yang bawa mobilnya," ucap Mang Udin.


"Tidak perlu, Mang, biar Alby saja yang bawa. Mang Udin dan Mbok Asih duduk saja!" Alby membukakan pintu belakang untuk Mang Udin. "Terima kasih, Den," ucap Mang Udin kemudian masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang sopir. Sedangkan Azmia duduk depan di samping Alby.


"Kenapa, Den Alby yang nyopir bukan bapak?" tanya Mbok Asih pada suaminya.


"Si Aden nggak ngebolehin, Bu," jawab Mang Udin.


"Tidak apa, Mbok. Sesekali biar Alby yang nyupirin kalian," sahut Alby.

__ADS_1


"Namun, kita merasa tidak sopan," ujar Mbok Asih.


"Tak apa, Mbok. Kita sudah menganggap Mbok Asih dan Memang keluarga kami sudah sepantasnya seperti ini Mas Alby kan lebih muda," balas Azmia. Art tidak harus selalu di bawa, adakalanya kita sebagai majikan memberikan kesempatan pada art untuk merasakan seperti majikan.


"Terima kasih ya, Non. Si Mbok senang sekali sangat-sangat bersyukur karena Allah mempertemukan si Mbok dengan Non Mia yang cantik, baik pula," ucap Mbok Asih.


"Sama-sama, Mbok," balas Azmia.


Semua orang juga pasti akan betah jika memiliki majikan seperti Azmia, kecantikan bukan hanya tampangnya saja, tapi dia juga memiliki hati yang sangat luar biasa baiknya.


Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan.


Setelah memarkirkan mobil. Alby, Azmia, Mbok Asih serta Mang Udin mereka berjalanasuk ke dalam restoran. Alby menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ayah dan Bundanya.


"Sini, Al," ucap Ayah Wisnu sambil melambaikan tangannya.


Alby mengangguk kemudian berjalan menuju meja sang Ayah yang lain mengikuti langkah Alby dari belakang.


"Assalamualaikum," ucap Azmia sambil menyalami mertuanya.


"Wa'alaikumussalam," balas Bunda.


"Duduk sini, sayang." Bunda menepuk bangku kosong sebelahnya.


Azmia mengangguk kemudian duduk di samping Bunda.


"Ayo, Mbok, Mang duduk!" Bunda mempersilakan Mbok Asih dan Mang Udin.


"Terima kasih, Nyonya," balas Mbok Asih kemudian duduk di samping Lasmi art yang berada di rumah Bunda.


"Bagaimana kabarmu, sayang?" tanya Bunda


"Alhamdulillah, baik Bun. Ayah dan Bunda gimana sehatkan?"


"Alhamdulillah kami juga sehat, Nak," jawab Bunda dan Ayah bersamaan.


"Mba," panggil Alby pada salah satu karyawan restoran.


Karyawan tersebut menghampiri meja Alby. Alby memberikan kertas pesanan pada karyawan tersebut.


"Baik, Pak, tunggu sebentar!" Setelah mengambil kertas pesanan yang di berikan Alby kemudian dia berjalan menuju dapur.


Sambil menunggu pesawat datang mereka ngobrol bareng tidak ada perbedaan antara majikan dan art mereka membaur duduk bersampingan berbincang bersama.

__ADS_1


__ADS_2